
Singgih narpati tertawa terbahak-bahak
"hah..hah..hah..hah adik Panji-adik Panji kau itu terlalu lugu, namun jika kau bisa menemui sang pencipta alam semesta ini
kau pasti akan mendapatkan jawaban nya"
"ah kakang aku pikir benar padahal aku sungguh-sungguh mendengarkan mu, mana ada segelintir manusia bisa menemui sang penciptanya apalagi manusia itu macam diriku" Panji gara agak cemberut kesal
"makanya jadi orang itu jangan suka berlebihan bertanya yang tidak masuk akal
kita ini sebagai manusia biasa hanya diwajibkan menjalankannya saja
mensyukuri nikmat-NYA, menerima anugrah NYA, berbesar jiwa dalam ujian-NYA dan menjauhi larangan-NYA bukan untuk mempertanyakan takdir-NYA"
Singgih narpati memberi nasihat dengan panjang lebar
"Wwiiihhhh hebat kakang, kakang hebat sekali setelah setahun kita tidak bertemu rupanya sekarang kakang telah menjadi ulama besar, jadi selama ini kakang menimba ilmu agama di pondok pesantren? siapa yang menjadi guru kakang apakah Sunan Kalijaga ataukah Sunan gunung jati? atau bahkan semuanya Wali songo yang menjadi guru kakang Singgih hingga kakang menjadi sehebat ini"
Panji gara berdecak kagum tangannya tidak henti-hentinya menepuk-nepuk bahu kakang nya
Singgih narpati hanya dapat menggaruk-garuk kepalanya saja padahal tidak terasa gatal, disaat Singgih narpati kehabisan kata-kata untuk menjawab lagi tiba-tiba Panji gara mendengus
"kakang apa kakang mencium bau sesuatu?"
Singgih narpati mencoba mendenguskan hidungnya "tidak adik Panji aku tidak mencium bau apapun, memangnya kau mencium bau apa?" tanya Singgih
"aku bau sesuatu rasa-rasanya aku mengenal bau busuk yang sangat menyengat hidung, ayo kakang kita lihat keluar" Panji gara melangkah ke luar diikuti Singgih narpati tangan Panji meraih batu kerikil sebesar ibu jari, dengan jari telunjuk di jentikannya batu kerikil itu ke arah batang sebuah pohon yang agak lumayan tinggi dari pohon-pohon lainnya yang tumbuh di bibir tebing di tepi halaman pondok
bagaikan di terpa angin topan pohon itu meliuk-liuk bukan hanya daun nya saja tetapi juga batangnya pun meliuk-liuk dengan kencang, sosok tubuh melayang melompat turun dengan napas yang tersengal-sengal bibirnya menggerutu
"tega sekali kau adik Panji hampir saja aku dibuatnya celaka" melihat siapa yang baru muncul turun dari atas pohon Singgih narpati berteriak senang
"adik Sura rupanya dirimu aku pikir siapa hampir saja aku menyerang mu tadi, dari sejak kapan kau berada diatas pohon?
adik Sura bagaimana kabarmu?"
Singgih narpati merangkul bahu yang ternyata Naga Sura murid ke empat guru Purba Kesha
__ADS_1
"senang bertemu dengan mu kakang, seperti yang kau lihat kabar ku baik-baik saja, dan sebaliknya kabarmu kakang Singgih?"
"keberadaan ku saat ini seperti yang kau lihat sendiri" Singgih narpati merentangkan kedua tangannya
merasa tidak di abaikan Panji gara agak sedikit menyindir
"rupanya kalian sudah saling mengenal kakang Singgih, mengapa tak kau perkenalkan aku pada tamu kita ini?"
mendengar ucapan Panji gara Naga Sura menoleh sambil menjawab
"ternyata kau ada disini juga adik Panji
mengapa kau hampir mencelakai aku?" Naga Sura merangkul adik seperguruannya itu yang di kenalnya sejak bertahun-tahun selalu usil
"salah mu sendiri kakang mengapa kau bersembunyi di atas pohon" baik Panji gara atau Singgih narpati ataupun saudara-saudara seperguruannya yang lain sudah sangat hapal akan watak Naga Sura yang selalu mewaspadai sekitar tempat yang di singgahi nya tetapi mulut usil Panji gara selalu terasa gatal hingga diapun mengungkapkan ke usilannya
"makanya kakang jadi orang itu yang normal-normal saja seperti kami ini, tidak harus di hantui ke curigaan dan selalu meningkatkan kewaspadaan dimana saja berada"
"seperti yang kalian tau aku hanya menjaga segala kemungkinan yang tidak di duga"
"kakang katakan, menjaga kemungkinan apakah dengan bersembunyi di atas pohon kemungkinan itu tidak ada? asal kakang tahu di atas pohon pun kemungkinan itu bisa terjadi seperti halnya di ganggu jin, ruh jahat atau bahkan arwah gentayangan"
"kalian ini baru bertemu setelah sekian lama berpisah apakah kalian tidak saling merindukan?"
"inilah cara kami saling melepas rindu kakang" jawab Panji cepat
"sudah-sudah sebaiknya kita masuk ke pondok, adik Sura ayo kita masuk ada sesuatu yang ingin ku beritahukan padamu" Singgih narpati menggamit tangan Naga Sura seraya menariknya masuk kedalam pondok, Panji gara mengikutinya dari belakang yang masih mulut komat Kamit
setelah mereka duduk di atas bale Naga Sura kembali menegur adiknya
"apakah kau belum selesai membaca mantra nya adik Panji?"
"sebetulnya belum kakang hanya saja aku rasa didalam pondok tidak harus meramalkan mantra-mantra"
mendengar ucapan Panji gara Naga Sura meras terpancing
"baru saja kau mengatakan dimana saja kemungkinan bisa terjadi"
__ADS_1
"aku bilang cukup mengapa kalian tidak henti-hentinya beradu mulut?" Singgih narpati agak kesal di buatnya
"kakang Naga sura yang memulainya aku tadi sudah hendak diam"
"aku hanya mengatakan fakta yang di ucapkan adik Panji tadi kakang Singgih" Naga Sura membela diri
"mengapa kau selalu mengungkit yang sudah lalu kakang Sura" Panji gara membantah
"baik jika itu yang kalian inginkan" Singgih narpati berdiri
"mau kemana kakang?" tanya Panji gara cepat
"jika kalian masih ingin berdebat biar aku pergi saja" jawab Singgih narpati
"oyah kakang bukannya kakang hendak memberi tahu aku sesuatu? katakan apa itu kakang" Naga Sura meraih tangan Kaka seperguruannya agar duduk kembali
"baik tapi kalian harus janji tidak akan berdebat lagi"
Panji gara hanya tersenyum miris mendengar pengajuan kakang nya
"coba kau tebak adik Sura kemarin siang aku dan adik Panji bertemu dengan siapa?
"bertemu siapa hahahaha" Naga Sura balik bertanya
"pendekar pedang Dewa Naga hitam" jawab Singgih penuh semangat
"lalu apa urusannya denganku kakang?"
"dengar adik Sura ternyata pendekar pedang Dewa Naga hitam itu adik seperguruan kita, kau pasti tidak percaya mendengarnya adik Sura"
"tunggu dulu kakang jangan mudah percaya begitu saja siapa tau dia hanya mengaku-ngaku saja agar kita lengah, mungkin saja dia memiliki tujuan tertentu pada kita"
"percuma kakang menjelaskan pada orang yang selalu saja curiga, meskipun pada orang yang belum di kenalnya" Panji gara menyindir
"bukan itu maksudku adik Panji aku hanya tidak ingin terjadi sesuatu pada kalian" Naga Sura menjelaskan
"sudah-sudah jangan mulai lagi" Singgih narpati menyela "aku belum menjelaskan yang sesungguhnya, semula aku pun tidak menyangka aku melihat pendekar pedang Dewa Naga hitam tengah bertarung dengan manusia-manusia yang haus kekuasaan"
__ADS_1
BERSAMBUNG