
"Dan ternyata adik Panji pun berada di sana saat itu pun aku tidak mengerti mengapa adik Panji membantu pendekar Naga hitam, yang lebih membuatku terkejut adik Panji dan pendekar itu membangun pormasi perguruan kita ajian gelombang nirwana untuk mengimbangi pormasi ajian lawan badai menghantam buana padahal mereka hanya berdua namun ku lihat pormasi pendekar pedang Dewa Naga hitam sesempurna bangun pormasi kita, saat itu aku kebetulan lewat adik Panji dan pendekar pedang Dewa Naga hitam menjadikan pedangnya sebagai gelombang nirwana, dan aku tiba pada saat yang tepat aku terpanggil untuk melengkapi bangunan pormasi gelombang nirwana, setelah pertarungan selesai kami pun berbincang-bincang lama saling mperkenalkan diri
namanya Mayang suri murid terakhir Resi guru Purba kesha setelah kita turun gunung dan sebelumnya hampir lima tahun Mayang suri diangkat murid oleh Biung Ratu di hutan gurang-rang, jagat persilatan menjuluki adik Mayang suri pendekar pedang Dewa Naga hitam, itu karena adik Mayang memiliki pedang pusaka itu yang konon menurut cerita pedang itu dulu sempat menggegerkan dunia persilatan dan hingga saat inipun masih tetap sama, aku memang belum sempat mendengar cerita asal-usul adik Mayang suri hingga berada di tangan Biung Ratu" dengan panjang lebar Singgih narpati menjelaskan mengenai jati diri pendekar pedang Dewa Naga hitam
Naga Sura manggut-manggut rupanya diapun mulai percaya pada apa yang di ceritakan oleh Kaka seperguruannya
"tapi kakang mengapa dia tidak ikut serta dengan kalian ke tempat ini untuk memenuhi panggilan Kaka ketua?"
"itulah adik Sura kami sempat mengajak tetapi dia masih punya urusan yang harus di selesaikan namun dia berjanji jika dalam satu hari dia tidak menemukan buruannya maka dia akan segera menyusul ke tempat ini" papar Singgih narpati lagi
"oh... begitu ya ceritanya aku cukup memaklumi nya kakang, sebagai seorang pendekar yang punya nama dia pasti punya banyak urusan,
oh ya kakang mengapa kakang ketua belum tiba juga apa mungkin ada hambatan di perjalanannya? tidak biasanya beliau terlambat datang"
"entahlah adik Sura, mungkin kakang ketua menunggu kakang Giri terlebih dulu agar mereka bersama-sama menuju ke tempat ini"
memang sudah cukup lama juga mereka menunggu kedatangan ketuanya hingga Panji gara merasa bosan
__ADS_1
"kakang bagaimana jika sambil menunggu kakang Wisnu dan kakang Giri aku nyalakan tungku memanaskan air untuk membuat wedang jahe?"
"itu usulan yang sangat baik adik Panji, tetapi dimana kita dapatkan bahan-bahan untuk membuat wedang jahe?" Singgih narpati menyetujui usulan Panji gara
"jangan khawatir kakang kemampuan aku melangkah aku selalu membawa bahan minuman kesukaan kita" Panji gara turun dari bale melangkah ke arah tungku lalu menyalakan perapian untuk mengisi waktu menunggu kedatangan pendekar Samber nyawa sebagai ketua mereka
"terimakasih adik Panji dari dulu hingga sekarang kau memang selalu dapat diandalkan" Naga Sura menimpali
tidak lama kemudian disaat mereka tengah bercengkerama dari luar terdengar derap langkah kaki sepertinya yang datang tidak hanya sendiri, dari luar terdengar suara ketukan pintu pondok seraya mengucapkan salam
"Assalamualaikum" dari dalam menjawab berbarengan
"apa kabar kalian semua adik-adik ku? maaf jika kalian lama menunggu kedatangan ku ada sedikit masalah di perjalanan, mana Panji gara?" sang ketua menanyakan adik bungsunya yang tidak terlihat disitu
"aku disini kakang" Panji gara menjawab dengan lantang "maaf kakang jika aku terlambat menyambutmu aku barusaja mememarkan jahe untuk membuat wedang, kebetulan kakang datang jadi kita bisa menghirup wedang jahe panas bersama-sama"
Panji gara menyongsong kedatangan kakang ketuanya
__ADS_1
"maaf kakang kami pikir kakang datang bersama kakang Giri, dimana dia sekarang mengapa tidak bersama-sama kakang? lalu siapa pemuda ini?" Singgih narpati menanyakan perihal Sidra giri yang belum juga tiba matanya melirik kearah pemuda yang tidak di kenalnya yang datang bersama kakang Wisnu Abi Rawa
"oh...iya hampir aku lupa Sidra giri mungkin masih di perjalanan tadi malam sempat memberitahuku dia datang agak terlambat, dan pemuda ini namanya Darma Sena nanti aku ceritakan bagaimana pertemuan ku dengannya" kakang Wisnu Abi Rawa duduk diatas bale semua mengikutinya tidak lama kemudian Panji gara pun menyuguhkan wedang jahe panas
"silahkan tuan-tuan wedang jahe ala Panji gara ternikmat di dunia di minum selagi panas" sambil bibirnya berceloteh tangan Panji gara menyodorkan gelas bambu berisi wedang jahe panas satu persatu
"ada apa sebenarnya kakang apa yang hendak kakang bicarakan? apakah ada sesuatu hal yang sangat penting hingga kakang meminta kami berkumpul disini?" tanya Singgih mewakili kedua adiknya
"kakang mu Sidra giri belum tiba jadi ada baiknya kita menunggunya terlebih dulu, memang ada hal yang sangat penting yang ingin aku bicarakan dengan kalian, sambil menunggu Giri ada baiknya ku ceritakan dulu mengenai Darma Sena, aku bertemu dengannya di perjalanan tadi sedang di keroyok oleh komplotan perampok, terkadang aku tidak mengerti mengapa perampok-perampok dengan bebasnya berkeliaran dimana-mana tidak mengenal iba siapa saja menjadi mangsa mereka, Darma Sena perkenalan ini adik-adik seperguruanku yang ini namanya Singgih narpati, yang ini Naga Sura dan yang paling cilik ini Panji gara, kami semua sama-sama punya masalah dan sama-sama punya tujuan jadi jangan sungkan menceritakan masalahmu pada kami agar mereka ini tau apa yang telah terjadi pada dirimu"
pemuda yang bernama Darma Sena mengangguk hormat
"terimakasih kakang atas kesediaan kakang menerima saya, sebelumnya saya minta maaf jika keberadaan saya merepotkan kakang semua"
"tidak Darma Sena kami sama sekali tidak di repotkan atau menganggap dirimu menjadi penghalang, sekarang coba ceritakan apa yang sebenarnya terjadi padamu?"
"baik kakang terimakasih, nama saya Darma Sena saya tinggal di sebuah desa" Darma Sena memulai ceritanya
__ADS_1
"ayah saya seorang kiyai haji didesa kami saat itu belum ada bangunan yang layak untuk melaksanakan ibadah, saya dan juga ayah saya berusaha semampu kami untuk membangun pondok pesantren lengkap dengan bangunan mesjid nya agar warga setempat dapat melaksanakan ibadah dengan tenang, memang sederhana namun layak di pergunakan dari waktu ke waktu hampir setiap hari saya berkeliling mendatangi pesantren-pesantren ternama dan juga yayasan untuk meminta bantuan, selain untuk membangun mesjid yang lebih bagus juga membangun sekolah, usaha saya tidak sia-sia beberapa pondok pesantren mengulurkan tangan hingga impian saya dan ayah saya dapat terwujudkan hingga warga masyarakat di kampung saya tidak lagi berpindah ke desa lain untuk mengecap pendidikan dasar baik itu dalam ilmu agama atau ilmu pengetahuan"
BERSAMBUNG