
"Namanya Darma Sena aku bertemu dengannya di perjalanan dan kebetulan diapun memiliki tujuan yang sama, adik-adikku beberapa waktu yang lalu Biung Ratu dari hutan gurang-rang menitipkan surat untuk ku itu sebuah perintah, setelah aku menanyakan hal yang sesungguhnya pada Resi guru Purba kesha dan ternyata benar ada tugas yang harus kita laksanakan secepatnya, kurang lebih tiga bulan yang lalu Biung Ratu kedatangan tamu empat pendekar berdarah biru, kita semua memang tidak mengenalnya bahkan kita tidak pernah bertemu sebelumnya
hanya adik Segoro lah yang pernah berjumpa dengan mereka dan mengenai adik Segoro perlu kalian ketahui dialah murid Biung Ratu yang nama lengkapnya Nirwana Wadon Segoro"
"maaf kakang apa aku boleh bertanya?" Panji gara mengangkat tangan
"tentu Panji apa yang ingin kau tanyakan?"
"begini kakang, kakang baru saja mengatakan bahwa murid Biung Ratu bernama Nirwana Wadon Segoro, dua hari yang lalu aku dan kakang Singgih bertemu pula dengan murid Biung Ratu lalu kemudian menjadi muridnya Resi guru Purba kesha tetapi namanya Mayang suri, pertanyaan ku ada berapa orang sesungguhnya murid dari Biung Ratu itu?"
Wisnu Abi Rawa mengerutkan keningnya
diapun bertanya pada Singgih narpati
"adik Singgih apa benar apa yang di katakan adik Panji?"
"benar kakang namanya Mayang suri dan tentunya kakang akan terkejut jika mendengar julukannya yang bar-baru ini menggemparkan jagat persilatan"
Wisnu Abi Rawa hanya tersenyum mendengar ucapan Singgih narpati
"aku sama sekali tidak terkejut adik Singgih
karena yang kau maksudkan pendekar pedang Dewa Naga hitam bukan?"
"bagaimana kakang bisa mengetahuinya?" kini Panji gara yang merasa heran
"karena yang kutemui di gunung kapur saat itu orang yang sama, Nirwana Wadon Segoro atau pendekar pedang Dewa Naga hitam atau mungkin yang kalian sebut tadi Mayang suri aku rasa orangnya itu-itu juga"
__ADS_1
sang pendekar Samber nyawa penuh keyakinan
"jadi maksud kakang satu orang memiliki dua nama dan satu julukan?"
"benar adik Panji" jawab sang ketua singkat
"tapi kakang yang aku tidak mengerti dia harus memperkenalkan dirinya dengan nama yang berbeda pada kakang dan juga pada kakang Singgih dan adik Panji" kini Naga Sura ikut buka suara
sementara Sidra giri hanya diam dan mendengarkan saja
"entahlah adik sura sepertinya dia punya alasan tertentu, untuk itu suatu saat nanti aku yakin kita semua akan mengetahuinya
sekarang kita lanjutkan pembicaraan semula mengenai masalah yang sedang melanda kerajaan Cipamanahan yang mana kerajaan itu milik ayah handa empat pendekar berdarah biru yang kini tengah berada dalam genggaman manusia serakah bernama Wulung Sabak serta sekutu-sekutunya, dan mengenai kedatangan empat pendekar itu ke hutan gurang-rang untuk meminta bantuan pada Biung Ratu dan juga Resi guru Purba kesha
kepergian mereka ke hutan gurang-rang pun atas permintaan pendekar pedang Dewa Naga hitam yang kebetulan mereka bertemu di gunung hantu saat berburu pedang pusaka pemburu iblis, Biung Ratu dan juga Resi guru memerintahkan kita sebagai murid-muridnya untuk melepaskan istana kerajaan Cipamanahan dan juga sang Prabu Wira Nanta serta Permaisuri nya yang berada dalam tahanan Wulung Sabak, tugas kita membebaskan mereka" sang ketua menjelaskan tujuan mengapa mereka berkumpul di tempat itu
pendekar samber nyawa tertawa mendengar celotehan adiknya itu
"Hah..hah..hah.. seumpama Resi guru menyuruh ku untuk mengangkat harta Karun tentunya aku tidak akan memberi tahumu adik Panji" seloroh sang ketua bergurau
"nah-nah sekarang baru ketahuan isi sesungguhnya dari kakang ku yang paling segala-galanya ini ternyata ada juga niat curang padaku"
mendengar ucapan Panji gara semua bergelak tawa, begitulah adanya murid-murid perguruan singgaru selalu berbagi suka dan duka, diam-diam dalam hati Darma Sena mengagumi lima pendekar bersaudara ini
"maaf kakang jika saya lancang, lalu bagaimana dengan saya? apakah kakang-kakang semua bersedia mengajak saya ikut serta dalam pembebasan istana Cipamanahan? sedangkan kakang tau orang-orang buruan saya pun berada disana" Darma Sena merasa takut tidak di ikut sertakan dalam penyerangan itu
"jangan khawatir Sena" Panji gara menepuk-nepuk bahu Sena
__ADS_1
"ada kakang Panji disini kau pandanglah wajahku tataplah mataku kau akan menemukan ketulusan dan kebaikan hati yang sungguh-sungguh"
Darma Sena menuruti saja pada apa yang dikatakan Panji gara, Naga Sura yang selalu terpancing dengan apa yang di katakan Panji gara, Naga Sura meraih kepala Darma Sena dan memalingkan nya ke arah yang lain
"jangan kau dengarkan dia Sena dia memang selalu begitu selalu ingin nampak lebih sempurna"
Panji gara hendak menjawab namun segera di dahului oleh sang ketua karena jika tidak mereka berdua akan terus beradu mulut
"sudah-sudah kalian tidak perlu berdebat
dengar Darma Sena aku sudah mengajakmu kesini memperkenalkan mu dengan adik-adik ku dan tidak mungkin kami meninggalkan mu begitu saja, sekarang kita susun rencana sebaik mungkin ini peta lokasi istana kerajaan Cipamanahan yang di berikan oleh empat pendekar berdarah biru pada adik Segoro yang lantas di berikan nya padaku"
sang ketua mengeluarkan gulungan kulit menjangan serta membukanya dengan penerangan cahaya lentera mereka mempelajari peta lokasi itu serta menyusun rencana sematang mungkin untuk melaksanakan penyerangan kesana
"ada satu hal yang harus kalian ketahui adik-adik ku menurut keterangan adik Segoro, Wulung Sabak bukan hanya di bantu oleh pendekar-pendekar pilihan saja yang bersekutu dengan nya dia juga di bantu oleh kekuatan dari bangsa jin, jadi kita harus bertindak dengan hati-hati
semoga yang maha kuasa akan melindungi kita semua"
"jadi kapan kakang kita melaksanakan penyerangan ini?" tanya Singgih narpati
"lebih cepat lebih baik karena untuk saat ini kita sama-sama tidak punya tujuan yang pasti, jadi untuk itu kita segera laksanakan perintah dari guru kita" sang ketua mengerutkan kening gelapnya malam tidak dapat mengelabui pandangan matanya yang tajam
"sebentar adik-adik ku, rupanya kita kedatangan tamu tak diundang aku khawatir kedatangannya kesini membawa tujuan yang tidak baik, dan aku khawatir dia telah menguping rencana kita"
semua memandang pada sang ketua yang meraih ranting pohon sebesar ibu jari yang tergeletak tidak jauh dari tempatnya duduk dengan cekatan tangan sang ketua melempar ranting itu pada rumpun semak-semak yang menurutnya Sese bersembunyi disana
benar saja sosok bayangan hitam berkelebat dengan cepat meninggalkan semak-semak itu, sang ketua berdiri hendak mengejarnya namun Sidra giri menahannya
__ADS_1
BERSAMBUNG