
Semua sepakat dengan keputusan Wisnu Abi Rawa dan segera meninggalkan tempat itu. sekitar tiga kilo meter dari istana nareh terdapat sebuah bukit menurut cerita orang-orang sekitar bukit itu menyeramkan belum lagi namanya yang cukup mengerikan. bukit arwah nama dari bukit itu
tapi bagi kakang Wisnu bukit itu tempat yang cukup aman untuk mereka karna bukit itu jarang sekali terjamah orang
Panji gara merasa kesal karna melintasi jalan tanjakan menuju puncak bukit dia harus menyeret putra mahkota
"maaf kakang Wisnu apakah selain aku tidak ada lagi orang yang sanggup menyeret keledai ini? mengapa tidak kakang Naga sura misalnya!!" wajah Panji gara yang bersimbah peluh terlihat agak cemberut
Naga Sura yang merasa tersinggung pun segera menjawab
"ooohhhh jadi kau keberatan menjalankan tugas dari kakang ketua adik Panji?"
"aku tidak keberatan kakang Sura hanya saja mengapa kita tidak berbagi beban?"
"sudah-sudah kalian tidak perlu bertengkar biar aku saja yang membawa putra mahkota itu. lagipula puncak bukit sudah tidak jauh hanya tinggal beberapa langkah lagi"
"oohh tidak-tidak kakang Satria biar keledai ini tetap bersama ku. aku bicara bicara seperti itu tadi hanya ingin mengetahui apakah ada seseorang yang peduli kepada ku"
sepertinya Satria mengerti akan kalimat sindiran yang keluar dari mulut usil Panji gara. pendekar sakti itupun hanya mengulung senyum
mereka pun telah sampai di puncak bukit lalu mengambil tempat duduk masing-masing suasana masih gelap karna hari baru menjelang subuh. sebagai sang ketua kakang Wisnu Abi Rawa mengawali pembicaraan
__ADS_1
"Satria dan juga kau adik Segoro coba kalian ceritakan apa yang sebenarnya terjadi di kerajaan lingga buana agar kita semua dapat memastikan serta mengatur rencana se matang-matangnya"
"terimakasih kakang telah memberi kesempatan padaku untuk menjelaskan semua nya. sebelumnya saya minta maaf karna belum sempat memperkenalkan diri
namaku Satria Abimanyu darimana aku berasal itu tidak terlalu penting karena aku tidak punya tempat tinggal yang tetap. aku mengenal Mayang suri sejak setahun yang lalu dan kami bertemu di perjalanan. beberapa hari yang lalu aku menemukan Mayang suri di atas bukit di desa Sindang sugih tempat dimana kakang wisnu. kakang Giri. dan Paman panglima menyatroni rumah kediaman Demang karja
kami sama-sama menuju desa ci Tamiang desa yang bersebrangan dengan desa Sindang sugih. di sebuah kedai kami bertemu dengan remaja-remaja dan kami berkenalan. dari pembicaraan mereka aku mendengar salah satu dari pemuda itu menyebut-nyebut nama pendekar pedang Dewa Naga hitam lalu ku tanya pemuda itu apa tujuan mereka mecari pendekar pedang Dewa Naga hitam. dan pemuda bernama Sanjaya dia putra hulu balang Diwangkara petinggi kerajaan lingga buana"
"tunggu kakang Satria maaf aku memotong pembicaraan mu. barusan kakang Satria menyebut hulu balang Diwangkara apakah beliau yang tinggal di ujung desa ci Tamiang?"
"benar kakang Sura apakah kakang Sura mengenalnya?" kali ini Mayang suri atau Wadon Segoro yang menjawab
"jika hulu balang itu yang kalian katakan benar kakang mengenalnya Mayang. lalu apakah kalian sudah berjumpa dengan hulu balang Diwangkara?" tanya Naga Sura memastikan. sementara yang lain hanya menyimak pembicaraan mereka dengan sungguh-sungguh
hanya saja kami belum bisa berjumpa dengan Gusti Prabu Nara Wenda karna Mayang suri ingin menyusul kakang Wisnu dan yang lainnya ke istana nareh. lalu bagaimana ceritanya kakang Naga sura bisa mengenal hulu balang Diwangkara?"
Satria mengakhiri ceritanya serta ingin tau cerita Naga Sura
"seperti halnya pada kalian hulu balang Diwangkara pun meminta bantuan ku
saat itu kami berjumpa di perjalanan dan Paman Diwangkara di cegat segerombolan perampok aku berusaha membantunya untuk menghalau perampok-perampok itu
__ADS_1
setelah mereka kabur Paman Diwangkara tidak hanya mengucapkan terimakasih saja
beliau mengajak ku ke rumahnya dengan alasan ingin menjamu ku selain karna aku telah menyelamatkannya beliau juga mengatakan bahwa aku tamu kehormatan. Paman Diwangkara banyak bercerita mengenai apa yang terjadi di istana lingga buana. aku tidak bisa mengambil keputusan karna dari cerita Paman Diwangkara aku dapat menyimpulkan kalau Prabu Hindun Rancasan memiliki kekuatan yang sangat tinggi. beberapa kerajaan di Jawa dlipa dan juga di tanah Pasundan telah ditaklukkan nya dengan mudah dan salah satunya lingga buana yang masih dalam ancaman. untuk sementara waktu Paman Diwangkara dan juga Paman Senopati Arda Winangun memintaku untuk melindungi dukuh Pakuan dusun yang berada di ujung timur tepatnya perbatasan kerajaan gelang-gelang. dukuh itu paling terancam selain paling dekat dukuh Pakuan timur paling subur sehingga hampir setiap Minggu prajurit-prajurit gelang-gelang meminta upeti pada penduduk secara paksa. aku pun menyanggupinya selain aku tidak bisa membiarkan kesewenang-wenangan aku juga ingin tau sejauh mana kekuatan Prabu Hindun Rancasan. selama tiga bulan aku disana aku menyelidiki secara diam-diam dan aku sudah banyak menemukan kejelasan Prabu Hindun Rancasan memang sangat sakti tubuhnya kebal dengan segala senjata. selain itu juga dia memiliki Patih yang sakti pula Braja Gonta serta dua panglima yang sangat tangguh Sara dipa dan Salaka dompa belum lagi kekuatan yang lainnya. mengenai kerajaan nareh bekerja sama dengan gelang-gelang padahal aku yakin Hindun Rancasan mencari kekuatan bantuan dan salah satunya nareh dan si keledai itu dia putra mahkota namanya Panji Rancasan di tuaskan oleh ayahnya untuk mengawasi Prabu Ganda lawean
dan satu hal lagi kakang aku pernah melakukan tafakur dan wangsit yang ku dapat ternyata Hindun Rancasan itu titisan Rahwana. pada saat kakang Wisnu memanggil ku sebetulnya aku pun punya niat untuk mencari kakang itulah yang ku ketahui selama ini mengenai prahara yang akan terjadi di lingga buana"
Naga Sura menutup ceritanya
"begitulah kakang seperti yang kakang Sura ceritakan seperti itu juga yang aku dan Satria dengar" Mayang suri menyambung untuk lebih memperjelas
"lalu bagaimana menurut kalian setelah mendengar cerita yang sesungguhnya?" Wisnu Abi Rawa bertanya pada adik-adik seperguruannya
"maaf Raden" Danda sokana yang sejak tadi hanya mendengarkan ikut nimbrung dalam pembicaraan
"kalau menurut Paman sebagai orang tua
jelas Gusti Prabu Nara Wenda membutuhkan bantuan kalian semua karna mendengar dari cerita pendekar satria. pendekar Naga Sura dan juga pendekar pedang Dewa Naga hitam itu samasekali tidak mengada-ngada apalagi merekayasa cerita hanya untuk memanfaatkan kalian. tetapi semua itu tergantung kalian dan Raden Wisnu lah yang dapat memutuskan nya"
"aku setuju dengan Paman Danda sokana, kakang Wisnu lah yang dapat mengambil keputusan kami semua hanya mengikuti apapun keputusan kakang Wisnu"
BERSAMBUNG
__ADS_1
dukung terus author nya ya biar tambah semangat