
Oyah dari ulama Syaid Umar Al-hasim dia segera memberitahukan pula terhadap kiyai Abbas Hanafi calon besan ulama Syaid atas peristiwa yang menimpa keluarganya sudah hampir tiga hari dari peristiwa itu namun mereka belum juga menemukan titik terang mengenai keberadaan Sekar Kemala, Syaid Umar pun nyaris putus asa apalagi istrinya tidak henti-hentinya mengeluarkan air mata pikirannya tambah kacau
berulang kali beliau bertanya pada Rama nya adakah orang-orang yang menaruh dendam dengan mereka dan jawabannya hanya gelengan kepala saja
sepekan sudah padepokan tapak suci nampak sunyi di balut kesedihan dan Lara seisi padepokan hingga akhirnya ulama Syaid memutuskan untuk mencarinya sendiri tanpa bantuan siapapun apapun yang akan terjadi beliau bertekad akan dihadapinya sendirian yang penting baginya dapat menemukan Putri semata wayangnya
namun ketiga santri pilihannya Kholiq, Amir, dan Fajar berusaha keras meminta ijin untuk menemaninya, melihat kesetiaan pengabdian mereka hati Syaid Umar pun menjadi luluh mereka ber empat pun segera meninggalkan padepokan
sudah hampir tujuh hari tujuh malam pencarian mereka hingga pada satu hari saat mendengar kumandang adzan subuh di suatu tempat bukit yang terbilang curam telinga Amir mendengar rintihan kecil dia pun segera memberitahukan yang lainnya yang masih berada di belakang semua memasang telinga untuk memastikan semakin lama semakin jelas terdengar suara rintihan itu berasal dari bawah tebing
Amir dan Fajar memutuskan untuk turun sambil terus berteriak
"apakah anda orang disana? jika ada jawablah pertanyaan kami"
rintihan itu terdengar lagi seperti meminta pertolongan, Amir dan Fajar pun tidak ragu-ragu lagi mereka pun menerobos semak-semak yang tumbuh di muka tebing meskipun batu-batu yang di pihaknya terasa licin namun mereka terus berjalan hingga ke dasar tebing didapatinya seorang wanita tua renta wajahnya nampak keriput pakaian nya compang-camping rambutnya pun nampak putih semua
Amir meraih bahu wanita itu sambil bertanya "siapa kau? mengapa kau berada didasar tebing, apakah dirimu terpeleset hingga terjatuh?"
wanita itu tidak menjawab hanya air mata yang bercucuran sebagai jawaban dari kepedihannya, dari atas terdengar teriakan Syaid Umar
"apakah kalian sudah menemukannya?
betulkah ada orang dibawah sana, jika ada lekaslah kalian naik"
"benar Ulama ada orang disini dan kami akan segera membawanya naik ke atas
Ulama tolong bantu kami" teriak Fajar menjawab
__ADS_1
Syaid Umar dengan dibantu Kholiq mengulurkan tali ke bawah
Fajar dan Amir pun segera naik dengan membawa wanita tua renta yang tidak dikenalinya itu
setiba diatas tebing di baringkannya wanita itu diatas rumput kering, Syaid Umar memeriksa pergelangan tangannya nadinya masih berdenyut tanda dia masih hidup
"nyai apakah kau masih ingat apa penyebab dirimu terjatuh? dimana rumahmu kami akan segera mengantarmu pulang"
tangan wanita itu memegang erat jari-jari tangan Syaid Umar dengan bersimbah air mata, wanita itu menatap nanar ada getaran aneh di dada Syaid Umar
Kholiq yang sejak tadi memperhatikan pakaian wanita itu seperti mengingatkan pada seseorang
"Ulama coba perhatikan pakaian wanita ini
apakah Ulama mengenalinya? aku seperti mengenalinya"
"benar sekali Ulama" Fajar menjawab
"tetapi jika di perhatikan dengan teliti saya seperti mengenali ciri-ciri dari Ning Sekar"
"apa yang kau lihat Fajar?" jawab Ulama Syaid "Nyai apakah kau mengenaliku?"
kondisi wanita semakin lemah "maaf ulama" Amir ikut menimrung
"apakah Ning Sekar memiliki tanda lahir?"
Amir menatap wajah gurunya
__ADS_1
Syaid Umar mengerutkan keningnya mengingat-ingat lalu menoleh pada wanita itu "Nyai apakah sebelum kau terjatuh ke bawah tebing sempat berjumpa dengan seorang gadis muda berkulit putih bersih berwajah lembut rambutnya terurai sepinggang, dan aku mengenali pakaian yang kau pakai dan mengapa Nyai memakai pakaian Putri ku? jawab pertanyaan ku Nyai" tidak ada jawaban sepatah katapun yang ada hanya tatapan dan rintihan pedih tangan wanita itu meraih tangan Syaid Umar serta di letakkan nya di punggung nya sepertinya wanita itu ingin memberitahukan sesuatu
Syaid Umar dan ketiga muridnya saling berpandangan mereka pun mengangguk setuju, perlahan-lahan dengan hati yang berdebar tangan Syaid Umar menyibakkan rambut putih dan acak-acakan dengan diterangi obor di tangan Kholiq nampak jelas ada sebuah tanda lahir di punggung wanita itu tangan Syaid Umar bergetar tubuhnya berguncang hebat tanpa sadar beliau pun berteriak
"tidak.......tidak mungkin tidak.....tidak mungkin ini Putri ku aku tidak yakin bagaimana mungkin Putri ku bisa menjadi seperti ini"
melihat kejadian itu Fajar pun segera memeluk gurunya sambil menenangkannya
"tenang guru tenangkan dirimu percuma kita berteriak-teriak disini tidak ada yang bisa memberi penjelasan pada kita, sebaiknya kita segera pulang membawa wanita ini hanya uma Hanifah yang dapat memastikan nya"
tidak menunggu jawaban Syaid Umar Kholiq meminta bantuan Amir untuk mengangkat tubuh wanita itu dan membopongnya dengan hati yang tidak karuan dan berbagai pertanyaan berkecamuk dalam pikirannya Syaid Umar pun berusaha berdiri tubuhnya terasa limbung langkahnya terasa gontai dengan berpegangan pada tangan Fajar Syaid Umar pun melangkah mengikuti murid-murid nya
hari menjelang Dzuhur saat mereka tiba di padepokan tapak suci semua murid-murid padepokan bertanya-tanya siapa wanita tua renta yang berada dalam gendongan Kholiq mereka langsung menerobos kedalam didapatinya Uma Hanifah tengah duduk bersimpuh dengan bersimbah air mata Uma Hanifah terperanjat saat Kholiq membaringkan tubuh wanita itu di hadapan nya beliau membuka matanya lebar-lebar menatap pakaian yang di kenakan oleh wanita tua renta itu tangannya bergetar meraih sobekan kain dan menatapnya lekat-lekat bibirnya bergetar suaranya putus-putus dia pun bertanya pada suaminya
"siapa wanita ini Abah mengapa kalian membawanya kesini? apa kalian mengenalinya mengapa wanita ini memakai pakaian Putri ku?" Uma Hanifah menatap suami dan murid-muridnya bergantian untuk meminta jawaban
Syaid Umar meletakkan kepala wanita itu di pangkuan istrinya di perlihatkannya tanda lahir yang terdapat pada punggung wanita itu sudah dapat diduga apa yang terjadi saat Uma Hanifah melihat tanda lahir itu
jeritannya terdengar menggema di seluruh padepokan hingga mengagetkan murid-murid padepokan
"tidak mungkin Abah katakan pada Uma apakah ini Sekar Kemala? apa yang terjadi padanya mengapa dia menjadi seperti ini?"
"Uma yakin bahwa ini Sekar Kemala Putri kita?" Syaid Umar balik bertanya
"Uma yakin Abah karena Uma sangat mengenali tanda lahir itu, siapa yang telah melakukan ini pada anakku
oohhh Gusti Allah mengapa ujianmu begitu berat, Abah Uma tidak terima ini Uma akan mencari orang itu yang telah menjadikan Sekar Kemala seperti ini" itu yang dikatakan Uma Hanifah setelah itu diapun tidak sadarkan diri semua menjadi panik kembali
__ADS_1
BERSAMBUNG