MANTRA HITAM PEMIKAT

MANTRA HITAM PEMIKAT
CH 33 MEMBEBASKAN DUSUN DARI PARA PERAMPOK


__ADS_3

Posisinya sangat terjepit jika dia tetap terdiam maka Sidra giri akan dapat memastikan bahwa dia Mayang suri, dan jika dia buka suara itupun sama saja karena Sidra giri akan sangat mengenali suaranya


menyaksikan hal seperti itu hati Sidra giri semakin yakin bahwa wanita yang dihadapannya kini yang selama ini dia cari


Sidra giri hendak melangkah berniat menghampiri Mayang suri agar lebih dekat


namun tiba-tiba sosok bayangan berjubah putih melompat dari atas batu karang menghampiri mereka mereka seraya berteriak "adik giri rupanya kau disini aku mencarimu ke teluk penyu, ada hal penting yang harus kita bicarakan"


langkah Sidra giri pun tertahan wajahnya menoleh ke arah yang barusaja datang


Mayang suri hanya memperhatikan mereka saja


"kakang Wisnu apakah ada hal yang sangat penting hingga kakang mencariku ke teluk penyu?"


"benar adik giri"


mendengar nama Wisnu pendekar pedang Naga hitam bertanya dalam hati


"apakah dia pendekar samber nyawa muridnya Resi guru Purba kesha dari perguruan singgaru? jika itu benar kebetulan sekali aku bertemu disini jadi aku tidak perlu susah payah mencarinya kemana-mana" pendekar pedang Naga hitam pun mencari kesempatan untuk segera bertanya di tengah pembicaraan mereka


"maaf kakang jika aku lancang tapi aku harus menanyakan sesuatu padamu"


"sungguh satu kehormatan bagi kami karena dapat bertemu dengan pendekar pedang Naga hitam, rupanya pendekar yang kini tengah mengguncangkan jagat persilatan ternyata seorang perempuan,


apa yang ingin Nini pendekar tanyakan saya akan menjawab dengan senang hati" jawab kakang Wisnu


"apakah benar kakang yang berjuluk pendekar samber nyawa murid utama perguruan singgaru dan nama kakang Wisnu Birawa ?"


pendekar samber nyawa tersenyum mendengar pertanyaan itu dalam hatinya merasa agak sedikit aneh tetapi tak urung diapun menjawabnya

__ADS_1


"benar sekali Nini, orang-orang menjuluki ku pendekar samber nyawa dan aku murid singgaru, ada apakah gerangan hingga Nini mencariku?"


"sekali lagi saya minta maaf kakang saya samasekali tidak berniat buruk saya mencari kakang hanya untuk menyerahkan sesuatu, nama saya Nirwana Wadon Segoro saya muridnya Biyung Ratu embok atau Dewi Amba penguasa hutan gurang-rang dan saya diminta untuk menyerahkan ini pada kakang"


pendekar pedang Naga hitam menyerahkan gulungan kulit rusa dan pendekar samber nyawa segera menerimanya


mendengar pendekar wanita itu memperkenalkan diri dengan nama Nirwan Wadon Segoro Sidra giri meras kecewa


mengapa suara pendekar wanita itu begitu mirip dengan suara gadis yang sangat dicintainya, matanya terus menatap wajah di balik cadar hitam itu namun dia tidak berani untuk bertanya


"terimakasih Nini sepertinya selain Resi guru Purba kesha, Biyung Ratu embok pun memberikan tugas pada kami, apakah Nini ikut serta dalam tugas ini?"


"tentunya saja kakang, tapi maaf sepertinya saya tidak bisa bergabung dengan kalian karena saya masih punya urusan lain, kita bertemu di Ci Pamanahan saja nanti, kalau begitu saya permisi kakang"


tanpa menunggu jawaban pendekar pedang Naga hitam pun segera pergi meninggalkan kaki gunung kapur


setelah kepergian pendekar Naga hitam


"adik giri rupanya Biyung Ratu embok menitipkan surat ini untuk meyakinkan kita bahwa kita di berinya tugas untuk membebaskan kerajaan Cipamanahan yang sekarang di kuasai oleh panglima Wulung Sabak, Kita harus segera mencari adik-adik kita yang lain, apakah kau ikut serta denganku mencari mereka?" tanya pendekar samber nyawa pada Sidra giri


"maaf kakang aku masih punya urusan lain yang harus ku selesaikan, kakang pergi saja duluan kita bertemu nanti di gunung kembar setelah kakang menemukan mereka"


"baiklah adik giri jika kau masih punya urusan aku akan segera pergi mencari Panji merang, Naga sura dan Singgih narpati"


"baiklah kakang kita berpisah disini" mereka pun melangkah mengambil jalannya masing-masing


tiba di ujung dusun gunung kapur pendekar pedang Naga hitam disambut oleh seorang peria setengah baya


"selamat datang pendekar saya diutus untuk menjemput pendekar, ketua dusun dan warga lainnya telah menunggu pendekar"

__ADS_1


pendekar pedang Naga hitam hanya mengangguk entah karena apa hatinya terasa gundah hingga bibirnya enggan untuk bicara,. langkah nya gontai memasuki pekarangan rumah yang disana beberapa penduduk dan ketua dusun tengah menanti kedatangannya


saat pendekar pedang Naga hitam muncul kepala dusun berdiri untuk menyambutnya


"selamat datang pendekar silahkan duduk kami semua sudah menunggu pendekar" pendekar Naga hitam duduk di kursi kosong yang sudah di sediakan


"maaf jika membuat kalian menunggu ada sedikit hambatan di perjalanan hingga aku terlambat, jadi apa keputusan kalian untuk mengatasi perampok-perampok itu?" tanya pendekar pada penduduk


"begini pendekar" kepala dusun angkat bicara


"kami semua sudah sepakat dan kami siap untuk membayar pendekar, apakah pendekar Sudi membantu kami? berapapun bayaran yang pendekar minta akan kami sediakan yang penting bagi kami bisa terlepas dari gangguan perampok-perampok itu yang selalu menjarah kampung kami setiap malam"


mendengar penuturan kepala dusun pendekar pedang Naga hitam hanya tersenyum simpuh


"maafkan aku kepala dusun dan semua warga yang hadir disini, aku bukanlah pendekar bayaran jadi aku tidak bersedia kalian bayar tetapi jika hanya sekedar membantu semampuku aku akan berusaha membantu kesulitan kaian, aku hanya orang biasa dan bukanlah seorang pendekar yang di gembar-gemborkan banyak orang, jadi untuk itu aku juga butuh bantuan kalian, nanti selepas magrib kita berkumpul untuk menyusun rencana as sekarang kalian semua bubar dulu"


secara halus pendekar pedang Naga hitam menolak untuk mereka bayar karena dia tahu meski hanya selintas dia dapat melihat bagaimana kondisi penduduk dusun saat itu


"baiklah pendekar terimakasih atas kebaikan hati pendekar" seorang penduduk bangkit berdiri lalu memberi komando pada penduduk-penduduk lainnya untuk segera bubar


istri ketua dusun gunung kapur segera menyiapkan makanan dan kamar untuk pendekar pedang Naga hitam


"beristirahatlah dulu sebelum nanti berkumpul kembali


setelah selesai makan Mayang suri atau pendekar pedang Naga hitam segera masuk kamarnya diatas sebuah ranjang gadis itu duduk termenung, menekep kedua kakinya pandangannya lurus kearah jendela


ada bayangan seseorang disana, seseorang yang baru saja ditemuinya di perjalanan dengan tidak sengaja


"oh Dewata Agung mengapa hidupku selalu di permainkan mengapa takdir harus mempertemukan kami lagi jika hanya sesaat dan posisi yang tidak tepat mengapa dia harus menempuh jalan itu menjadi seorang pembunuh bayaran apa penyebabnya? aku belum siap untuk bertemu dengannya lagi sedangkan tugas yang harus dilaksanakan menuntutku berdampingan dengannya, apakah aku harus mundur dari tugas itu, tetapi itu artinya aku mengingkari sumpahku

__ADS_1


ohh Dewata Agung apa yang harus aku lakukan sungguh aku belum punya kekuatan jika saat ini aku harus berada di sisinya"


BERSAMBUNG


__ADS_2