MANTRA HITAM PEMIKAT

MANTRA HITAM PEMIKAT
CH 80 PERTEMUAN DI ISTANA LINGGA BUANA


__ADS_3

"Ooo tentu, tentu pendekar Sura jangan khawatir akan hal itu. saya akan segera menemui panembahan Senopati secepatnya. lalu kapan pendekar-pendekar gagah berani ini menyempatkan waktu untuk menemui Gusti Prabu?"


"malam ini rasanya tidak mungkin Paman, selain kurang sopan menemui Gusti Prabu malam-malam begini juga kita mengganggu istirahatnya. bagaimana kalau besok pagi saja Paman?"


Satria mengajukan pendapatnya


"baiklah pendekar Satria lagipula kalian juga butuh istirahat. oh iya pendekar kalau boleh Paman tau siapa pemuda itu? sejak tiba tadi hingga kini dia masih tertidur lelap


padahal kalian sudah berjam-jam disini apakah pemuda itu terluka?"


sejak tadi hulu balang Diwangkara ingin sekali bertanya mengenai Panji Rancasan tetapi karna belum mendapat kesempatan beliau menyimpan dulu rasa penasarannya


"oh iya Paman saya minta maaf karna belum sempat memberi tahukan siapa pemuda itu. namanya Panji Rancasan dia putra mahkota gelang-gelang kami sengaja membawanya barangkali dia bisa berguna untuk kita. dan dia bukan tertidur Paman!! dia tidak sadarkan diri sengaja saya membuatnya seperti itu agar dia tidak mendengar pembicaraan kita. Paman apakah ada kamar kosong yang bisa di gunakan untuk menyekap pemuda itu?"


Satria menjelaskan sekaligus meminta disiapkan sebuah kamar kosong untuk mengurung Panji Rancasan


"oohhh jadi pemuda itu putra mahkota. tentu pendekar tentu saja pemuda itu sangat berguna. oh iya Paman belum mendengar ceritanya apa yang terjadi di nareh? dan mengapa putra mahkota gelang-gelang bisa jatuh ke tangan kalian?"

__ADS_1


sepertinya hulu balang Diwangkara sangat ingin mengetahui kejadian di nareh


dan ternyata bukan hanya hulu balang saja


pendekar pedang Dewa Naga hitam, pendekar Naga Sura, dan juga pendekar Panji gara mereka ingin tau apa penyebab terjadinya peperangan di nareh mereka tidak sempat bertanya pada kakang Wisnu Abi Rawa dan juga pada kakang Sidra giri


"aku minta maaf pada kalian semua aku belum sempat menceritakannya padahal kakang Wisnu sempat menceritakannya padaku. seperti yang kita tau kedatangan mereka membawa tujuan baik menyerahkan Demang karja dan khusunya kakang Giri dan juga Paman Danda sokana ingin meminta keadilan, karna wilayah itu di bawah kekuasaan Prabu Ganda lawean kakang Wisnu tidak ingin kakang Giri bermain hakim sendiri biarlah hukum kerajaan yang menentukan hukuman atas kesalahan yang di perbuat oleh Demang karja namun apa yang terjadi salah seorang pandega mengenali Paman Danda sokana


pandega itu berteriak mengatakan bahwa Paman Danda si penghianat itu ada disini


kakang Wisnu berusaha ingin menjelaskan tetapi pandega itu tidak mau mendengarkan. dia bahkan berlari ke dalam istana serta melaporkan pada Raja mengenai Danda sokana dan lebih parahnya lagi Prabu Ganda lawean menyambut kakang Wisnu dengan sepasukan prajurit perang untuk menangkap Paman Danda sokana. tentunya kakang Giri menjadi murka hingga tak dapat di cegah pendekar pemburu nyawa itu memenggal kepala Demang karja


"oohhh pantas kalau Dewi pendekar sangat ingin menyusul ke nareh rupanya terjadi sesuatu pada kakak-kakak seperguruannya. Paman kagum pada kalian ikatan batin kalian sangat kuat hingga kalian dapat mengetahui bahaya yang mengancam salah satu dari kalian. dan Paman tau mengapa putra mahkota gelang-gelang jatuh ke tangan kalian. pastinya Prabu Ganda lawean meminta bantuan pada orang-orang pilihan gelang-gelang salah satunya prajurit yang di pimpin oleh putra mahkota yang di tugaskan untuk mengawasi nareh"


hulu balang Diwangkara dapat dengan mudah mencerna penjelasan Satria


"pendekar malam sudah larut kalian beristirahatlah dulu ada beberapa kamar yang tidak di pakai kalian bisa beristirahat disana. dan di samping ruang pendopo ini ada salah satu kamar yang bisa di gunakan untuk menawan pangeran Panji Rancasan"

__ADS_1


hulu balang Diwangkara mengakhiri percakapan mereka karna beliau tau mereka sudah terlihat kelelahan apalagi Panji gara sudah berkali-kali menguap karna mungkin sudah didera rasa kantuk


semua setuju karna jujur mereka semua sudah merasa lelah. setelah ke empat pendekar itu merajah kamar yang akan di tempati Panji Rancasan hingga rajah goib itu berkekuatan berlipat ganda hingga tidak satu kekuatan pun yang akan mampu menerobos pagar goib itu. Panji gara membaringkan putra mahkota di atas ranjang setelah Satria melepaskan totokannya pintu kamar pun di kunci dari luar mereka pun masuk ke kamar masing-masing untuk beristirahat


seperti waktu yang telah di tentukan hulu balang Diwangkara, Satria Abimanyu, pendekar pedang Dewa Naga hitam, Naga Sura, serta Panji gara pagi itu mereka berangkat ke istana untuk menghadap Gusti Prabu Nara Wenda. sementara panembahan Senopati Arda Winangun telah terlebih dulu menunggu di istana


karna jarak dari rumah kediaman hulu balang ke istana tidak terlalu jauh sehingga tidak terlalu memakan waktu untuk tiba di istana. dikarenakan kedatangan mereka telah di beritahukan terlebih dahulu


merekapun langsung di sambut oleh pengawal khusus yang langsung di tugaskan oleh paduka Raja Prabu Nara Wenda, panembahan Senopati panglima


Aria kuntala, Adipati Aria Sona, serta pini sepuh Aji lasmana mereka telah nampak hadir di ruang pendopo pertemuan


setelah saling mengucapkan salam satu sama lain para tamu undangan pun di persilahkan duduk. berbagai macam ragam makanan dan minuman telah siap di sajikan di atas meja untuk menjamu mereka, setelah semuanya duduk rapat pun segera di buka oleh Gusti Prabu sendiri


"selamat datang di istana para pendekar aku ucapkan ribuan terimakasih karna kalian telah memenuhi undangan ku. sungguh satu kehormatan bagi diriku karna dapat berjumpa dengan pendekar-pendekar muda yang berilmu tinggi. dan juga aku ucapkan terimakasih kepada pejabat-pejabat kerajaan yang telah hadir dalam pertemuan ini. adapun prihal yang akan kita bahas mengenai permasalahan yang sedang kita hadapi saat ini kita semua tau kesengsaraan rakyat yang sedang di alami oleh kerajaan-kerajaan lain yang telah di taklukkan oleh Prabu Hindun Rancasan dan aku sangat mengkhawatirkan nasib rakyat ku jika hal itu terjadi pada kerajaan lingga buana ini aku meminta persetujuan kalian sebagai orang-orang kepercayaan ku dan selalu ada mendampingi ku di saat sedih maupun di kala aku senang mungkin panembahan Senopati Arda Winangun dan hulu balang Diwangkara telah mengetahui nya tetapi sebagian dari kalian belum mengetahui dengan jelas mengapa aku mengundang pendekar-pendekar muda ini hadir disini dan untuk jelasnya aku berikan hak wewenang ku pada panembahan Senopati Arda Winangun untuk menjelaskan semua nya tetapi sebelumnya jika ada yang akan di sampaikan oleh para pendekar aku sebagai raja mberi waktu dan kesempatan kepada pendekar untuk menyampaikan nya" Gusti Prabu Nara Wenda mengakhiri pembicaraan nya


BERSAMBUNG

__ADS_1


mohon maaf karna telat up


mohon dukungannya ya kawan


__ADS_2