
Mayang suri hanya termangu dia samasekali tidak mengerti apa yang di maksudkan wanita itu, tetapi dia berusaha memberikan diri untuk bertanya
"maafkan saya Bibi saya sungguh tidak mengerti apa yang Bibi maksudkan benda apa yang harus saya selamatkan?
dan mengapa harus saya?"
"dengarkan saya Nini benda pusaka ini bernama pedang Dewa Naga hitam pedang ini pengendali pedang pusaka Dewa rajawali yang kini berada di tanganmu, jika pedang Dewa Naga hitam ini jatuh ke tangan mereka maka pedang pusaka yang lainnya akan jatuh pula ke tangan mereka
maka dari itu aku serahkan pedang ini padamu Nini dan aku percaya engkau bisa menjaganya seperti halnya menjaga pedang Dewa rajawali"
wanita setengah baya itu sedikit memberi penjelasan agar gadis di hadapannya dapat mengerti maksud dan tujuannya
"Nyai siapa sebenarnya dirimu? aku yakin Nyai hanya menyamar menjadi seorang pemilik kedai makanan, itu Nyai lakukan hanya semata-mata untuk menyembunyikan jati dirimu yang sesungguhnya, tolong katakan padaku Nyai siapa sebenarnya Nyai ini?"
Mayang suri setengah memaksa meminta penjelasan mengenai diri wanita itu
"Nini kita tidak punya waktu banyak untuk berbincang panjang lebar, keadaan semakin mendesak kau harus segera meninggalkan tempat ini sebelum mereka menerobos masuk serta mengobrak-abrik seisi rumah ini, namun ku beri tau namaku Ambalika jika kau ingin tau siapa diriku yang sebenarnya kau boleh bertanya pada gurumu kakak Ratu embok, sekarang sudah saatnya kau pergi dari sini selamatkan pedang ini"
Dewi Ambalika menyerahkan pedang pusaka Dewa Naga hitam ke tangan Mayang suri untuk segera di bawa pergi
meski dalam hati Mayang suri masih penuh tanda tanya tetapi dia harus segera melaksanakan amanah yang di emban kan pada dirinya
"baiklah nyai saya akan berusaha melaksanakan tugas darimu dan saya percaya nyai pasti bisa mengatasi mereka,
sekarang tunjukkan jalan saya untuk keluar"
"tentu anakku aku akan mengantarmu hingga kau keluar dari rumah ini, sekarang ikuti aku" tanpa membuang-buang waktu mereka pun keluar dari kamar menuju ke arah dapur
setibanya di dapur Dewi Ambalika mengangkat ikatan padi satu per satu yang di tumpuk rapi di balik dinding kayu,
ternyata di balik tumpukan padi-padi itu terdapat sebuah lorong, Dewi Ambalika menarik tangan Mayang suri agar mendekat ke mulut lorong
__ADS_1
"Nini kau kau bisa keluar dari tempat ini hanya dengan melalui lorong ini, ujungnya berada tepat di kaki gunung jangan khawatir Nini lorong ini aman. aku sendiri yang membuatnya, sekarang cepatlah pergi jaga dirimu baik-baik dan tolong sampaikan salam ku pada kakak Ratu embok jika kau menemuinya nanti"
Mayang suri meraih tangan Ambalika
"baiklah Nyai akan saya sampaikan pesan mu, jaga diri Nyai juga terimakasih atas kepercayaan Nyai pada saya selamat tinggal Nyai saya akan segera pergi sampai jumpa lain kali"
Mayang suri mencium punggung telapak tangan wanita itu lalu meninggalkan nya masuk melalui lorong
setelah tubuh Mayang suri tidak terlihat lagi
Dewi Ambalika pun segera menutup kembali mulut lorong dengan kayu dan juga tumpukan padi
terdengar suara pintu di dobrak dari luar
"Brraaakkk" suaranya agak lumayan keras lalu terdengar suara seseorang
"aku yakin pemilik warung ini bukan perempuan biasa dan juga aku yakin dialah yang membawa lari pedang Dewa Naga hitam beberapa tahun yang lalu"
"nyai keluar lah kau. kami tau kau tidak tertidur, berikan pedang itu secara baik-baik dan kami akan meninggalkan tempat ini dengan baik-baik pula"
tirai penutup kamar terbuka seorang wanita terpogoh-pogoh keluar
"lancang sekali kalian memasuki rumah orang tanpa permisi, apa yang kalian keinginan?"
"jangan pura-pura nyai aku sudah tau siapa dirimu, mungkin beberapa Minggu yang lalu kawanku dapat kau bohongi tetapi aku tidak, coba lihat wajah ku dengan jelas nyai" salah satu dari mereka yang berwajah paling bringas menyodorkan mukanya agar Dewi Ambalika dapat melihatnya
wanita itu agak terkejut juga saat melihat wajah laki-laki itu dengan jelas di bawah sinar lampu "oohh rupanya dirimu Iblis penjemput maut, manusia tidak tau diri manusia tidak tau terimakasih, andai saja seperti ini balasanmu tidak Sudi dulu aku menolongmu melepaskan dirimu dari dari ikatan aji totok bayu raga kakak ku"
"ha ha ha hah ternyata ingatanmu masih sangat jelas, jangan lupa Dewi Ambalika ini jagat persilatan siapa lengah maka dia akan terkecoh kan, mana pedang itu berikan padaku"
"ternyata hanya gelar mu saja yang punya nama besar tetapi hatimu picik, dasar memang Iblis sampai kapanpun tetap saja Iblis, janjimu padaku untuk berubah menjadi lebih baik saat kau dan anak buahmu meminta pertolongan ku itu hanya tipuan belaka, aku tidak memiliki apa yang kalian cari jika pun ada aku tidak akan mungkin menyerah kannya pada Iblis sepertimu"
__ADS_1
disaat Dewi Ambalika tengah berdebat dengan pendekar golongan hitam
Iblis penjemput maut yang lain mengobrak-abrik setiap ruangan dan membanting semua benda yang ada salah satu menghampiri serta memberi laporan
"kakang benda itu tidak ada di tempat ini, semua ruangan sudah kami telusuri tapi kami tidak menemukannya"
"kurang ajar, bedebah dimana kau sembunyikan pedang itu?"
Iblis penjemput maut nampak geram
"sudah ku katakan aku tidak memiliki pedang itu, kalian saja tidak percaya,
aku tau kalian ini hanya anjing-anjing liar yang di bayar seseorang untuk mendapatkan pedang itu agar dapat menguasai dunia persilatan, katakan padaku Iblis siapa yang menyuruh kalian?"
"ha ha ha ha ha hah ternyata kau cukup cerdik Ambalika tetapi tidak perlu kau tau siapa yang membayar kami"
(flas back
untuk sesaat kita tinggalkan perdebatan mereka kita kembali terlebih dahulu ke masa beberapa tahun yang lalu)
***
pada suatu hari di suatu tempat yang di sebut gunung Bidadari terdapat sebuah perguruan kecil bernama perguruan Teratai Bidadari di ketuai oleh seorang wanita berusia sekitar empat puluh lima tahun
bernama Dewi Ambalika
perguruan itu termasuk aliran putih dengan memiliki tiga puluh orang murid, salah satu murid yang paling terpercaya bernama
Laras jingga gadis berusia dua puluh lima tahun paling pintar cerdik dan cekatan diangkat murid oleh Dewi Ambalika sekitar lima tahun yang lalu saat dia hendak di perlakukan tidak senonoh oleh bandit-bandit liar
perguruan itu tergolong tentram dan damai murid-muridnya pun selalu rukun setiap tiga bulan sekali Dewi Ambalika dengan di dampingi oleh Laras jingga dan Sari jamilah murid kedua kepercayaan Dewi Ambalika selalu menghadiri pertemuan-pertemuan besar dengan guru-guru perguruan-perguruan lain seperti halnya malam itu Dewi Ambalika mengumpulkan murid-muridnya untuk memberitahukan undangan yang di terimanya pagi tadi
__ADS_1
BERSAMBUNG