
"Guru masih ada makanan bekal tadi siang, guru makan lah dulu" Sari jamilah menawarkan makanan pada gurunya
"tidak Sari aku tidak lapar kalian makan saja" Dewi Ambalika menolak dengan halus
"maaf guru sebaiknya guru makan dulu, setelah itu kita pikirkan rencana untuk mencari si penghianat itu" Arimbi membujuk gurunya
"aku hanya tidak habis pikir Arimbi,. bagaimana mungkin Laras jingga memiliki pikiran sejahat itu, tadi sempat ku dengar pelangi mengatakan Laras jingga di temani oleh tiga orang laki-laki yang tidak di kenal tapi siapa mereka dari mana sedangkan yang aku tau Laras jingga tidak punya kenalan di luar sana" Dewi Ambalika mengutarakan ke tidak percayaannya
"entahlah guru, seperti halnya guru kami juga tidak pernah mengetahui kalau kak Laras mempunyai kenalan orang-orang yang tidak di kenal oleh kita semua" Sari jamilah dan Laras jingga sangat dekat mereka selalu berbagi cerita satu sama lain apa yang mereka tau dan mereka temukan tidak ada sedikitpun yang mencurigakan pada diri Laras jingga dimata Sari jamilah
"guru sekarang apa yang harus kita lakukan?" Arimbi bertanya pada gurunya
"perguruan ini sudah hancur Arimbi, makan waktu lama untuk memperbaiki nya kembali sementara aku harus mencari Laras jingga untuk meminta pertanggung jawabannya atas apa yang telah di lekukannya, selain itu juga dia telah membawa beberapa kitab pusaka andalan kita aku khawatir jika mengulur-ulur waktu Laras jingga mempelajari ajian-ajian pada Kitab itu serta menggunakannya untuk kejahatan, ada baiknya jika kita berpisah saja tugas kalian sama temukan Laras jingga bawa padaku hidup atau mati"
Dewi Ambalika akhirnya mengambil keputusan untuk berjalan masing-masing karena tidak ada pilihan lain
"baiklah guru jika memang itu yang terbaik kami akan selalu mengikuti perintah guru dan saya berjanji tidak akan pernah menemui guru sebelum saya menemukan Laras jingga" janji Arimbi dan Sari jamilah pada gurunya
"baiklah sekarang kalian ikut aku ada yang ingin ku berikan pada kalian untuk menghadapi Laras jingga nanti karena aku yakin saat kalian menjumpai nya suatu hari nanti ilmu kesaktian Laras jingga sudah lebih tinggi tahapannya karena kitab-kitab pusaka yang di curinya" mereka pun lalu beranjak dari duduknya lalu menuju ke suatu tempat di lembah kecil kaki gunung bidadari Dewi Ambalika menghentikan langkahnya dengan bantuan kedua muridnya
__ADS_1
Dewi Ambalika menggeser sebuah batu yang cukup besar yang menutupi sebuah lubang "Untung saja selama ini Laras jingga tidak pernah mengetahui kalau aku menyimpan beberapa benda pusaka di dalam lubang, Arimbi Keris ini bernama Keris Dewa Langit aku telah menyimpannya selama berpuluh-puluh tahun Keris ini pernah mengguncangkan dunia persilatan, malam ini aku serahkan Keris ini padamu untuk mengatasi segala kemungkinan dalam perjalanan mu mencari Laras jingga"
"dan ini sebuah pusaka yang juga sempat mengguncangkan dunia persilatan Sabit Dewi Bulan aku serahkan ini padamu Sari
jaga baik-baik pusaka-pusaka itu jangan sampai menyalahgunakan dan jangan sampai jatuh ke tangan orang-orang golongan hitam kalian pergilah malam ini juga, dan aku akan segera pergi ke Gunung singgaru untuk memberitahukan pada Resi purba kesha atas kejadian yang menimpa pada perguruan kita, Arimbi, Sari kalian pergilah jaga diri kalian baik-baik" Dewi Ambalika memeluk kedua muridnya dengan berat hati merekapun berpisah malam itu juga
Setelah kepergian kedua muridnya Dewi Ambalika duduk menyandar kan tubuhnya pada sebuah batu, "aku sudah berjanji padamu kakang bahwa aku tidak akan pernah menggunakan pedang pusaka itu lagi, aku tidak ingin ada jatuh korban lagi
pedang itu telah mengakhiri hidupmu dan aku telah mencoba menguburnya tapi malam ini ku langgar janjiku padamu kakang ini semua terpaksa aku lakukan karena Putri mu lah yang membuat aku mengingkari janji ku" lamunan Dewi Ambalika masuk pada masa-masa beberapa tahun yang lalu tatapan matanya nanar tangannya merogoh ke dalam lobang serta mengeluarkan sebuah benda yang terbungkus kain hitam
"malam ini aku harus melalui pengembaraan ku kembali, duku kau meninggalkan noda hitam di kehidupanku noda hitam itu telah menjadi benar-benar pekat, apapun yang terjadi aku harus melakukannya karena jika tidak semuanya akan hancur kau rela atau tidak aku tidak punya pilihan lain" Dewi Ambalika menghela nafas panjang nafasnya terasa sesak dengan berat hati dia bangkit berdiri lalu meninggalkan tempat itu juga
tidak terasa sebulan sudah Dewi Ambalika meninggalkan perguruan di sebuah hutan tepatnya senja hari Dewi Ambalika berniat untuk sejenak melepas lelah namun tiba-tiba terdengar suara erangan seseorang yang berasal dari dalam hutan
Dewi Ambalika memasang telinga untuk memastikan suara erangan itu manusia atau binatang buas
Dewi Ambalika membatalkan niatnya untuk beristirahat langkahnya mengendap-endap menyelinap dari pohon satu ke pohon lain
sekitar seratus langkah darinya terdapat beberapa orang laki-laki yang semuanya mematung tidak bergerak dalam posisi masing-masing tidak ubahnya sebuah arca
__ADS_1
Dewi Ambalika menatap dengan teliti
"siapa mereka? sepertinya mereka berada dalam pengaruh ilmu totokan, tapi siapa yang melakukannya?" dalam hati Dewi Ambalika bergumam
setelah beberapa saat memperhatikan
Dewi Ambalika pun keluar dari persembunyian berniat untuk menolong mereka "maaf kisanak kalau boleh aku tau siapa kalian dan mengapa kalian dalam keadaan seperti ini? aku akan membantu kalian tapi katakan dulu mengapa sampai terjadi seperti ini?"
"terimakasih nyai jika kau Sudi menolong kami, orang-orang menyebutku iblis penjemput maut dan mereka ber empat adalah anak buahku aku akui kami kalah bertarung dan mereka meninggalkan kami dalam keadaan seperti ini, aku memang pendekar dari golongan hitam tetapi jika nyai Sudi menolong kami aku berjanji aku akan berubah menjadi lebih baik jadi tolonglah kami nyai lepaskan kami dari ilmu totokan ini"
"baiklah aku pegang janjimu iblis penjemput maut aki akan menolong kalian
tapi katakan dulu padaku kalian bertarung dengan siapa?"
"tadi pagi aku bertarung dengan penguasa lembah gurang-rang, apakah nyai mengenalnya?" iblis penjemput maut balik bertanya
"rupanya mereka barusaja bertarung dengan kakak Ratu embok, tadi iblis itu mengatakan mereka, dengan siapa kakak Ratu dan hendak kemana hingga dia melintasi hutan ini?" gumam Dewi Ambalika dalam hati
"tidak aku tidak pernah mendengar nama itu tetapi itu tidak perlu, baiklah aku akan bantu kalian" dengan gerakan sangat tangkas Dewi Ambalika melepaskan ilmu totokan yang mengikat tubuh iblis penjemput maut dan ke empat anak buahnya satu persatu
__ADS_1
BERSAMBUNG