
"Baiklah aku percaya tapi awas jika kau berani berbohong" ancam Panji gara
lalu berpaling pada si tangan seribu
"hei kau tangan palsu berikan juga uang mu" karna merasa takut si tangan seribu pun lantas memberikan uang nya
"ini pendekar ambilah hanya ini yang ku miliki"
"Hahahaha" Panji gara tertawa puas melihat musuh-musuh nya menuruti saja kemauannya "sekarang kalian boleh pergi sebelum aku berubah pikiran"
Dengan tubuh yang terhuyung-huyung si tangan maut, si tangan seribu beserta anak buahnya cepat-cepat meninggalkan tempat itu
Singgih narpati menggeleng-gelengkan kepala sebetulnya dia kurang setuju dengan apa yang di lakukan adik seperguruan nya namun apa hendak di kata itulah Panji gara yang sudah sejak lama di kenalnya
"adik Panji untuk apa kau merampas uang mereka? bukankah uang yang kita miliki masih lebih dari cukup"
nada suara Singgih terdengar lirih
"kakang aku merampas uang mereka bukan untuk bekal kita. tapi untuk mengganti rugi kerusakan kedai ini"
"Ki sanak kemarilah" Panji gara memanggil pemilik kedai
"iya tuan pendekar saya pemilik kedai ini dan saya mengucapkan beribu-ribu terimakasih karena tuan-tuan pendekar telah menyelamatkan kami dari perampok-perampok itu"
"tidak perlu berterimakasih Ki sanak karena itu sudah menjadi kewajiban kami membantu orang-orang yang tertindas dan terimalah uang ini Ki sanak untuk mengganti kerugian mu. perbaiki semua kerusakan ini" Panji gara memberikan dua kantung uang yang di rampasnya dari perusuh-perusuh tadi
"terimakasih tuan pendekar tetapi seharusnya tuan pendekar tidak perlu menggantinya karna kerusakan di kedai kami pun tidak terlalu parah" pemilik kedai menolak secara halus
"tidak Ki sanak parah ataupun tidak kami harus tetap menggantinya" Panji gara meraih tangan si pemilik kedai seraya meletakkan dua kantung uang sebagai ganti rugi
"sekali lagi terimakasih tuan pendekar tapi ada satu hal yang tuan-tuan harus tau. kejadian ini akan berbuntut panjang"
nada suara si pemilik kedai di hantui ketakutan
__ADS_1
"apa maksudmu Ki sanak?" Singgih narpati menimpali yang sejak tadi hanya menyimak pembicaraan mereka saja
"masih ada ketua dari mereka itu tuan pendekar yang pastinya tidak akan terima kekalahan kedua pendekar tadi dan besar kemungkinan mereka akan datang untuk mencari tuan-tuan pendekar dan bahkan mereka tidak akan segan-segan untuk menghancurkan kampung ini"
pemilik kedai melanjutkan ucapannya
"adik Panji sepertinya untuk malam ini kita menginap disini saja dulu. aku khawatir yag di takuti pemilik kedai itu akan terjadi dan kita punya tanggung jawab sepenuhnya"
"kau benar kakang kita harus menumpas mereka sampai ke akar-akarnya. Ki sanak apakah disini ada penginapan? dan Ki sanak tidak perlu meng khawatirkan mereka. biarkan saja begundal-begundal iblis itu datang lagi" Panji gara menenangkan hati si pemilik kedai
"sekali lagi terimakasih tuan pendekar tapi disini tidak ada penginapan yang ada hanya rumah penduduk yang kebetulan rumah itu kosong karna pemiliknya pindah ke kota
rumah itu di titipkan pada kerabat jauhnya dan biasanya rumah itu di sewakan pada pengunjung yang kebetulan kemalaman di kampung ini. jika tuan-tuan pendekar berkenan kebetulan yang merawat rumah itu salah satu pelayan kedai kami" pemilik kedai menjelaskan
"baiklah ki sanak kami akan sewa rumah itu tolong panggilkan pelayan mu"
"baiklah tuan pendekar tunggu sebentar"
tidak lama kemudian pemilik kedai kembali ke halaman dengan seorang pelayan
"maaf tuan pendekar ada keperluan apa kiranya hingga tuan-tuan pendekar ingin bertemu dengan saya?"
"begini Ki sanak tadi pemilik kedai mengatakan bahwa kau pemilik rumah sewaan. jadi kami berniat menyewa rumahmu untuk malam ini" Panji gara menjelaskan tujuannya
"oohh begitu rupanya. tuan pendekar sebetulnya rumah itu bukan milik saya tapi memang sudah sejak lama saya yang merawat nya. letaknya di samping kedai ini mari silahkan tuan-tuan pendekar saya antar"
"terimakasih Ki Pardi tapi tunggu sebentar aku belum membayar makanan yang ku pesan tadi" Panji gara masuk ke dalam kedai untuk membayar makanan yang telah di makan. lalu setelah itu mereka menuju ke rumah yang di sewanya memang tidak jauh dari kedai hanya terhalang pagar tembok kedai saja
Ki Pardi melangkah lebih dulu membuka kunci dan membuka pintu serta mempersilahkan tamu-tamunya untuk masuk
"silahkan tuan-tuan pendekar rumah ini memang tidak terlalu bagus tetapi saya rawat dengan baik. dan di dapur sana saya sediakan panci hanya untuk sekedar memasak air" Ki Pardi menunjuk ke arah dapur
lagi-lagi Singgih narpati mata tajamnya menangkap sesuatu yang tersembunyi pada diri Ki Pardi untuk lebih mengetahuinya Singgih narpati meminta Ki Pardi untuk menemaninya ngobror sebentar
__ADS_1
"maaf Ki Pardi bisa luangkan waktu sebentar? ada yang ingin aku tanyakan"
wajah Ki Pardi agak sedikit pucat mendengar permintaan Singgih narpati
sepertinya Ki Pardi pun merasa curiga tetapi dia berusaha menyembunyikan kecurigaan nya itu
"maaf den saya masih banyak pekerjaan apa sebaiknya lain waktu saja"
elak Ki Pardi menghindar
"tidak Ki aku butuh jawaban sekarang. Ki Pardi tidak usah takut. sedikitpun kami tidak punya niat jahat"
Panji gara dia hanya mampu melongo saja karna dia tidak mengerti apa maksud kakang nya sehingga menahan Ki Pardi untuk tetap di situ tangannya menggaruk-garuk kepala yang tidak gatal itulah kebiasaan Panji gara jika sedang kebingungan
"Ki tolong jawab pertanyaan ku" singgih melanjutkan ucapannya
"apakah Ki Pardi asli penduduk sini?
atau hanya pendatang yang merantau di kampung ini?"
"maaf den saya sungguh tidak mengerti mengapa Aden menanyakan hal itu?"
jawab Ki Pardi lirih
"maaf Ki jika pertanyaan ku lancang tetapi sejak melihat aki tadi aku merasakan ada sesuatu yang aki sembunyikan dan mata ku tidak dapat di bohonginya. siapa aki sebenarnya? mengapa aki menyamar sebagai pelayan kedai apakah aki mempunyai suatu tujuan hingga aki melakukan itu?"
Ki Pardi menatap lekat-lekat wajah Singgih narpati. laki-laki setengah baya itu mengakui betapa hebatnya penglihatan pemuda itu
"maafkan saya den kalau boleh saya tau dari perguruan mana Aden berdua ini? karna saya yakin kalian memiliki tingkat kesaktian yang tinggi" Ki Pardi balik bertanya
dan Panji gara masih belum mengerti
"baiklah Ki saya perkenalkan nama saya Singgih narpati dan ini adik seperguruan saya dan namanya Panji gara. kami berdua murid dari perguruan puncak gunung singgaru dan Resi Purba kesha beliau lah guru kami dan bukan hanya kami berdua masih ada murid-murid singgaru yang lainnya. dan sekarang tolong katakan siapa aki sebenarnya?"
__ADS_1
BERSAMBUNG