MANTRA HITAM PEMIKAT

MANTRA HITAM PEMIKAT
CH 61 PERTEMUAN SIDIK MAULANA DAN UMALAYA


__ADS_3

"Baiklah kakang akan selalu ku ingat nasehat mu. jadi sekarang kita berpisah disini. sampai berjumpa lagi di gunung kembar kakang semoga kakang cepat-cepat menemukan Mayang suri"


"baiklah adik Giri selamat jalan dan semoga kau segera menemukan Demang karja secepatnya" dua pendekar pun berpisah di persimpangan jalan setapak yang berada di pinggir hutan kera


***


siang itu matahari bersinar begitu terik nya


seorang pemuda tampan berpakaian serba putih dengan ikat kepala kain putih pulau tengah memacu kudanya di pesisir pantai peluhnya mengucur perlahan-lahan pemuda itu menarik tali kekang kuda untuk memperlambat langkahnya. setelah menemukan pohon pandan yang cukup rindang pemuda itu pun turun dari kudanya


lalu di ikatnya tali kekang kuda pada Batang pohon kecil dan membiarkan kudanya untuk merumput dan dia pun duduk di bawah rindangnya daun pandan wajahnya di terpa angin laut terasa sejuk


namun siapa sangka di balik ketampanan wajah pemuda itu tersimpan kepedihan yang sangat mendalam. rupanya pemuda tampan itu iyalah Sidik Maulana bertahun-tahun dia meninggalkan pondok pesantren karna satu peristiwa yang sangat menyakitkan dan mengingat kejadian itu tidak dapat di pungkiri ingin rasanya dia menghancurkan bumi ini namun apalah daya dirinya hanyalah seorang manusia biasa yang memiliki batas kemampuan


hanya rintihan yang selalu dia dendangkan


"ooohhhh Gusti sampai kapan engkau menghukum hamba mu ini? mengapa hingga saat ini hamba masih belum ikhlas menerima kenyataan. ampuni hamba mu yang kotor ini Ya Allah andai engkau masih menyediakan Sekar Kemala yang lain segeralah pertemukan kami Ya Raab" tidak terasa air mata sidik menetes di pipinya dadanya terasa begitu berat


tiba-tiba lamunan nya di buyarkan oleh suara tawa ria tidak jauh dari rumpun pandan tempatnya berteduh pemuda gagah itu memasang telinga untuk memastikan suara tawa itu apakah tawa manusia. ataukah suara tawa peri laut. sidik mengucek matanya mengintai dari balik daun pandan. dua orang gadis cantik tengah memetik bunga pantai sambil bersenda gurau diselingi tawa riang


sidik menoleh ke kiri dan ke kanan hampir tidak percaya dengan penglihatannya


"pesisir pantai yang jauh dari dusun warga bagaimana mungkin ada peri-peri cantik di tempat seperti ini darimana munculnya mereka? apakah turun dari langit atau naik dari dasar laut?"


karna asiknya mengira-ngira tidak sadar ujung daun pandan menggores punggung tangannya yang halus. sidik terpekik kecil karna kesakitan dan pekikannya itu telah menghentikan tawa riang dua peri itu


kedua gadis itu terpaku menatap ke arah datangnya suara. mereka saling berpandangan lalu saling berpegangan tangan melangkah perlahan-lahan agar tidak menimbulkan suara. jarak mereka dengan rumpun pandan memang tidak jauh hanya untuk beberapa saat saja mereka tiba di hadapan sidik

__ADS_1


kedua gadis itu berteriak histeris


"ada hantu. ada jin. ada siluman laut"


Sidik Maulana mengerutkan kening matanya menatap kedua gadis itu dalam hatinya bergumam


"mengapa mereka yang berteriak ketakutan bukankah seharusnya aku yang ketakutan melihat mereka?"


dua gadis itu masih tetap berteriak hingga akhirnya sidikpun mengalah dengan membuka suara


"tolong berhenti berteriak Nini berhenti mengatakan aku hantu. aku manusia namaku Sidik Maulana aku berasal dari tempat yang jauh dan aku seorang pengembara"


karna pengakuan sidik akhirnya dua gadis itupun berhenti berteriak dan salah satu dari gadis itu memberanikan diri untuk bicara "maaf kakang apakah benar kakang ini seorang manusia sama seperti kami? dan jika benar kakang manusia tolong katakan padaku dari desa mana kakang berasal? dan dari kalangan apa? siapa kedua orang tua kakang? apakah mereka masih ada atau sudah tiada? lalu kemana tujuan kakang? dan hendak menemui siapa?"


diserang dengan pertanyaan seperti itu sidik hanya melongo kebingungan


gadis itu memaksa sidik untuk menjawab pertanyaan nya


"baiklah Nini akan aku jawab pertanyaan mu. tapi jawab dulu pertanyaan ku" Sidik balik bertanya timbul niat dalam pikirannya untuk membalas si gadis cantik yang berdiri di hadapannya


"siapa nama Nini? darimana Nini berasal? apakah Nini masih punya orang tua atau sudah yatim piatu? dan sedang apa Nini berada di tempat ini?"


kedua gadis itu tertawa cekikikan rupanya pemuda tampan itu bisa juga membalas perbuatannya


"ternyata kau cerdas kakang selain gagah dan tampan kakang juga pintar. jika ku lihat dari penampilan mu sepertinya kakang dari keluarga terhormat. baiklah aku perkenalkan nama ku. namaku Umalaya dan ini sahabatku Jamilah aku berasal dari desa di balik hutan itu. aku tidak tau apakah kedua orang tuaku masih hidup atau bahkan sudah tiada karna yang ku tau sedari kecil aku di besarkan oleh kedua orang tua angkat ku. aku sudah menjelaskannya sekarang giliran kakang menjawab pertanyaan ku"


"baiklah Nini terimakasih. namaku Sidik Maulana aku berasal dari padepokan tapak suci kedua orang tuaku masih ada dan aku tidak punya tujuan pasti karna aku pengembara. apakah cukup jelas jawaban ku nini?"

__ADS_1


"sebetulnya belum terlalu jelas karna kakang tidak mengatakan bahwa tujuan kakang"


mendengar ucapan gadis bernama Umalaya itu Sidik menjadi kebingungan berkali-kali dia mengatakan bahwa dirinya seorang pengembara tapi gadis ini tidak juga mengerti


melihat sidik kebingungan Umalaya kembali tertawa cekikikan. Jamilah merasa kasian melihat sidik di permainkan oleh sahabat nya "sudahlah kakang tidak usah hiraukan dia memang seperti itulah sahabatku itu. sudahlah Uma kasian kakang Sidik cukup untuk pertanyaan mu dan sekarang yang harus kita tanyakan apakah kakang Sidik sudah makan apa belum? bukankah kita membawa bekal makanan tadi. tidak ada salahnya jika kita berbagi dengan seseorang yang membutuhkan"


Umalaya mendelik pada Jamilah


"Milah kau itu terlalu baik pada orang sekalipun orang itu baru kau jumpai"


ucapan Umalaya terhenti karna takut jika sahabatnya memelototi nya seperti itu


akhirnya Umalaya pun menoleh pada sidik seraya bertanya apa kau lapar kakang kebetulan kami membawa bekal jika kakang lapar kita bisa makan bersama-sama. oohh ya bukanya tangan kakang terluka dan jika kakang mau aku bisa menyuapi kakang" Umalaya menjerit kecil karna pinggang nya di cubit Jamilah


"bersikap lah santun Uma dia itu pemuda terhormat kita harus menghormatinya"


Jamilah menegur Umalaya


"terimakasih Nini atas kebaikan hati kalian jujur saya akui sudah dua hari ini aku tidak menemukan makanan karna sepanjang perjalanan aku tidak menjumpai kedai karna yang ku lintasi hanya hutan dan sungai. sekali lagi terimakasih"


"jangan sungkan kakang sudah kewajiban kami membantu sesema yang kesusahan"


jawab Jamilah dengan bijak


setelah menyiapkan makanan mereka pun makan bersama-sama


BERSAMBUNG

__ADS_1


__ADS_2