MANTRA HITAM PEMIKAT

MANTRA HITAM PEMIKAT
CH 84 MENDATANGI DEWI KILAT KEMATIAN


__ADS_3

Tepatnya di persimpangan jalan seseorang memanggil Wisnu Abi Rawa


"kakang Wisnu.. kakang Wisnu tunggu"


Wisnu Abi Rawa dan juga santri-santri Sanca Mukti menghentikan langkahnya seraya menoleh kearah datangnya suara


seorang pemuda berlari-lari kecil wajahnya penuh dengan keringat mungkin dia telah melakukan perjalanan yang cukup jauh


"Darma Sena apakabarmu? senang melihat mu lagi Darma"


"aku baik-baik saja kakang aku pun sangat senang dapat jumpa kembali dengan kakang. ngomong-ngomong kakang terlihat seperti tergesa-gesa sepertinya ada hal yang sangat penting hingga kakang membawa pasukan santri. kalau boleh aku tau apa yang sebenarnya terjadi? dan dimana sodara-sodara yang lainnya?"


"benar Sena ada tugas yang sangat penting yang harus kami lakukan. dan yang lain sudah berada di tempat. kau sendiri mau kemana Sena?"


"saat ini aku tidak punya tujuan yang jelas kakang, dan jika kakang Wisnu mengijinkan apa aku boleh bergabung bersama kalian?"


"tentu Sena aku sangat mengharapkan bantuanmu. semakin banyak bantuan semakin berlipat kekuatan kita. terimakasih karena kau mau bergabung dengan kami"


"kakang sejak awal aku sudah mengatakan kapanpun dan dimana pun jika tenagaku memang diperlukan maka aku akan sangat merasa senang karna buatku hal itu satu kehormatan yang luar biasa"


"kau terlalu berlebihan Sena. aku yang seharusnya berterimakasih kepadamu.


baiklah kita kita harus segera tiba di lingga buana sebelum malam sekarang mari kita melanjutkan perjalanan"


***


panas matahari siang itu seterik hati Prabu Hindun Rancasan yang tidak dapat membendung kemarahannya saat menerima laporan mengenai kejadian di istana nareh yang telah di hancur lebur kan oleh orang-orang yang tidak di kenal dan juga putra mahkota yang kini berada di tangan musuh. Prabu Hindun Rancasan tidak henti-hentinya mencaci maki

__ADS_1


"apa saja yang kalian kerjakan? kalian prajurit-prajurit pilihan yang aku percaya untuk menjaga putra mahkota dan kerajaan nareh. tapi apa yang terjadi apa saja kerja kalian? dasar tolol sia-sia selama ini aku memberi kalian makan, minum, pakaian, dan segala macam yang kalian perlukan dasar bodoh pengecut aku tidak terima di perlukan seperti ini cepat cari dan tangkap bedebah-bedebah itu serahkan padaku hidup atau mati dan jika terjadi sesuatu terhadap putraku maka kepala kalian akan ku penggal"


"tunggu kanda prabu apa tidak sebaiknya kita rundingkan masalah ini?"


"apalagi yang harus kita rundingkan Dinda Patih aku tidak ingin membuang-buang waktu"


"ampun kanda Prabu apa tidak sebaiknya kita selidiki terlebih dahulu!! pirasatku mengatakan bahwa mereka bukan dari kalangan-kalangan biasa ada kemungkinan mereka orang-orang bayaran Nara Wenda"


Patih Braja Gonta mengingatkan Prabu Hindun Rancasan


"ucapan mu mungkin benar Dinda Patih tetapi aku tidak perduli aku Prabu Hindun Rancasan penguasa di seluruh jagat ini tidak akan merasa takut oleh siapapun


Nara Wenda bukan tanding ku di hadapanku Nara Wenda bukan apa-apa dan jika benar mereka orang-orang bayaran Nara Wenda Raja lingga buana itu harus mempertanggungjawabkan perbuatannya


bukan dengan darah dan nyawa nya saja tetapi seluruh rakyat nya"


"kanda benar semua kerajaan yang telah kanda taklukkan mengakui kesaktian kanda prabu tetapi menurutku tidak ada salahnya jika kita merencanakan nya dengan matang"


dengan kesaktian ku aku tidak harus memperhitungkan ataupun merencanakan terlebih dahulu. detik ini juga aku sanggup menghancurkan lingga buana dan aku tidak butuh bantuan kalian"


bukan Prabu Hindun Rancasan jika Sudi menerima usulan orang lain meskipun itu adik kandung nya sendiri yang berdiri di gelang-gelang yang menjabat sebagai Patih


"baiklah kanda Prabu apapun yang kanda Prabu lakukan aku akan selalu siap menjadi tangan kanda Prabu"


"panglima Saradipa, panglima Salaka dompa cepat siapkan pasukan perang, pasukan pemanah, pasukan tempur, dan juga pasukan pembawa sejata, dan siapkan kuda-kuda pilihan malam ini juga kita berangkat dan kalian bantu Ganda lawean dan prajurit-prajurit yang terluka minta tabib istana untuk segera mengobatinya"


setelah memberi perintah kepada dua panglima pilihan dan juga pengawal-pengawal istana

__ADS_1


Patih Braja Gonta segera menyiapkan keperluan uperang. malam itu pasukan perang yang di pimpin langsung oleh Prabu Hindun Rancasan segera berangkat menuju hutan perbatasan dukuh Pakuan timur dan mereka berencana untuk mendirikan kemah di hutan itu


***


sementara di pondok kediaman para pendekar sakti yang akan menjadi tameng kerajaan lingga buana di bawah pimpinan pendekar Samber nyawa dan Satria Abimanyu siang dan malam mereka menggembleng para pemuda yang siap menjadi prajurit perang yang dengan sukarela mereka berdatangan dari berbagai desa yang berada di bawah naungan Gusti Prabu Nara Wenda mereka pun datang tanpa diundang


sementara pendekar pedang Dewa Naga hitam dia tidak berada di tengah-tengah pendekar-pendekar sakti itu, saat ini Wadon Segoro tengah menuju ke suatu tempat untuk menemui seseorang dan hal itu sesuai perundingan, ternyata tidak sulit bagi pendekar pedang Dewa Naga hitam atau Nirwana Wadon Segoro untuk menemukan seorang Dewi kilat kematian yang namanya cukup di kenal oleh jagat persilatan


"angin apa yang membawamu berkunjung ke tempat ku pendekar? apakah kau berubah pikiran? atau ada sesuatu yang kau inginkan dariku?"


Dewi kilat kematian menyambut kedatangan pendekar pedang Dewa Naga hitam nada suara serta tatapan mata Dewi kilat kematian memang tidak terlalu ramah tetapi bagi pendekar pedang Dewa Naga hitam itu bukan hal yang penting


"kau benar Dewi apa yang kau katakan itu benar aku datang kesini dengan membawa tujuan aku butuh bantuan mu"


"Hi..hi..hi..hi..hi. apa aku tidak salah dengar pendekar besar sepertimu mbutuhkan bantuanku? baiklah ku hargai kejujuran mu pendekar silahkan masuk kita bicara di dalam"


tanpa ragu-ragu ataupun menaruh curiga pendekar pedang Dewa Naga hitam melangkah masuk ke dalam mengikuti Dewi kilat kematian


"silahkan duduk pendekar katakan bantuan apa yang kau inginkan dariku? oh ya apakah kau mau minum?"


"tidak Dewi terimakasih kau mengijinkan aku masuk pun bagiku itu sudah cukup,. saat ini aku dan sodara-sodara seperguruan ku tengah menghadapi masalah yang sulit, Dewi apakah kau pernah mendengar mengenai seorang Raja bernama Prabu Hindun Rancasan Raja sakti kerajaan gelang-gelang?"


sebelum mengutarakan tujuan yang sebenarnya pendekar pedang Dewa Naga hitam bertanya terlebih dahulu


"tentu saja pendekar orang-orang persilatan mana yang tidak mengetahui akan kesakitan Raja serakah itu, tetapi ada apa pendekar mengapa kau menanyakan mengenai iblis tua itu? aku bahkan tidak Sudi jika harus berurusan dengan nya, kau masih muda pendekar dan masih cantik jangan pernah mau di peralatan biadab itu"


Kalimat yang di ucapkan oleh Dewi kilat kematian terdepenuh kebencian sehingga Nirwana Wadon Segoro tidak ragu-ragu lagi untuk mengutarakan niat kedatangannya

__ADS_1


BERSAMBUNG


mohon dukungan ya kawan


__ADS_2