
"Nampak nya kau terburu-buru sekali pendekar? tapi baiklah ada satu hal yang ingin ku ketahui. apa hubungan mu dengan Dewi Ambalika?"
Mayang suri mengerutkan kening mendengar pertanyaan dari Dewi kilat kematian "siapa sebenarnya wanita ini sepertinya dia mengenal Dewi Ambalika dengan baik" bisiknya dalam hati
"maaf Dewi kilat kematian mengapa kau menanyakan hal itu?"
"aku hanya ingin mengetahui nya saja pendekar tolong jawab pertanyaan ku. ada hubungan apa antara dirimu dengan Dewi Ambalika?" tanya Dewi kilat kematian dengan tegas
"sesungguhnya aku tidak begitu mengenal Dewi Ambalika apalagi punya ikatan hubungan. lalu apa yang membuatmu begitu ingin tau?" jawab Mayang suri tidak kalah tegas
"pedang itu pedang Dewa Naga hitam terakhir ku dengar pedang pusaka itu jatuh ke tangan Dewi Ambalika. dan kini pedang itu berada di tanganmu. itulah yang membuat ku bertanya"
pendekar pedang Dewa Naga hitam termenung sejenak sikapnya semakin waspada
"maaf pendekar jujur ku akui sejak pagi tadi aku melihat mu berada di sungai dan melihat pedang Naga hitam itu aku terus mengikutimu hingga disini. sebetulnya aku hendak menyapamu sejak tadi namun ku urungkan niat ku karena ku pikir kau akan menemui seseorang dan dugaanku kau akan menemui Dewi Ambalika"
"terimakasih atas kejujuran mu Dewi kilat kematian. dan jujur pula ku akui aku samasekali tidak mengenal Dewi Ambalika.
mengenai pedang ini seseorang menitipkannya padaku saat rumahnya di satroni segerombolan perampok yang kebetulan saat itu aku bermalam disana
orang itu tidak mengatakan apapun dia hanya memintaku untuk selalu menjaga pedang pusaka ini dan jangan sampai jatuh ke tangan orang lain hingga suatu hari nanti dia akan mengambilnya kembali"
Mayang suri menjelaskan dengan seksama
"baiklah pendekar aku percaya pada ucapan mu. tapi satu hal lagi kalau aku boleh tau apakah yang menitipkan pedang itu seorang laki-laki atau seorang perempuan?" Dewi kilat kematian bertanya dengan penuh hati-hati
"seorang perempuan setengah baya dan dia hanya pemilik kedai kopi samasekali tidak ada tanda-tanda kalau wanita itu seorang pendekar"
__ADS_1
Dewi kilat kematian mengerutkan kening dalam benaknya penuh tanda tanya
"apakah Dewi Ambalika sengaja menitipkan pedang pusaka itu pada seorang wanita biasa pemilik kedai untuk menghilangkan jejak dari kejaran pendekar-pendekar sakti yang menginginkan pedang pusaka itu? ataukah wanita itu Dewi Ambalika yang menyamar sebagai pemilik kedai?"
Mayang suri menatap wajah Dewi kilat kematian penuh rasa penasaran
"maaf Dewi kilat kematian apakah Dewi kilat kematian mengenal Dewi Ambalika?
itu hanya sekedar kenal atau ada hubungan?"
Dewi kilat kematian yang berbalik menatap wajah Mayang suri yang tertutup kain cadar hitam
"jika kau percaya padaku pendekar
akulah pewaris pedang itu yang sesungguhnya. ayahku bernama Naga luing pemilik sah dari pedang pusaka itu. dan Dewi Ambalika istri simpanan ayah ku namaku Laras jingga. bertahun-tahun aku mencari Dewi Ambalika setelah aku mendengar berita mengenai kematian ayah ku bahkan aku sempat mendatangi perguruan ayahku yang telah di ambil alih oleh Ambalika namun sayang aku tidak bertemu dengannya dan menurut keterangan dari salah satu muridnya Dewi Ambalika telah lama meninggalkan perguruan"
"tunggu pendekar kau tidak bisa pergi begitu saja. aku sudah mengatakan padamu dengan jelas bahwa akulah yang berhak atas pedang pusaka itu"
Mayang suri menangkap ada yang tidak beres dari nada suara Dewi kilat kematian
diapun mundur selangkah untuk menjaga segala kemungkinan
"jadi apa yang kau inginkan Dewi kilat kematian? dan jika kau menginginkan pedang ini sekali lagi ku katakan aku mohon maaf karena aku tidak bisa memberikan nya padamu"
"jangan keras kepala pendekar pedang pusaka itu bukan hak mu jadi anggap saja tugasmu menjaga pedang pusaka itu sudah selesai hari ini" suara Dewi kilat kematian sudah mulai meninggi
"tidak meskipun aku harus mati aku tidak akan menyerahkan pedang ini padamu. jadi ku pinta dengan baik-baik menyingkirlah dari hadapanku" Mayang suri pun sudah naik pitam
__ADS_1
"ooh jadi itu yang kau inginkan pendekar?
jadi jangan salahkan aku jika nyawamu berakhir di tangan ku. aku sudah memintanya dengan baik-baik tapi kau tetap bersikeras terimalah serangan ku"
Dewi kilat kematian melancarkan serangan jurus-jurus nya yang mematikan dan sasarannya selalu mengarah pada organ tubuh yang paling patal namun tidak ada satupun serangan yang mengenai musuhnya
di tengah-tengah pertarungan nya Dewi kilat kematian masih sempat bicara
"aku memang pernah kalah oleh mu pendekar tetapi tidak untuk kali ini meskipun aku pernah berjanji untuk berubah menjadi lebih baik tapi tidak untuk pedang pusaka itu"
"ternyata kau masih ingat dengan janjimu Dewi kilat kematian. tetapi asal kau tau sedikitpun aku tidak percaya padamu dan aku tidak harus mencabut pedang Dewa Naga hitam hanya untuk menghadapi dirimu"
amarah Dewi kilat kematian Semakin memuncak mendengar Mayang suri yang seolah-olah meremehkan dirinya
"jangan terlalu sombong pendekar kau belum mengetahui kesaktian ku yang seutuhnya"
Dewi kilat kematian merasa terpancing
serangan demi serangan di lancarkan oleh Dewi kilat kematian namun selama sekali tidak mengenai sasaran hingga Mayang suri melihat adaa celah untuk menyerang balik "buuukkkk" suara pukulan Mayang suri tepat mengenai dada Dewi kilat kematian hingga mundur beberapa langkah ke belakang
pertarungan-pertarungan pendekar wanita berlangsung dengan hebatnya keduanya sama-sama tangguh hingga tengah malam pertarungan masih tetap berlangsung
entah sejak kapan sepasang mata mengintai dari balik batu besar yang tidak terlalu jauh dari tempat pertarungan itu
seorang pemuda berwajah tampan bertubuh tinggi dan berkumis tipis sepertinya pemuda itu berpikir keras bagaimana caranya dia menghentikan pertarungan itu. tangannya menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal. dan tangan yang satunya lagi terus menepuk-nepuk kepalanya. tiba-tiba bibirnya tersenyum sepertinya dia menemukan akal kedua matanya menyipit mengintai lubang kecil di bawah batu tempatnya bersembunyi
seekor katak kecil melompat di kakinya dengan gesit tangannya menangkap katak itu lalu di ikatnya kaki katak itu dengan akar ilalang serta di dekatkan nya pada mulut lubang talinya terus di tarik ulur hingga dalam beberapa menit saja muncullah kepala seekor ular tali terus di tarik dengan tujuan untuk memancing ular itu keluar dari lubang setelah separuh badan ular itu keluar dengan hati-hati tangan pemuda itu menangkap leher si ular
__ADS_1
BERSAMBUNG