MANTRA HITAM PEMIKAT

MANTRA HITAM PEMIKAT
CH 4 sirnanya harapan mayang


__ADS_3

"sinar matahari pagi masuk kedalam kamar Mayang, menyinari wajah Mayang yang masih tertidur, akhirnya mayang pun membuka mata dan bangun lalu bergegas untuk mandi dan ganti pakaian"


"setelah sarapan Mayang pergi menuju kediaman giri, beberapa saat kemudian Mayang pun tiba di kediaman giri


sebuah bangunan megah berdiri kokoh di hadapan Mayang, dengan memberanikan diri Mayang melangkah menghampiri penjaga"


seorang penjaga pun menghampiri Mayang dan bertanya "maaf Nini hendak bertemu siapa?"


"aku ingin bertemu kakang Sidra giri Paman,


tolong katakan Mayang suri mencarinya"


"baik Nini tunggu sebentar" jawab penjaga sambil berlalu


"tidak lama kemudian seorang wanita setengah baya berparas cantik dan berpakaian serba mewah menghampiri Mayang"


tanpa basa-basi dengan sikapnya yang dingin


wanita itu langsung bertanya


"apa kau yang bernama Mayang suri"


"iya" jawab Mayang sambil mengangguk


"putraku sedang tidak di tempat jadi kau tidak bisa menemuinya" tanpa menunggu jawaban Mayang wanita itu langsung masuk kembali


Mayang tertegun hatinya terasa perih


"beginikah sambutan orang terhormat terhadap orang miskin sepertiku?"


tanpa terasa air mata Mayang menetes


Mayang pun pergi meninggalkan rumah megah itu


"setibanya di rumah Mayang tidak dapat menahan tangisnya,


langit nampak mendung hujan pun mulai turun


di tengah tangisnya Mayang berlari menuju pematang sawah"


di bawah guyuran hujan Mayang bersimpuh dan berteriak


"mengapa aku di lahirkan dari keluarga miskin,


mengapa aku sehina ini, mengapa takdir tidak menjadikan aku manusia yang punya kasta


mengapa" di bawah kilatan cahaya petir yang menyambar Mayang terus menjerit meratapi nasibnya


tiba-tiba Mayang di kejutkan oleh suara


"kak Mayang"


Mayang pun menoleh


"seorang pemuda berusia 18 tahun berdiri tepat di belakangnya


Mayang tau pemuda itu hendak lewat


Mayang pun memberinya jalan namun pemuda itu tetap berdiri di tempat nya"


Dengan memberanikan diri dia bertanya


"ada apa ka?, mengapa kak Mayang berteriak-teriak di tengah hujan?"


Mayang tidak menjawab dalam keadaan basah kuyup Mayang berlari begitu saja meninggalkan pemuda itu


**


"seminggu kemudian warga di kejutkan oleh kedatangan rombongan prajurit kerajaan"


"para penduduk desa mereka semua berbondong-bondong untuk melihatnya"


"sedangkan Mayang belum sempat menemui Sidra giri"


warga saling bertanya "ada apa?, mengapa?,

__ADS_1


prajurit kerajaan datang menjemput panglima danda sokana?" mereka hanya menggelengkan kepala


"di suatu pagi seorang penduduk tengah berlari


menghampiri Mayang dia memberitahukan


bahwa panglima danda sokana seorang penghianat kerajaan" itu desas-desus yang mereka dengar


"Mayang menghempaskan tubuhnya ke atas bale kecil, badannya terasa lemas air matanyapun menetes di pipinya"


sepeninggal tetangganya


Mayang hanya terdiam


"apa yang harus aku lakukan semuanya sudah terjadi" gumam Mayang


"tiga hari kemudian Mayang mencoba mendatangi kediaman Sidra giri kembali


namun rumah itu nampak sepi tidak ada seorangpun penjaga disana"


seorang penduduk kebetulan lewat


dan bertanya kepada mayang,


"Nini sedang apa kamu disini?"


"saya ingin bertemu dengan kakang Sidra giri


tapi rumahnya terlihat sangat sepi" jawab Mayang


"apa Nini tidak tahu kalau keluarga panglima danda sokana di usir secara tidak terhormat oleh orang-orang kerajaan?"


Mayang sangat terkejut dan bertanya


"apa kisanak tau kemana mereka pergi?"


orang itu hanya menggelengkan kepala lalu pergi meninggalkan Mayang


"di perjalanan pulang Mayang mendengar cerita-cerita warga bahwa panglima danda sokana akan dihukum gantung"


Mayang sama sekali tidak terkejut


dengan nada suara yang tegas Mayang bicara


"aku sudah menduganya kalian akan datang


tidak usah memaksaku aku akan ikut kalian"


sepertinya Mayang tidak punya lagi pilihan


sekitar jam lima sore mereka tiba di kediaman juragan karja, karja menyambut mereka dengan gembira


"selamat datang manis, akhirnya dirimu menyerah juga, aku akan membuatmu menjadi seorang wanita paling bahagia di muka bumi ini" karja memberi isyarat kepada anak buahnya untuk meninggalkan mereka berdua


Mayang menatap sinis senyumnya terlihat hambar,


karja kembali bicara


"apa kau sudah siap untuk ku persunting manis, apa kau sudah siap menjadi permaisuri ku?"


"apakah kau memberiku pilihan?


tidak perlu kau bertanya karena kau akan tetap memaksa"


tapi sebelum itu aku ingin bertanya


"apakah dirimu yang berada di balik kejadian yang menimpa keluarga panglima danda sokana?"


"HA HA HA HA HA" karja tertawa terbahak-bahak mendengar pertanyaan Mayang


"sudah kubilang tidak ada satu orang pun di muka bumi ini yang sanggup mengalahkan kekuatan juragan karja ini"


laki-laki itu menepuk-nepuk dada penuh kesombongan


"sudah ku jawab pertanyaan mu, sekarang apa yang ingin kau lakukan terhadap ku?"

__ADS_1


karja melanjutkan ucapannya


"dengar baik-baik juragan sekarang aku jatuh ke pelukan mu tetapi bukan berarti aku kalah"


jawab Mayang penuh kebencian


"ha ha ha" karja kembali tertawa senang dia merasa tertantang dengan ucapan Mayang


"hari-hari Mayang di istana juragan karja


tidak ubahnya di neraka,


siksaan, paksaan, dan tekanan itu yang di terima setiap saat sehingga tubuh Mayang menjadi kurus wajahnya pun nampak layu


bekas luka-luka memar di tubuh Mayang terlihat jelas"


"tidak terasa tiga tahun sudah Mayang hidup dalam neraka istana juragan karja


di suatu sore disaat Mayang tengah berbincang-bincang dengan slah satu selir bernama Ningsih"


Mayang di panggil oleh salah satu kepercayaan juragan karja


"Nini Mayang juragan karja telah memanggilmu juragan menunggu Nini di kamar"


tanpa menjawab Mayang pergi meninggalkan Ningsih


"Mayang mengetuk pintu kamar lalu membuka nya, di atas ranjang juragan karja tengah duduk dengan santai, tanpa menunggu perintah Mayang duduk di hadapannya"


karja mengelus rambut Mayang lalu berkata


"tiga tahun sudah kau menjadi gundikku Mayang suri, tetapi selama itu aku tidak pernah mendapatkan kebahagiaan darimu


dirimu tidak ubahnya sebatang pohon pisang yang tidak bernyawa untuk itu aku memanggilmu"


Mayang menundukan kepala tidak sepatah katapun keluar dari mulut Mayang


karja melanjutkan pembicaraan nya


"aku ingin melepaskan mu Mayang


aku akan membebaskan mu pergilah sejauh mungkin jangan sampai aku melihatmu kembali, tapi untuk itu kita rayakan dulu perpisahan ini, aku sudah menyiapkan yeh jahe minuman kesukaan mu"


"hati Mayang bergetar antara percaya dan tidak pada ucapan juragan karja"


tanpa menunggu lama-lama karja mengambil cangkir teh yang sudah di siapkan di atas meja


"minumlah Mayang agar tubuhmu terasa segar"


"Mayang mengambil cangkir yang di berikan juragan karja"


"minumlah" juragan karja mengulangi perintahnya


"aku tidak melarangmu membawa barang-barangmu Mayang, kau rapihkan saja dulu barang-barang mu, aku hendak keluar sebentar nanti aku kembali"


"kira-kira jam delapan malam istana juragan karja di kejutkan oleh teriakan dayang yang biasa membawa makan malam untuk Mayang


karena mendapati tubuh Mayang tergeletak di lantai dalam keadaan antara hidup dan mati"


dayang pun berlari mencari juragan karja untuk memberitahukan tentang keadaan Mayang


di pendopo terlihat karja sedang duduk santai sambil menyesap teh, tiba-tiba dayang datang dan berkata


"maaf juragan Nini Mayang sedang sakit keadaannya sangat parah keadaan Nini Mayang sekarang antara hidup dan mati"


"biarkan saja" jawab karja sambil tersenyum jahat


sedikitpun juragan karja tidak merasa terkejut


wajahnya terlihat biasa saja


"sudah kamu pergi sana mengganggu saja"


ucap karja


BERSAMBUNG

__ADS_1


__ADS_2