
"Tepat sekali dugaan biyung ratu embok
tinggal beberapa langkah lagi di atas batu-batu bukit tengah duduk lima orang laki-laki
semuanya berwajah brewokan dan sangar
yang paling tua salah satu dari mereka berkepala botak dengan mengenakan ikat kepala berwarna merah, sepertinya mereka memang sengaja menunggu orang yang lewat untuk mereka rampok harta benda nya, melihat kedatangan biyung ratu dan muridnya si kepala botak langsung berdiri sambil memainkan sebilah golok"
"pucuk di cinta ulam pun tiba, tidak ada sodagar yang lewat peri pun jadi"
mendengar racauan ketuanya serta merta anak buahnya tertawa serentak
"ketua biasanya peri membawa tongkat ajaib nya. tapi peri yang satu ini tidak membawa apa-apa, ijinkan aku untuk memeriksa nya barangkali saja tongkat saktinya terselip di balik pakaian nya
sekaligus aku ingin melihat pinggang nya yang semampai" salah satu nya lagi ikut nimbrung
Mayang suri mendengus kesal mendengar olok-olok yang menjijikan
"coba saja jika kalian bisa, aku akan beri kalian hadiah kalau dari kalian ada yang mampu menyentuh ujung pakaian ku"
"Ha ha ha hah, aku pikir peri itu selembut sutra ternyata ada juga peri yang sombong"
si kepala botak merasa tidak senang mendengar ucapan Mayang suri
"hei setan kepala botak dengar baik-baik
jika kalian ingin tahu aku bukan hanya peri kayangan tapi juga peri bumi"
"cukup muridku, tidak akan ada habisnya jika kau meladeni setan-setan pecundang itu" biyung ratu menghentikan Mayang suri
agar tidak terpancing emosi nya
"Wiiiihh rupanya bukan hanya peri cantik tetapi ada juga peri keriput"
mendengar ejekan itu biyung ratu embok maju selangkah
"setan kepala botak menyingkirk dari hadapan kami, aku tidak punya waktu untuk meladeni kalian karena percuma kalian kutu-kutu busuk hanya membuang-buang waktu ku saja. kalian lebih pantas main kelereng dengan bocah-bocah kampung
ketimbang merampok"
telinga si kepala botak menjadi merah mendengar ucapan biyung ratu embok
__ADS_1
"nenek tua. peot keriput berani sekali kau menghina ku, asal kalian tau akulah ketua setan kepala botak, semua orang segan terhadap kami "
biyung ratu embok tertawa geli mendengar si kepala botak menyombongkan diri
"He he he, jagat persilatan yang mana
yang hormat pada cecunguk-cecunguk seperti kalian, aku baru dengar paling-paling anjing kurap yang Sudi menjadi pengikut kalian, itupun anjing kurap yang buta dan tuli. he he he he heh"
amarah si kepala botak semakin memuncak wajahnya pun mereh padam secepat kilat laki-laki itu menghantamkan golok nya ke leher biyung ratu namun biyung ratu bukanlah wanita biasa dengan gerakan yang sangat cepat menghantamkan pukulan tepat di ubun-ubun si kepala botak
"buukkk" tubuh laki-laki itu terhuyung
melihat kejadian itu ke empat anak buahnya serempak berlompatan untuk segera membantu ketuanya
Mayang suri pun tidak tinggal diam sambil melompat dia dia berteriak pada gurunya
"guru sebaiknya guru minggir saja biar aku yang menghadapi kutu-kutu busuk ini kebetulan tulang-tulang ku agak pegal
mungkin. dengan sedikit berolahraga akan pulih kembali"
biyung ratu embok menuruti muridnya beliau pun minggir
"ke empat anak buah setan kepala botak tidak bisa lagi menahan amarahnya
tetapi Mayang suri dengan gerakan yang tenang tidak terkecoh oleh Kilauan cahaya golok yang bergantian berkelebat menyambar tubuhnya"
melihat golok-golok itu yang seakan haus dengan darahnya Mayang pun melompat ke atas tidak lama kemudian kakinya menapak di atas punggung golok serta sebelah kaki nya lagi berputar menyapu wajah-wajah beringasan itu
"buk buk buk buk" suara tendangan Mayang dengan kerasnya
mereka semua terdorong ke belakang beberapa meter, dari hidungnya dan juga mulut mereka mengeluarkan darah segar
rupanya murid tunggal biyung ratu penguasa lembah gurang-rang itu baru saja mengeluarkan jurus Sapuan kaki bidadari
dan tanpa ampun lagi gigi ke empat setan pun tanggal semuanya
tidak hanya cukup sampai disitu rupanya gadis cantik itu belum merasa puas
"jurus jari kematian" gumam Mayang
"jrass jrass jrass" kali ini mata mereka yang jadi mangsanya, melihat ke empat anak buah nya terkapar hampir sekarat setan kepala botak yang telah berusaha memulihkan tenaga nya melompat menyerang Mayang dengan jurus mematikan
__ADS_1
Mayang suri hanya berkelit sedikit untuk menghindari serangan itu serta merta membalikkan tubuhnya
"buuukkkk" sebuah pukulan telak di punggung setan kepala botak di susul kemudian sebuah tendangan tepat di pinggang "buuukkkk" tubuh setan kepala botak terpental jauh ke samping
"bruk bruk bruk duarrr" suara tubuh setan kepala botak menabrak pohon dan mendarat di batu besar hingga hancur
tendangan Mayang cukup keras hingga memecahkan organ vital nya setan kepala botak tidak berdaya
Mayang kembali membalikan tubuhnya hendak menyusul setan kepala botak yang terpental cukup jauh berniat hendak menghabisi nyawa setan kepala botak namun gurunya berteriak melarang muridnya "jangan muridku tidak baik membunuh lawan yang sudah tidak berdaya, sebaiknya kita segera tinggalkan tempat ini"
Mayang suri mengangguk serta menghentikan niatnya, sambil berjalan Mayang suri merapihkan pakaian nya yang nampak kusut karena pertarungan tadi
bukit-bukit sudah terlewati hanya satu rintangan lagi yang mungkin akan menghambat perjalanan mereka
"gerombolan setan tengkorak merah, murid-murid perguruan tengkorak merah biasanya mereka bersarang di lembah curam di tepi jurang kaki gunung pasung"
sebelum melewati lembah itu biyung ratu memberitahukan muridnya
"Mayang jika saja tidak ada gangguan lagi menjelang tengah malam nanti kita akan tiba di kaki gunung singgaru, namun sepertinya kita harus melewati dulu cecunguk-cecunguk yang kelaparan yang sarangnya tidak jauh dari sini"
"saya sudah siap guru, sedikitpun saya tidak merasa takut untuk menghadapi siapapun dan untuk kali ini saya mohon ijin pada guru. biarkan muridmu ini memusnahkan cecunguk-cecunguk liar itu"
nada ucapan Mayang suri penuh semangat
biyung ratu tersenyum
"aku tidak melarangmu Mayang, hanya saja bukan mereka tujuan mu. jangan sia-siakan tenaga mu dan jangan mengotori tangan mu dengan darah cecunguk-cecunguk yang tidak berguna"
ke khawatiran biyung ratu embok terhadap muridnya nampak jelas pada nada ucapan nya
Mayang suri sosok murid yang cukup cerdas dia dapat mencerna makna ucapan gurunya dalam senyum lembutnya Mayang menjawab
"jangan khawatir guru saya tidak akan pernah menyalahgunakan ilmu yang guru turunkan dan saya juga tidak akan lupa pada tujuan semula, saya akan selalu menerapkan ajaran-ajaran guru. saya bisa membedakan mana yang benar dan mana yang salah, meskipun saya jauh dari guru saya akan tetap mematuhi aturan guru'
Mayang suri menenangkan hati gurunya
biyung ratu mengangguk
"kau memang muridku yang pintar Mayang
cerdas dan juga cerdik aku percaya padamu kau tidak akan menyalahgunakan semua ilmu yang ku wariskan padamu"
__ADS_1
BERSAMBUNG