
Sepintas terlihat mereka ketakutan jika membicarakan atau menyebut nama Wulung Sabak itu terlihat dari keisengan Panji gara yang bertanya pada pemilik kedai untuk memastikan apa benar raja Cipamanahan pada masa ini bernama prabu Wulung Sabak terlihat raut wajah ketakutan dari pemilik kedai itu dan dia hanya menjawab "maaf den saya tidak tahu menahu mengenai raja saat ini karena jarang sekali ada prajurit istana yang mampir di kedai ini"
Panji gara merasa kecewa dengan jawaban seperti itu, mereka pun meninggalkan kedai setelah membayar makanan dan minuman, dan untuk menempuh perjalanan dari kedai ke istana Cipamanahan hanya membutuhkan waktu sekitar 30 menit, sepertinya tidak ada satu orang penduduk pun yang mengenali Wisnu Abi Rawa, Sidra giri, Singgih narpati, Naga Sura, Panji gara, serta Darma Sena
itu di pastikan jika mereka kebetulan berpapasan dengan penduduk orang itu hanya memandang wajah mereka sekilas dan tidak terdapat kecurigaan pada mereka pasukan yang dipimpin Wisnu Abi Rawa pun tiba di pinggir benteng kerajaan Cipamanahan di sebelah selatan, Panji gara menengadahkan kepalanya
"lihat kakang ternyata benteng-benteng ini sangat tinggi dan aku rasa penjagaan didalam sangatlah ketat. kakang darimana kita mulai menerobos masuk?" Panji gara meminta petunjuk pada ketuanya
"sebentar adik-adik ku dinding ini sangat tinggi dan tebal sepertinya dari gerbang depan ke halaman pendopo kerajaan jaraknya cukup jauh tapi coba kalian dengarkan dengan teliti aku mendengar dentingan suara pedang yang beradu, apakah dentingan pedang itu prajurit-prajurit yang sedang berlatih ataukah ada orang lain yang telah mendahului kita?"
"benar kakang aku mendengar nya" jawab Singgih narpati
"tapi jika pun ada orang lain yang mendahului kita siapa orang itu berani sekali mengacaukan rencana kita" Singgih narpati melanjutkan ucapannya
"kakang" kini Panji gara yang buka suara
"aku mencium bau wangi dan aku pernah mencium bau wangi ini sepertinya dia hanya sendirian karna bau wangi yang ku cium hanya dari tubuh satu orang saja, kakang apa jangan-jangan?" Panji gara mengerutkan kening
sepertinya mereka semua setuju dengan pikiran Panji gara
"ayo cepat kita segera menerobos masuk"
Wisnu Abi Rawa memberi komando dan neraka semua pun dengan sigapnya segera berlompatan keatas benteng istana untuk memasuki halaman istana dan tidak satupun dari mereka yang masuk melalui gerbang, dengan langkah yang sangat hati-hati mereka menuju kearah suara dentingan pedang
benar saja seseorang tengah berada dalam keroyokan beberapa prajurit
tiba-tiba terdengar suara seseorang sangat keras
__ADS_1
"ada penyusup...ada penyusup segera siapkan prajurit penyusup itu tidak hanya sendirian, cepat siapkan prajurit hadang mereka jangan sampai mereka masuk ke pendopo istana"
mendengar teriakan itu Wisnu Abi Rawa segera memberi perintah
"adik Singgih adik Panji cepat bantu pendekar itu, aku dan yang lainnya akan menghadapi prajurit-prajurit yang datang"
tidak dapat di hindari pertempuran di halaman pendopo kerajaan pun berlangsung dengan serunya
Panji dan Singgih sudah dapat memastikan siapa pendekar yang sedang mengamuk membantai prajurit kerajaan dengan kedua pedang pusaka yang di genggam erat dengan kedua tangannya
"adik Mayang mengapa kau mendahului kami? sejak kemarin kami menunggumu di gunung kembar, mengapa kau mengambil keputusan sendirian?"
"jangan banyak bertanya dulu kakang lihat kita sedang terkepung. oh ya mengapa kalian cuma berdua dimana yang lainnya?"
"kakang Wisnu dan yang lainnya menghadang prajurit-prajurit yang menyerbu mu, aku dan adik Panji di perintahkan untuk membantu mu" jawab Singgih narpati sambil tangannya menghantam prajurit yang berusaha menyerang mereka
"siapkan pasukan panah lindungi Gusti prabu dan Gusti Patih dan kau" orang itu menunjuk salah satu prajuritnya
"cepat beritahukan Senopati dan hulu balang" semua yang di perintahkan menjadi panik beberapa prajurit pilihan berhamburan masuk kedalam istana untuk melindungi Raja dan Patih nya, dan dua prajurit lainnya melarikan kudanya dengan cepat untuk segera memberitahukan Senopati dan hulu balang
Wisnu Abi Rawa mendekati Mayang suri yang sudah terlebih dahulu memasuki pertempuran
"adik Segoro apa apa kau sudah mengetahui dimana Prabu Wira Nanta dan permaisuri nya di tawan?"
"belum kakang aku belum sempat menyelidikinya, kehadiran ku keburu ketahuan salah satu prajurit, semula aku memang berniat untuk menyelidiki keberadaan Prabu Wira Nanta tapi sayang prajurit-prajurit sial itu segera menghadang ku, ternyata penjagaan disini sangat ketat kakang lalu sekarang bagaimana kakang?"
Nirwana Wadon Segoro atau Mayang suri bertanya pada ketua Wisnu Abi Rawa
__ADS_1
"sebaiknya kita bagi tugas, harus ada salah satu dari kalian yang meloloskan diri dari kepungan untuk mencari tahu keberadaan Prabu Wira Nanta"
"baik kakang kami akan segera mencari celah untuk meloloskan diri"
"baiklah yang lain berusaha kelabui prajurit-prajurit itu agar ada kesempatan dan siapa saja yang mendapat kesempatan itu segera keluar dari kepungan"
dengan menyingkirkan prajurit-prajurit yang terus menyerangnya Darma Sena berusaha mendekati Sidra giri
"lihat kakang dua laki-laki berkuda yang baru datang itu. mungkin merekalah Senopati dan hulu balang tetapi mataku masih awas kakang kedua orang itulah yang aku cari Gagak Lanang dan Jara Tirta"
Sidra giri melihat kearah yang di tunjukan Darma Sena seraya berbisik
"lalu apa rencana mu Sena?"
"entahlah kakang belum sempat aku pikirkan tetapi yang jelas kedua biadab itu milikku"
Sidra giri menarik tangan Darma Sena sambil terus memainkan pedangnya untuk mendekati Wisnu Abi Rawa, setelah berada di dekatnya Sidra giri membisikkan sesuatu
"posisi kita masih terkepung belum ada satupun dari kita yang bisa lolos dan lihatlah itu pasukan pemanah mereka telah siap melepaskan anak panah dari gondewa nya"
"kalian tetap waspada aku akan berusaha mengacaukan perhatian pasukan pemanah itu"
tiba-tiba Panji gara mendekati Wisnu Abi Rawa "kakang aku dan adik Mayang punya rencana tapi untuk itu aku butuh bantuan kakang loloskan kami berdua dari kepungan ini"
diatas bangunan istana pasukan panah telah siap melaksanakan tugasnya hanya tinggal menunggu komando
Wisnu Abi Rawa, Sidra giri dan Darma Sena berusaha untuk meloloskan Panji gara dan Mayang suri dari kepungan, ratusan mayat prajurit telah bergelimpangan di tanah dengan tubuh berlumuran darah tetapi meskipun sudah ratusan prajurit yang menjadi korban namun prajurit-prajurit itu seakan tidak berkurang
__ADS_1
BERSAMBUNG