MANTRA HITAM PEMIKAT

MANTRA HITAM PEMIKAT
CH 69 TIMBUL PERASAAN


__ADS_3

Satria menatap wajah Wadon Segoro ada keputus asaan di sinar mata gadis itu


"nyebut pendekar jangan terbawa emosi tidak baik kau berbicara seperti itu karna Sanghyang Widhi tidak suka mendengarnya


ada kata pepatah yang mengatakan siapa yang memetik bunga yang berduri maka harus siap tertusuk durinya"


"dulu aku mengira perjalanan hidupku akan sangat indah berdampingan dengan seseorang yang sangat ku cintai tetapi apa kenyataan nya!!! hanya kehancuran yang ku dapati dan hingga saat ini pula selalu itu yang ku rasakan"


"mungkin kau benar pendekar karna begitulah adanya manusia. disaat dalam kesulitan selalu merasa dirinya paling sengsara. tetapi jika berada dalam kebahagiaan dia akan lupa diri!"


Wadon Segoro tersenyum mendengar penuturan Satria diam-diam gadis itu mengakui hatinya terasa sejuk berada di samping Satria


"sekarang apa rencana mu pendekar?!! aku mohon ijinkan aku untuk beberapa hari kedepan menemani langkahmu"


"tidak Satria terimakasih lagipula aku belum punya rencana untuk melanjutkan perjalanan. apa yang membuatmu ingin menemani perjalanan ku?!!"


"maaf pendekar aku sama sekali tidak punya niatan apapun. aku hanya khawatir jika kau berjalan sendirian akan banyak lagi korban yang berjatuhan yang akan menjadi pelampiasan amarahmu!!"


kini Wadon Segoro yang tertawa


"kau pikir aku ini Ratu siluman pesugihan yang sedang mencari tumbal hingga kau punya pemikiran seperti itu"


tanya Wadon Segoro di sela tawanya


"melihat kejadian tadi kau lebih ganas dari Ratu siluman pesugihan"


akhirnya mereka berdua pun tertawa-tawa


"Satria aku lapar!! apa kau mau menemaniku mencari kadai makanan ke dusun di kaki bukit ini?"


"tentu tuan putri hamba akan selalu bersedia untuk menemani tuan putri kemanapun tuan putri melangkah"


Satria berseloroh setengah menggoda

__ADS_1


mendengar kalimat demi kalimat yang di ucapkan Satria dengan tulus ada perasaan sejuk dan damai di hati Wadon Segoro tanpa sadar di balik cadar bibirnya tersenyum manis. namun jauh di dalam lubuk hatinya gadis cantik ini tidak ingin menodai kesucian cintanya pada Sidra giri


diapun segera menghindari perasaannya terhadap satria diapun segera berdiri menggamit tangan Satria menuruni bukit menuju ke perkampungan untuk mencari kedai makanan dan tanpa mereka sadari sudah semalaman mereka berdua berada di atas bukit dan saat menuruni bukit


sang mentari pagi sudah menampakkan dirinya dengan sinarnya yang berseri


ternyata di kaki bukit pada jalan setapak yang memasuki perkampungan ci Tamiang


masih satu kelurahan dengan Sindang sugih satu desa beda kampung hanya terhalang oleh bukit. di kiri kanan jalan kampung nampak hamparan sawah yang membentang daun padinya subur menghijau


Wadon Segoro berdiri termangu matanya terasa nanar menatap hamparan sawah


Satria ikut berdiri di samping Wadon Segoro


untaian kalimat meluncur dari bibir nya yang tipis


"ada pepatah mengatakan langkah kaki yang selalu tertutup masalalu akan terasa sulit untuk melaju ke depan"


Wadon Segoro atau pendekar pedang Dewa Naga hitam menoleh mendengar untaian kalimat itu tatapan matanya sayu terkadang dia tidak habis pikir mengapa pemuda di samping nya ini seperti selalu mengetahui yang ada dalam pikiran nya gadis itupun memberi komentar


"Ha..ha..ha..ha" Satria tertawa mendengar komentaran Nirwana Wadon Segoro dan tidak di sangka jawaban pemuda itu membuat hati Wadon Segoro berdegup kencang


"mungkin kau ada benarnya pendekar tetapi jangan terlalu menyanjung ku nanti kau bisa jatuh hati padaku dan aku tidak ingin patah hati karna dirimu"


entah ucapan itu sungguh-sungguh atau hanya bergurau namun jika saja wajah Wadon Segoro tidak tertutup dengan kain cadar akan terlihat dengan jelas kedua pipinya bersemu merah jujur dia akui hampir setiap kalimat yang di lontarkan Satria selalu terasa menyejukkan hati namun lagi-lagi bayangan Sidra giri muncul di benaknya. Wadon Segoro berusaha untuk menepisnya namun Satria segera menepuk bahunya


"tidak usah di tepiskan pendekar. biarkan saja dia selalu mengisi benakmu. aku cukup mengerti karna cinta sejati tidak mudah untuk di hapuskan"


Wadon Segoro menghela napas


"Satria lama-lama aku merasa riskan selain kau selalu dapat menebak jalan pikiran ku


kau selalu memanggilku dengan sebutan pendekar. bukan nya aku tidak suka hanya saja terlalu gamang kedengarannya. kau bisa memanggilku dengan sebutan Wadon Segoro atau Mayang suri misalnya. yang penting tidak memanggilku dengan sebutan pendekar"

__ADS_1


Satria tersenyum mendengar pengakuan yang tulus dari gadis itu


"baiklah jika itu yang kamu inginkan terimakasih karna kau telah mengijinkan aku untuk lebih dekat mengenal dirimu. dan rasanya aku lebih suka memanggilmu Suri


karna selain mudah di ingat juga mengandung arti"


Wadon Segoro mengangguk tanda menyetujui tetapi ada rasa penasaran dalam hatinya "memangnya kau tau apa artinya suri?"


"tentu. suri artinya Ratu dan kau pantas memiliki wajah secantik bidadari"


entah mengapa mendengar ucapan Satria Wadon Segoro menjadi salah tingkah dadanya terasa berdebar namun dia berusaha menguasai perasaan nya. untuk mengalihkannya gadis itu menggamit tangan Satria di tariknya untuk melanjutkan perjalanan


"aku sudah sangat lapar Satria. menelan kata-kata mu tidak membuat perutku kenyang"


pemuda itu tertawa terbahak-bahak seperti ada rasa bahagia di balik tawanya itu dia tau benar gadis itu berusaha menutupi perasaan nya


kampung itu cukup padat penduduknya meski tidak sejajar rumah-rumah warga berderet berdampingan. setelah melewati beberapa rumah warga Satria dan Wadon Segoro memasuki halaman sebuah warung meski tidak besar warung itu lumayan lengkap ada kopi, wedang jahe, kue-kue basah dan kue kering, dan juga nasi lengkap dengan lauk Pauk sambal dan lalapan. di halaman warung terdapat sebuah bangku dan hanya terdapat empat bangku yang sejajar dan dua kursi di masing-masing meja


Satria mengambil meja yang paling pojok yang di sebelah kirinya di tutupi dengan dinding bilik setengah badan hingga nampak jelas rumah warga-warga lain di sebelah warung.


seorang gadis belia berusia belasan tahun


menghampiri mereka. wajahnya lumayan cantik tersenyum manis dengan suaranya yang ramah khas gadis Sunda


"permisi tuan-tuan mau pesan apa?!!


mau kopi, teh manis, atau mau makan nasi?"


Satria tersenyum entah karna logat gadis itu atau karna Satria pemuda ramah pada semua orang


"aku pesan dua piring nasi lengkap dengan lauk Pauk sambal dan lalapan. dan jangan lupa neng geulis minumannya dua gelas teh manis hangat"


"baik tuan tunggu sebentar saya akan siapkan" gadis itu manggut hormat dan meninggalkan meja untuk menyiapkan pesanan

__ADS_1


BERSAMBUNG


__ADS_2