MANTRA HITAM PEMIKAT

MANTRA HITAM PEMIKAT
CH 46 PERISTIWA YANG MENIMPA DARMA SENA


__ADS_3

"Saya dan ayah saya bertindak sebagai pendidik mereka, tidak terasa waktu berlalu begitu cepat setelah saya dan ayah saya menjadikan mereka orang-orang yang berpendidikan dan memiliki ilmu agama yang cukup untuk dirinya dan keluarganya, ternyata perjalanan hidup seseorang tidaklah semulus yang di bayangkan entah apa yang merasuki mereka hingga pada suatu hari tersebar berita yang menyakitkan


tuduhan keji tanpa alasan mungkin karena kehidupan saya yang sudah banyak perubahan hingga ada yang merasa iri dengan cara memfitnah saya dengan kejam mungkin dengan tujuan untuk meruntuhkan atau ingin mengambil alih posisi saya


saya di fitnah telah menodai kehormatan gadis-gadis remaja dan itu anak-anak murid saya sendiri, saya di permalukan di tengah umum di kecam di caci dan di maki habis-habisan hingga dunia terasa gelap hampir setiap hari rumah kediaman saya dan keluarga di lempari batu bahkan dilempari kotoran binatang saya di kucilkan saya di asingkan bahkan mereka menganggap saya manusia paling menjijikkan hingga tidak pantas berada di tengah-tengah mereka, saya putus asa tidak punya pilihan selain pergi meninggalkan kampung kediaman saya tetapi sebelumnya saya ingin mengetahui siapa orang yang tega menyebarkan fitnah keji itu. alhasil jerih payah saya akhirnya saya dapat mengetahui ternyata orang itu pendatang baru dan yang lebih menyakitkan orang itu bersekongkol dengan murid saya sendiri yang telah saya didik sejak kecil hingga menjadi manusia berguna, namun saya tidak bisa berbuat apa-apa karena mereka tidak hanya berdua ternyata mereka punya sekutu yang lainnya yang tidak mungkin saya hadapi sendirian, saya tidak tau apa yang harus saya lakukan untuk membela diri pada siapa saya harus meminta bantuan karna begitu cepatnya berita keji itu menyebar luas hingga tidak satu orang pun yang mempercayai saya lagi, saya tidak punya harapan untuk hidup saya tidak lagi memperdulikan keluarga saya, tekad saya sudah bulat hanya kematian yang akan menyelesaikan masalah saya, itulah keputusan yang saya ambil namun takdir bicara lain rupanya Gusti Allah tidak menghendaki saya menjadi orang yang sesat, langkah seseorang menyelamatkan saya dan menghadapkannya pada gurunya di suatu tempat yang jarang sekali di datangi orang luar namanya kiyai Mursid beliaulah yang menggembleng saya selain ilmu Kanuragan beliau juga terus membimbing saya dalam ilmu agama untuk lebih menguatkan keimanan dan ketakwaan saya kepada Sang illahi Robbi"


"setelah kondisi saya normal terlepas dari jiwa yang rapuh dan pikiran yang picik sang kiyai melepaskan saya untuk meninggalkan padepokan yang selalu saya ingat pesan dari sang kiyai selama hidup kita tidak akan pernah cukup untuk menuntut ilmu selagi kita masih bisa dan masih punya kesempatan tuntutlah ilmu kebajikan dimana pun kau berada jangan pernah dirasuki hawa dendam karena dendam hanya akan menimbulkan malapetaka dan tidak berujung pangkal, saya selalu mengingat pesan kiyai Mursid dalam membawa langkah saya tetapi tetap saja saya hanyalah manusia biasa keinginan saya hanya satu meminta pertanggung jawaban pada mereka yang telah menghancurkan bukan hanya nama baik saya saja tetapi nama baik seluruh keluarga saya, saya terus mencari tau tidak kenal lelah dan waktu hingga saya mendapat kabar ternyata mereka-mereka itu sekutu-sekutunya Wulung Sabak yang di sebar luaskan di berbagai tempat dengan tujuan untuk menghancurkan kebaikan, saat saya jumpa kakang Wisnu tadi saya berada dalam keroyokan para perampok saya sengaja menghadapi mereka dengan harapan salah satu dari orang-orang yang saya cari ada diantara perampok-perampok itu, ternyata tidak ada sampai saat ini saya masih belum menemukan satupun dari mereka dan kebetulan kakang Wisnu mengatakan kalian pun memiliki urusan dengan Wulung Sabak saya menerima ajakan kakang Wisnu dengan satu harapan mungkin mereka berada di istana Wulung Sabak" Darma Sena mengakhiri ceritanya


seperti biasa dengan wajah yang polos Panji gara berkomentar


"teragis sekali takdirmu Darma Sena sungguh aku tidak menyangka orang sebaik dirimu mendapat nasib yang menyediakan, yang kuat Darma Sena ini ujian bagimu atau mungkin ini sebuah teguran atau peringatan agar dirimu tidak salah melangkah"


Wisnu Abi Rawa tersenyum mendengar penuturan adiknya itu


"ternyata kau sudah dewasa adikku pikiranmu sungguh bijak"


"tentu kakang karena selama ini aku selalu di hadapkan dengan manusia-manusia serakah dan haus kekuasaan"

__ADS_1


Singgih narpati berusaha menahan tawa diapun mengalihkannya dengan bertanya pada Darma Sena


"apa kau masih mengingat nama mereka Darma Sena? juga wajah-wajah mereka"


tentu kakang karena sejak saya mengetahui saya telah menyimpannya dengan baik dalam ingatan dan pikiran saya baik itu nama ataupun wajah mereka yang paling saya hapal manusia pendatang baru di kampung saya dulu namanya Gagak Lanang dan yang satu murid saya pribadi Jara Tirta mereka berdua orang paling terpercaya sekutu Wulung Sabak dan yang lainnya mengikuti perintah Gagak Lanang dan Jara Tirta mereka berdua lah yang terlebih dulu akan saya cari"


"maaf kakang tadi Darma Sena mengatakan bahwa kita punya urusan dengan seseorang bernama Wulung Sabak,


apa yang sebenarnya terjadi kakang? saya tidak mengerti" Naga Sura bertanya mewakili kedua sodara seperguruannya


"itu pasti kakang Giri tidak salah lagi"


Panji gara berlari ke pintu membukanya serta mempersilahkan tamu yang baru datang


"benar dugaan ku mengapa kau baru tiba kakang? hampir kami meninggalkan pondok ini jika dalam waktu lima menit lagi kakang tidak muncul"


"maaf Panji jika kau bosan menunggu ku,

__ADS_1


maafkan aku kakang ada banyak sekali hambatan di perjalanan ku" Sidra giri orang yang baru saja muncul di gunung kembar


"tidak apa-apa adik giri aku juga belum lama tiba disini, mereka bertiga lah mungkin sudah sejak tadi pagi tiba di tempat ini, Panji tolong buatkan wedang jahe untuk kakang mu ini"


Wisnu Abi Rawa meminta pada Panji gara untuk menyediakan wedang jahe untuk Sidra giri sebelum rapat di buka


seperti biasanya sang pendekar Samber nyawa sebagai Kaka tertua dari perguruan Gunung singgaru selalu meningkatkan kewaspadaan untuk menjaga hal-hal yang tidak di inginkan maka dari itu rapat di gelar sementara Panji gara tidak harus menunggu di perintahkan pemuda itu segera mengambil sehelai tikar dan menggelarnya di halaman pondok


setelah semuanya berpindah tempat rapat pun segera di buka tentunya oleh sang pendekar tertua Wisnu Abi Rawa


"Assalamualaikum warohmatullahi wabarokatuh"


semua yang hadir di tempat itu menjawab salam dari ketuanya secara bersamaan


"adik- ku semuanya sebelum rapat di buka terlebih dulu aku perkenalkan tamu kita terutama pada adik giri"


BERSAMBUNG

__ADS_1


__ADS_2