MANTRA HITAM PEMIKAT

MANTRA HITAM PEMIKAT
CH 98 RAHASIA BESAR


__ADS_3

"hormat mu ku terima Laras jingga, sekarang kalian minggir lah aku akan menyelesaikan urusana ku dulu.


keluarlah Ragolo aku tau itu dirimu sejak awal hidungku telah mencium bau busuk mu"


"Ha..ha..ha..ha.. ternyata penciumanmu masih sangat tajam nenek peot! aku tidak menyangka ternyata kau masih hidup"


sesosok tubuh tinggi besar berkulit hitam legam dengan kepala tidak di tumbuhi sehelai pun rambut hingga terlihat menjijikan di lengkapi dengan wajah yang buruk nampak sekilas seperti sesosok makhluk dari alam lain


"aku akan tetap hidup selama angkara murka sepertimu masih meraja lela dimana-mana. sekarang kita bertemu inilah saatnya yang tepat untuk aku menuntut balas"


"Ha..ha..ha..ha.. kau tidak pernah berubah nenek peot selalu merasa benar sendiri seharusnya aku yang menuntut balas atas kematian murid-murid kesayangan ku"


"ucapan mu mungkin benar Ragolo"


satu suara yang lain lagi muncul dari balik semak "tetapi bukan hanya murid-murid mu saja tetapi juga dirimu pantas mendapatkan nya karna itu hukuman atas semua perbuatan yang telah kalian lakukan


dulu, kemarin, dan juga hari ini, atau mungkin untuk seterusnya jika tidak segera di hentikan"


Biung Ratu embok menoleh pada seseorang yang melangkah dengan tenang menuju ke arahnya


"Indra Yuda ternyata kau disini juga adikku? sudah lama aku tidak melihatmu. kemana saja kau selama ini? apa kau baik-baik saja?" suara Biung Ratu embok terdengar agak serak ada nada kesedihan di balik suranya itu


"aku baik-baik saja kakak embok. maafkan aku jika selama ini aku menghilang. itu bukan karna aku melupakan sodaraku sendiri tetapi aku menunggu saat yang tepat untuk bertemu denganmu dan kinilah saatnya"


pendekar pemburu nyawa atau Sidra giri menatap nanar wajah laki-laki setengah baya itu sambil melangkah menghampirinya


"Rama!! apakah yang ku lihat ini benar Rama ku? panglima Danda sokana?"


"benar giri akulah Danda sokana. dan aku adik kandung dari kakak embok dan nama asli ku Indra Yuda dan wanita ini bukan orang lain untukmu"

__ADS_1


bukan hanya Sidra giri tetapi semua yang mengenal Biung Ratu embok dan juga panglima Danda sokana. mereka semua merasa terkejut mendengar bahwa mereka sodara kandung. mereka tidak berani bertanya mereka hanya menyaksikan apa yang akan terjadi selanjutnya


"kakak embok ijinkan aku untuk membalas kematian kedua orang tua dan juga adik kita, lagipula tidak seharusnya kakak embok mengotori tangan dengan darah mahkluk jahanam itu, dengar Ragolo sudah cukup kejahatan mu dan sekarang sudah saatnya kau mempertanggung jawabkan nya"


"Uha..ha..ha..ha.. bagus. bagus sekali kakak beradik kini bersatu untuk menjemput ajalnya bersama-sama hingga aku tidak harus mencarimu kemana-mana Indra Yuda karna aku tidak akan pernah membiarkan seluruh keturunan Indra brata hidup karna aku tidak akan tenang jika masih ada satu orang saja yang masih hidup"


"jangan pernah menyebut-nyebut nama ayah handaku dengan mulut iblismu Ragolo aku tidak akan pernah Sudi mendengarnya ayah handaku di sebut-sebut oleh mahkluk biadab sepertimu"


bibir Indra Yuda bergetar amarahnya kembali muncul saat nama ayah handanya disebutkan oleh Ragolo


semua yang ada di tempat itu terutama murid-murid perguruan singgaru samasekali tidak mengerti ada apa sebenarnya rahasia apa yang mereka sembunyikan? siapa sesungguhnya Biung Ratu embok dan juga Indra Yuda? dan siapa Indra brata?


"maaf Rama maaf Biung Ratu aku samasekali tidak mengerti apa sebenarnya yang kalian rahasiakan dariku?"


"Giri sekarang kau sudah dewasa dan bahkan kau sudah menjadi pendekar besar. dan bukan tanpa alasan aku menyerahkan mu pada Purba kesha karna sesungguhnya dia sodara sepupumu. mungkin sekarang sudah saatnya kau mengetahui semuanya bukan begitu kakak embok? sudah saatnya anak-anak kita mengetahui nya?"


Indra Yuda meminta persetujuan dari kakak kandungnya


"tunggu dulu Nyi mas"


suara lembut namun tegas muncul dari arah yang lain


Biung Ratu embok menoleh bibirnya bergumam "rupanya kau disini juga kakang?"


"benar Nyi mas dan bukan hanya aku putramu pun ada disini kami ingin menyaksikan karna saat inilah yang sudah sekian lama kita nantikan. keluarlah kesha beri hormat pada ibu dan juga pamanmu"


satu sosok lagi keluar dari balik semak


sang Resi besar Abi Rawa disertai putra tunggalnya ketua jagat persilatan sekaligus guru besar perguruan Gunung singgaru Purba kesha nama yang sungguh di gandrungi oleh berbagai golongan

__ADS_1


semua murid-muridnya terkejut


benaknya kembali di buru pertanyaan


ada apa? mengapa tokoh-tokoh besar jagat persilatan satu persatu bermunculan di tempat itu? yang semula menjadi medan peperangan


"Ha..ha..ha..ha akhirnya semua berkumpul tapi aku Ragolo sang penguasa bumi tidak sedikitpun merasa gentar meskipun kalian tokoh-tokoh persilatan"


"jangan takabur Ragolo dan jangan selalu merasa dirimu paling sakti karna diatas langit masih ada langit"


"uha..ha..ha..ha.. Abi Rawa itulah Abi Rawa yang selalu menyembunyikan rasa gentar nya setiap berhadapan denganku di balik ketenangan"


mendengar ucapan Ragolo Redi Purba kesha sedikit terpancing emosinya


"cukup Ragolo jangan pernah merendahkan Rama ku dan jika memang dirimu punya cukup keberanian maka hadapilah aku"


"tidak guru" Sidra giri maju selangkah berdampingan dengan Laras jingga


"jika memang diriku cucu Kanjeng eyang Prabu Indra brata maka aku punya kewajiban untuk menuntut tanggung jawab"


"dan selain itu aku sebagai muridmu tidak akan membiarkan guruku turun tangan sendiri" Wisnu Abi Rawa, Naga Sura, Singgih narpati, Panji gara, dan juga Wadon Segoro semua maju berdiri dihadapan gurunya menyatakan bahwa merekapun siap untuk menghadapi mahkluk bernama Ragolo apapun resikonya


Resi Purba kesha tersenyum hatinya merasa bangga ternyata tidak sia-sia selama bertahun-tahun dirinya menggembleng mereka


"kalian memang murid-murid ku yang sangat berbakti dan aku sangat bangga pada kalian. tetapi ada hal lain yang tidak kalian Ketahui ini menyangkut peristiwa di masa lalu. Biung Ratu mungkin ada baiknya jika Biung Ratu memberitahukan yang sesungguhnya"


Resi Purba kesha menatap wajah ibundanya


"baiklah kesha, jingga dengarlah baik-baik sesungguhnya yang telah membunuh kedua orang tuamu Naga luing dan Wulan sari adalah mahkluk terkutuk itu dan satu hal lagi Wulan sari adalah adik kandungku Putri bungsu Ramanda Prabu Indra brata"

__ADS_1


BERSAMBUNG


__ADS_2