
"Selamat datang anaku di pondok pesantren ku yang kumuh ini, aku menunggumu sejak malam tadi" suara lembut namun penuh wibawa menyambut kedatangan sang pendekar Samber nyawa
"Assalamualaikum kiyai maafkan saya jika kehadiran saya mengganggu ketenangan kiyai. senang sekali rasanya dapat kembali bertemu dengan kiyai setelah bertahun-tahun lamanya"
"He..he..he..he.. waalaikum salam anaku aku pun sangat senang dapat melihatmu kembali, angin apa rupanya yang membawa sang pendekar sakti hingga menyempatkan waktu berkunjung kesini?"
"maaf kiyai saya rasa kiyai telah mengetahuinya maksud dan tujuan kedatangan saya"
"he..he..he.. kau bisa saja anakku masih saja selalu membesarkan hati orang, aku bukanlah orang sakti yang dapat mengetahui maksud dan tujuan seseorang.
sebaiknya kita bicara di pondok saja anakku agar lebih tenang dan leluasa"
"terimakasih kiyai, kiyai dapat menerima kedatangan saya"
"jangan sungkan anakku pintu rumahku akan selalu terbuka untuk siapa saja apalagi kau murid dari sahabat ku, marilah anakku" kiyai Sanca Mukti lalu berdiri serta mengajak Wisnu Abi Rawa ke pondoknya
jarak surau dan pondok hanya beberapa meter saja tidak lama kemudian mereka pun telah tiba, kiyai Sanca Mukti mempersilahkan tamunya untuk masuk
setelah meminta tolong kepada isterinya untuk menyediakan jamuan alakadarnya
kiyai Sanca Mukti melanjutkan pembicaraan nya
"apa yang bisa ku bantu anakku?? aku bukanlah pendekar sakti seperti gurumu
aku hanya punya keyakinan serta kepercayaan pada sang Kholiq, jadi apa yang bisa aku lakukan untuk masalah yang sedang kalian hadapi?"
"sebelumnya saya ucapkan terimakasih kiyai, seperti yang kiyai ketahui mengenai kekuatan Prabu Hindun Rancasan dan kami sangat membutuhkan bantuan kiyai. saya yakin ada banyak hal yang kiyai ketahui mengenai Hindun Rancasan"
"he..he..he.. ketahuilah anakku di atas langit masih ada langit tidak ada satu kekuatan jahat pun yang tidak dapat disirnakan dan tidak ada satupun kesaktian yang melebihi maha sakti, dan jika sang pemilik kesaktian itu telah berkehendak untuk mengambilnya kembali maka kekuatan itu akan lenyap. begitu juga kekuatan yang dimiliki oleh Prabu Hindun Rancasan itu hanya titipan semata jadi jangan terlalu mengkhawatirkan hal itu, anakku yakinlah pada kemampuan kalian karna sesuatu yang dilakukan berdasarkan ketulusan hati maka dia akan meraih kemenangan"
__ADS_1
panjang lebar sang kiyai membuka mata hati pendekar Samber nyawa
"saya mengerti kiyai tetapi biar bagaimanapun kami tetap membutuhkan bantuan kiyai. saya harap kiyai Sudi membantu kami"
"he..he..he. uhuk..uhuk.. baiklah anakku jika itu yang kau inginkan maka sekuat kemampuan ku aku akan membantu mu tetapi aku sudah tua anakku rasanya sudah tidak pantas jika aku turun ke medan perang. tunggu sebentar anakku!!.
Uma umma kemarilah"
seorang perempuan setengah baya berparas lembut serta menyisakan raut kecantikan dimasa mudanya tergopoh-gopoh menghampiri
"ada apa Abah? apakah Abah menginginkan wedang jahe?" tanya wanita itu sambil menatap wajah sang kiyai
"tidak Uma ini sudah cukup, Abah hanya ingin minta tolong, tolong panggilkan Gus untukku katakan padanya aku memanggilnya"
"baik Abah akan segera ku panggilkan"
"anakku selagi masih hangat silahkan minum teh nya. di perkampungan seperti ini tidak ada makanan yang istimewa yang pantas untuk menjamu tamu kehormatan"
seorang pemuda muncul di pintu ruang tengah
"assalamualaikum kiyai adakah perintah untuk saya hingga kiyai memanggil saya sepagi ini?"
"he..he..he..he.. kau memang cukup peka anakku. duduklah Gus aku perkenalkan dengan tamuku"
Wisnu Abi Rawa tersentak kaget saat melihat wajah pemuda itu wajah yang teramat sangat di kenalnya
"Gus" hanya kalimat itu yang mampu keluar dari bibir sang pendekar Samber nyawa, begitu juga sebaliknya Sidik Maulana ternyata dialah adanya pemuda itu lebih merasa terkejut saat melihat tamu gurunya
"Rama!! benarkah yang ada dihadapan saya ini Rama Wisnu Abi Rawa?" hampir saja Sidik Maulana tidak dapat membendung air matanya pemuda itupun bersimpuh di kaki Abi Rawa kepalanya menunduk tidak sanggup menahan rasa pedih di hatinya
__ADS_1
pertemuan ini mengingatkan kembali pada Sekar Kemala gadis yang amat di cintainya Putri tunggal Wisnu Abi Rawa
"he..he..he..he.. semua sudah kehendaknya anakku apapun yang terjadi dan apapun yang kita alami termasuk pertemuan kalian telah di tentuksn-Nya jangan pernah menyesali kita hanya berkewajiban untuk menjalankan nya dengan ikhlas"
sepertinya sang kiyai sengaja mempertemukan mereka padahal Sidik Maulana termasuk murid baru. masih banyak santri-santri kiyai Sanca Mukti yang sudah lama mengecap pendidikan ilmu agama ataupun ilmu beladiri di padepokan itu yang lebih tua dan yang sudah lebih tinggi ilmunya dari Sidik Maulana
"bangunlah Gus aku merestuimu lanjutkan hidupmu jalanmu masih panjang lupakan Putri ku masih banyak Sekar Kemala Sekar Kemala yang lain yang menanti khitbahmu"
"maafkan saya Rama saya samasekali tidak bermaksud menyakiti hati Rama ataupun hati Sekar Kemala semua ini saya lakukan saya ingin melepaskan diri dari cengkeraman penderita"
"tidak Gus dirimu samasekali tidak bersalah apa yang telah kau lakukan itu hal yang terbaik untuk melanjutkan hidup. jangan pernah berpikir atau menjadikan seseorang hanya sebagai pelarian jadikan dia bidadari lakukan dia sebagai hartamu yang paling berharga. aku ikhlas Gus semua ini sudah takdir Sekar Kemala dan aku ikhlas menerimanya"
"he..he..he..he. sudah-sudah kalian masih punya tugas yang lain anak-anak ku
aku samasekali tidak meminta untuk melupakan sesuatu yang pernah kalian miliki hanya saja untuk saat ini kalian sudah di tunggu oleh kewajiban kalian. dan sekarang katakan apa rencana mu anakku Wisnu?"
"siang ini juga saya akan kembali ke wetan (timur) untuk bergabung dengan sodara-sodara seperguruan saya. lalu bagaimana kiyai mengenai bantuan kiyai?"
"he..he..he..he.. jika satu kalimat sudah terlepas dari bibirku maka aku tidak akan pernah menariknya kembali,. Gus kedatangan Wisnu Abi Rawa ke tempat ini untuk meminta bantuan kita menyelesaikan permasalahan yang sedang terjadi di kerajaan lingga buana dan aku memberikan tugas itu padamu Gus ajak serta beberapa orang santri tidak harus pilihan tetapi dapat diandalkan. segera panggil mereka dan bersiap-siap lah untuk berangkat hari ini juga"
"terimakasih atas kepercayaan mu kiyai dan saya akan menjalankan amanah kiyai dengan sebaik-baiknya!!
Rama tunggu sebentar saya akan memberitahukan sodara-sodara saya yang lain serta bersiap-siap dan saya bersedia untuk membantu Rama sepatal apapun akibatnya"
"terimakasih Gus kau memang pemuda yang baik dan kau pantas mendapatkan yang terbaik"
setelah Sidik Maulana disertai 11 orang santri pilihan anak didik kiyai Sanca Mukti siap untuk berangkat untuk menjalankan amanah gurunya. Wisnu Abi Rawa pun pamit undur diri
selang beberapa jam kemudian mereka sudah cukup jauh meninggalkan padepokan kiyai Sanca Mukti
__ADS_1
BERSAMBUNG