MANTRA HITAM PEMIKAT

MANTRA HITAM PEMIKAT
CH 59 BERTEMU DENGAN PANGLIMA DANDA SOKANA


__ADS_3

Ki Pardi tersenyum bijak mendengar pengakuan dua pendekar di hadapannya itu


"tunggu sebentar den" ki Pardi bangkit dari duduk nya kepalanya melongok ke luar pintu menoleh ke kiri dan kanan lalu di tutupnya pintu rapat-rapat


"baiklah den saya akan ceritakan siapa diri saya yang sesungguhnya" suara Ki Pardi terdengar pelan


"benar seperti yang Aden katakan saya bukan asli penduduk kampung sini. dan di kampung ini saya tidak punya sanak sodara satupun. sudah hampir satu tahun saya menyamar menjadi pelayan kedai. saya memang sedang mencari sesuatu. saya berasal dari desa Tanjung sari dan nama saya Danda sokana"


"tunggu" suara Panji gara berteriak mengagetkan Singgih dan Ki Pardi


"tunggu dulu Paman apa yang Paman katakan itu benar? apakah Paman panglima Danda sokana? panglima agung kerajaan nareh?"


kini Singgih narpati dan panglima Danda sokana lah yang di buatnya mengerutkan kening mendengar pertanyaan Panji gara


"pelankan suara mu den saya takut kalau-kalau ada orang yang mendengar pembicaraan kita"


spontan Panji gara menekap mulutnya


"dari mana Aden tau kalau saya panglima kerajaan nareh?"


suara Danda sokana nyaris tak terdengar


"begini Paman apakah Paman mengenal seseorang pemuda bernama Sidra giri?"


seperti halnya Danda sokana Panji gara pun melakukan hal yang sama


wajah panglima agung itu terkesiap mendengar nama Sidra giri di sebut oleh Panji gara terlihat ada genangan air di pelupuk matanya


keadaan terbalik kini Singgih narpati lah yang hanya mendengarkan


"tentu den tentu Paman sangat mengenal Sidra giri karna dialah putra Paman satu-satunya apakah aden-aden ini mengenal putraku?" Danda sokana tidak kuasa lagi menahan air matanya suaranya terdengar parau

__ADS_1


"kakang Giri adalah salah satu kakak seperguruan kami" Singgih narpati menimpali


"tapi tunggu paman" Panji gara melanjutkan


"yang ku dengar cerita dari kakang Giri bukankah Paman Danda telah menjalani hukuman gantung atas tuduhan penghianatan? tapi bagaimana mungkin Paman panglima masih dalam keadaan seperti sekarang ini? apakah ada seseorang yang telah menyelamatkan Paman dari tiang gantungan?" Panji gara terus menyelidiki


"benar den kekuasaan sang maha pencipta begitu luas tidak ada satu kecurangan ataupun kejahatan yang lolos dari penglihatannya dan atas kehendaknya seseorang menyelamatkan Paman dari tiang gantungan. namanya Resi Abi Rawa seorang Resi sakti mandraguna penguasa hutan simagong-gong. sepuluh tahun lamanya Paman berguru ilmu berbagai tingkat kesaktian tapi selama sepuluh tahun itu juga Paman di sembunyikan di sebuah goa agar tidak ada satu orang pun yang mengetahui keberadaan Paman disana. mengapa Paman di sembunyikan itu karna beliau tau Paman akan menjadi buronan kerajaan dan kemanapun Paman pergi akan selalu mereka kejar" panglima Danda sokana mengakhiri ceritanya


Panji gara dan Singgih narpati mengangguk-angguk rupanya mereka cukup mengerti


"ternyata dunia ini benar-benar sempit lihatlah kakang satu lagi muncul sodara seperguruan kita" Panji gara menepuk-nepuk tangan Singgih narpati


"apa yang Aden katakan? benarkah kita satu perguruan?"


"benar sekali Paman kita di lahirkan dan di gembleng ilmu dari perguruan yang sama hanya saja kita tidak saling mengenal mungkin Paman tidak mengetahui kalau eyang Resi Abi Rawa itu Rama dari guru kami Redi Purba kesha jadi kenyataannya saat kita masih di gunung Singgaru dan disaat itu pulalah Paman panglima berada di hutan simagong-gong. kami hanya sekali-sekali saja mengunjungi eyang Resi Abi Rawa itupun jika ada satu hal yang penting dari guru Purba kesha yang harus di beritahukan pada eyang Resi"


"oohhh gusti ternyata tidak sia-sia perjuangan dan pengorbanan hamba hingga hari ini hamba di pertemukan dengan sodara-sodara seperguruan putra hamba. den tolong katakan pada Paman dimana Giri sekarang berada? Paman ingin segera menemuinya"


percakapan mereka pun terputus oleh teriakan pemilik kedai disana


"Pardi Pardi cepatlah keluar ada tamu yang harus kau layani"


mendengar panggilan itu panglima Danda memandang wajah Singgih dan Panji mereka mengangguk bersamaan panglima Danda pun pamit keluar


sepeninggal Ki Pardi yang sebenarnya adalah panglima Danda sokana Panji gara dan Singgih narpati berniat hendak merebahkan tubuhnya untuk meluruskan otot-otot nya dan juga rasa kantuk mulai menyerang nya. namun niat mereka di batalkan karna mendengar teriakan keras dari luar memanggil ku Sukma yang sepertinya pemilik kedai


"Ki Sukma keluar kau dimana kau sembunyikan dua pendekar yang telah mempermalukan murid-murid ku?


cepat serahkan padaku karna jika tidak aku tidak akan segan-segan menghancurkan kedai mu itu"


dari dalam kedai Ki Sukma keluar dengan tubuh gemetaran karna ketakutan bibirnya bergetar dan suaranya terbata-bata

__ADS_1


"maaf juragan ada apa ini? saya tidak mengerti apa yang juragan maksudkan"


"jangan berdusta Sukma cepat katakan padaku dimana dua pendekar itu serahkan padaku atau nyawa mu dan juga nyawa keluarga mu yang jadi jaminannya"


Panji gara dan Singgih narpati yang sejak tadi hanya berpandangan segera keluar mendengar ancaman pada pemilik kedai


dari halaman yang nampak gelap Panji gara melompat seraya membuka suaranya


"assalamualaikum pendekar. siapa yang pendekar cari? aku bisa memberi tahumu tapi jawab dulu salam ku"


mendengar ejekan dari seseorang yang tidak di kenal nya pendekar itu meludah sambil berkata


"cuiihh bangsat kurang ajar siapa kau? angan campuri urusan ku"


"Ha..ha..ha..ha. aku pikir yang mencari dua pendekar itu seorang ulama. ternyata hanya sekutu iblis yang tidak mengerti bahasa"


dalam penerangan cahaya lentera Panji gara menyipitkan matanya sepertinya dia mengenal orang-orang yang ada di hadapannya itu


"oohhh rupanya kita memang berjodoh dan perjodohan kita sangat kuat sehingga kita di pertemukan kembali di tempat ini. apa kabarmu kumis baplang?" rupanya Panji gara mengenal pendekar yang sesumbar itu


"cuiihh kau lagi kau lagi di mana-mana selalu ada bocah gendeng semakin lama semakin muak aku melihat tampang mu.


oohhh jangan-jangan kau yang tadi siang mempermalukan kedua muridku?"


"tunggu dulu kumis baplang jangan terburu napsu aku tidak mengenal murid mu jadi bagaimana mungkin aku mempermalukan nya" Panji gara coba mengelak


"bangsat kurang ajar tutup mulutmu aku yakin kaulah yang aku cari"


"kau memang sakti kumis baplang memang akulah yang kau cari dan ini kakak seperguruan ku" Panji gara menunjuk ke arah Singgih narpati


BERSAMBUNG

__ADS_1


__ADS_2