MANTRA HITAM PEMIKAT

MANTRA HITAM PEMIKAT
CH 85 PERJALANAN PANJI GARA


__ADS_3

"Begini Dewi aku dan sodara-sodara seperguruan ku di minta bantuan oleh Gusti Prabu Nara Wenda Raja dari kerajaan lingga buana. mungkin Dewi telah mendengarnya sudah banyak kerajaan di Jawa dlipa dan juga tanah Pasundan yang telah di tentukan dan di kuasai oleh Prabu Hindun Rancasan dan salah satu ancaman nya dialah kerajaan lingga buana. kami semua telah merundingkannya dengan matang dan juga kami telah menyusun kekuatan bahkan kakang ku Panji gara menyusup ke istana hilir jati salah satu kerajaan yang telah di tentukan Hindun Rancasan tujuan kakang ku untuk mengajak Gusti Prabu Gandara seta dan orang-orang nya yang masih setia untuk memberontak dan mengadakan perlawanan. dan mengenai kedatangan ku menemuimu ini menyangkut kelemahan Prabu Hindun Rancasan!! putra mahkota gelang-gelang saat ini ada di tangan kami tetapi putra mahkota bukanlah kelemahan Hindun Rancasan menurut eyang guru ku Resi Abirawa kekuatan Prabu Hindun Rancasan seluruhnya akan sirna hanya jika tubuhnya bersentuhan dengan seorang wanita, maaf Dewi aku samasekali tidak bermaksud menghina mu ataupun merendahkan harga dirimu aku hanya ingin mengajakmu bekerja sama aku dan kau Dewi kita sama-sama menghancurkan kekuatan iblis itu untuk menyelamatkan jutaan umat manusia di muka bumi ini. dan jika kau Sudi membantu ku bukan hanya pedang Dewa Naga hitam ini yang akan ku serahkan padamu tetapi juga pedang pusaka pemburu iblis akan menjadi milikmu seutuhnya"


Dewi kilat kematian menatap Wadon Segoro ada ketulusan di sinar mata pendekar besar itu "sungguh iyalah pendekar sejati dia rela mengorbankan miliknya yang berharga hanya untuk menyelamatkan orang lain"


gumam Dewi kilat kematian dalam hati


bibir Dewi kilat kematian tersenyum lembut


"aku memang bukan pendekar dari golongan putih tetapi aku masih punya hati dan perasaan, dan aku tau caranya membalas budi. duakali kau melepaskan aku dari kematian dan duakali kau memberi ku kesempatan untuk tetap hidup dan satu hal yang harus kau tau pendekar aku memang bukan orang baik-baik tetapi aku tidaklah sejahat dan seserakah Hindun Rancasan, jika saat itu aku menghadangmu aku hanya menuntut hak ku dan tindakan mu benar kau hanya menjalankan kewajiban mu untuk menjaga amanah dari gurumu dan jika saja saat itu kau memberikan pedang pusaka Dewa Naga hitam padaku belum tentu pedang itu masih berada di tangan ku saat ini.


terimakasih kau telah begitu baik menjaganya. sekarang katakan apa yang harus aku lakukan?"


pendekar pedang Dewa Naga hitam membuka cadarnya dia ingin Dewi kilat kematian melihat wajahnya dengan jelas


"Dewi selama ini aku selalu menutup wajahku dengan cadar hitam ini tetapi kali ini di hadapanmu aku melepaskan cadar ini itu ku lakukan agar kau percaya padaku bahwa kita akan tetap bersama-sama menghadapi Hindun Rancasan apapun resikonya"


"aku percaya padamu pendekar dan kau tidak harus melanggar perintah gurumu.


kenakan kembali cadarmu belum saatnya kau melepaskannya. sekarang apa yang harus kita lakukan jangan terlalu banyak membuang-buang waktu dengan hal-hal yang tidak penting"


"kau benar Dewi, mereka semua sedang menungguku dan tentunya mereka semua berharap aku kembali ke lingga buana bersamamu"

__ADS_1


"baiklah pendekar kau tunggu dulu aku akan segera bersiap-siap dan kita segera berangkat"


tidak harus menunggu waktu lama setelah Dewi kilat kematian menyiapkan keperluan nya mereka pun segera berangkat ke lingga buana


***


disaat yang bersamaan di suatu tempat tepatnya di ujung desa perbatasan kerajaan lingga buana memasuki wilayah kerajaan hilir jati Panji gara melangkah berhati-hati meskipun dalam penyamaran sebagai pemuda kampung dengan keranjang rumput di tangannya tetapi harus tetap waspada karna dia tau wilayah itu kini berada dalam pengawasan prajurit-prajurit utusan Prabu Hindun Rancasan. bibir pemuda itu tidak henti-hentinya bersiul sesekali siulannya memanggil seekor burung. sesekali untuk memastikan apakah ada orang lain di sekitar tempat itu


tiba-tiba pendengaran nya yang tajam menangkap suara teriakan seseorang meminta tolong seperti suara seorang perempuan. Panji gara terus memasang telinganya untuk memastikan apakah yang minta tolong itu seorang manusia atau jangan-jangan hanya tipudaya dari sebangsa siluman atau makhluk halus lainnya. Panji gara terus melangkah menyusuri arah datangnya suara semakin dekat suara itu semakin jelas Panji gara menyelinap ke balik rumpun bambu mengintai dari celah-celah pohon bambu agar lebih jelas


seorang gadis muda berparas cantik berkulit putih halus dan berpakaian sederhana berada dalam cengkeraman lima orang laki-laki yang dilihat dari penampilannya sepertinya mereka prajurit-prajurit kerajaan, tapi siapa gadis itu mengapa sudah sesore ini masih berani berkeliaran di tengah hutan seorang diri


Panji gara tidak habis pikir tetapi dia tidak bisa tetap tinggal diam melihat gadis itu jadi bulan-bulanan manusia-manusia liar yang kelaparan


"setan. kurang ajar siapa yang berani membokongku? cepat keluar tampakan dirimu"


Panji gara melompat dari balik rumpun bambu. si gadis belia yang telah berhasil melepaskan dirinya segera berlari kearah Panji gara yang barusaja muncul


"anjing-anjing liar berani sekali menghina dan merendahkan martabat kaum wanita. bukankah dirimu di lahirkan oleh seorang wanita? atau jangan-jangan kecoak-kecoak lapar seperti kalian terlahir dari sebongkah batu?"


"bangkai busuk, sampah tidak berguna, setan kurang ajar, bedebah, jangan urusi urusanku bocah ingusan cepat pergi dari hadapanku jika tidak ingin nyawamu melayang sia-sia" prajurit yang memegangi kepalanya akibat lemparan batu Panji gara

__ADS_1


terus mengumpat sepertinya dia merasa dihina oleh bocah kemarin sore


"percuma kakang, kakang memakinya habis-habisan sepertinya bocah itu bukan manusia melainkan dedemit penunggu hutan ini"


"Jangan bodoh Senopati sudah hampir tiga tahun kita di hutan ini tidak pernah menemukan dedemit atau siluman yang berkeliaran di hutan ini"


"ha..ha..ha. ha.. kalian ini lucu sekali apakah kalian tidak menyadari yang kalian katakan


dedemit penunggu hutan sesungguhnya kalian sendiri". Panji gara merasa mempunyai kesempatan untuk melontarkan kata-kata yang memancing emosi mereka


"kutu busuk, persetan dengan dirimu Senopati cepat keluarkan jaring Ratu laba-laba yang kau miliki tangkap anjing ingusan itu"


Panji gara memang tidak ingin buang-buang waktu dengan adu mulut.


murid singgaru itu berniat untuk segera menyingkirkan prajurit-prajurit itu agar dapat melanjutkan perjalanan dan menyusup ke istana kerajaan hilir jati agar dapat menemui Prabu Gandara seta malam ini juga


Panji gara melirik pada gadis itu mberi isyarat agarencari tempat yang aman untuk berlindung. setelah dapat memastikan posisi gadis itu aman Panji gara kembali berceloteh hidungnya mengendus-endus seraya berkata


"aku mencium bau busuk yang menyengat hidungku rasanya ingin muntah! bau busuk apa ini? Oya..ya aku lupa di hadapanku berserakan sampah-sampah yang samasekali tidak ada gunanya mungkin tidak ada salahnya aku membersihkan nya"


BERSAMBUNG

__ADS_1


mohon dukungannya biar semangat


__ADS_2