
Setelah ular berada di tangannya dengan teliti pemuda itu kembali mengawasi dua pendekar wanita yang masih bertarung. tubuhnya merangkak agak mendekat agar tepat sasaran setelah ada kesempatan pada saat Dewi kilat kematian dengan posisi membelakangi nya pemuda itu secepat kilat melemparkan si ular tepat di punggung Dewi kilat kematian ular itu pun menyusup masuk ke dalam pakaian.
Dewi kilat kematian merasakan ada sesuatu yang aneh di balik pakaiannya konsentrasi Dewi kilat kematian menjadi buyar
pendekar pedang Dewa Naga hitam terus menyerangnya dengan bertubi-tubi hingga jurus tendangan malaikat telak di dada Dewi kilat kematian, "buuukkkk" tubuh Dewi kilat kematian terpental beberapa meter. saat tubuhnya terjatuh ke tanah terasa sesuatu menyengat pinggang nya
Dewi kilat kematian terpekik dadanya terasa sakit kedua tangannya terasa berat namun dia berusaha untuk menyentuh yang barusaja menyengat di pinggang nya
Mayang suri berniat tidak akan memberinya ampun lagi di keluarkan nya pedang pemburu iblis, saat ujung pedang menyentuh tenggorokan Dewi kilat kematian suara seseorang menghentikan nya
"jangan pendekar tidak baik membunuh lawan yang sudah tidak berdaya" seorang pemuda keluar dari balik batu seraya menghampiri Mayang suri
pendekar pedang Dewa Naga hitam mundur ke belakang untuk berjaga-jaga kalau-kalau pemuda itu menyerangnya dengan tiba-tiba
"jangan takut pendekar aku samasekali tidak punya niat jahat. aku hanya tidak suka melihat orang bertarung"
"siapa kau? sejak kapan kau berada di balik batu itu? apa maksudmu melarangku untuk membunuh wanita binal itu" nada suara Mayang suri masih penuh dengan amarah tangannya masih tetap menggenggam pedang pemburu iblis
pemuda itu seakan-akan tidak memperdulikan kecurigaan Mayang suri
tangannya meraih ranting-ranting kering serta daun-daun kering lalu di kumpulkan nya untuk membuat perapian. suasana di tempat itu menjadi terang nampak dengan jelas tubuh Dewi kilat kematian bergeletak tidak berdaya dengan wajah yang membiru
Mayang suri nampak kaget pedang pemburu iblis nya tidak sedikitpun menggores tubuh Dewi kilat kematian tapi mengapa wajah Dewi kilat kematian membiru seperti terkena racun. tidak mungkin itu akibat dari tendangannya ini ada yang tidak beres. kepalanya menoleh ke arah pemuda yang terus menyalakan api dengan memasukkan daun-daun dan ranting ke tumpukan perapian
"hei pemuda sableng siapa sebenarnya dirimu? apa yang telah kau lakukan pada wanita itu?"
"aku tidak melakukan apa-apa pendekar. seperti yang kau lihat tadi aku keluar dari persembunyian ku saat kau hendak membunuh wanita itu" jawab pemuda itu tanpa menoleh pada Mayang suri
__ADS_1
"aku tidak percaya wajah Dewi kilat kematian membiru seperti terkena racun dan aku yakin itu perbuatan mu"
"rupanya pendekar ini bukan hanya pendekar berilmu tinggi tetapi juga ahli racun hingga dapat mengenali ciri-ciri orang yang terkena racun"
"jawab pertanyaan ku apa kau benar yang menaburkan racun di tubuh Dewi kilat kematian?" bentak Mayang suri dengan geram
"aku tidak membubuhkan racun pada wanita itu, aku hanya melemparkan ular kecil aku tidak tau kalau ternyata ular berbisa"
"dasar pemuda sableng. mana mungkin seekor ular tidak berbisa, cepat berikan penawarnya karena jika tidak wanita itu akan mati terbunuh racun"
"pendekar ini aneh sekali tadi barusaja pendekar hendak membunuhnya dan sekarang pendekar meminta penawar bisa itu kepada ku. aku sungguh tidak habis pikir"
"jangan banyak bicara cepat berikan penawar itu kepada ku sebelum racun bisa itu menyusup ke seluruh pembuluh darahnya" Mayang suri mengancam pemuda itu dengan pedang nya
"sumpah demi Tuhan aku tidak memiliki penawar bisa itu dan aku sama sekali tidak berniat untuk membunuhnya" nada ucapan pemuda itu seakan menyesali perbuatannya
"lalu mengapa kau melemparkan ular itu?
apa tujuanmu apa kau pernah punya dendam pada Dewi kilat kematian?"
"tidak pendekar melihat dirinya pun baru kali ini. sudah ku katakan aku hanya tidak suka melihat orang berkelahi niatku hanya ingin menghentikan perkelahian kalian saja"
"dasar bocah gendeng melakukan sesuatu tidak memikirkan akibatnya. sekarang cepat bantu aku carikan air dan jangan berlama-lama" Mayang suri melangkah menghampiri Dewi kilat kematian wajahnya semakin membiru
tidak lama kemudian pemuda itupun muncul dengan membawa tempurung kelapa berisi air.
"cepat kau ambilkan ular yang tadi" pemuda itupun tidak membantah akan perintah Mayang suri setelah ular di keluarkan dari balik pakaian Dewi kilat kematian di toreh nya perut ular itu dengan kuku jari telunjuknya lalu diambilnya ampedu ular itu serta di masukkan nya ke mulut Dewi kilat kematian
__ADS_1
"cepat minumkan airnya"
perintah Mayang suri pada pemuda itu
"berapa lama lagi dia akan siuman pendekar?"
"kita tunggu sampai satu jam dia akan segera siuman"
"maaf pendekar sepertinya pendekar sangat mengetahui mengenai racun dan penawarnya?"
"sebetulnya aku juga belum banyak belajar aku mengetahuinya hanya baru sedikit-sedikit saja, siapa sebenarnya dirimu? hendak kemana, dan apa yang kau lakukan disini?"
"namaku Satria, aku hidup sebatang kara aku tidak punya rumah dan tidak punya keluarga, aku mengembara untuk mencari pengalaman dan aku di besarkan oleh alam dan aku tidak punya kesaktian seperti halnya pendekar, mengenai keberadaan ku di tempat ini sebenarnya sudah dua hari ini tadi sore aku meninggalkan tempat ini untuk mencari makanan dan saat aku kembali aku melihat kalian sedang berdebat lalu aku bersembunyi di balik batu itu" pemuda bernama Satria itu menjelaskan asal-usul nya pada Mayang suri
"dan jika pendekar Sudi mengatakannya siapa sebenarnya pendekar ini?"
"namaku Mayang suri, orang-orang dunia persilatan menjuluki diriku pendekar pedang Dewa Naga hitam. seperti halnya dirimu aku pun hidup sebatang kara dan wanita itu namanya Dewi kilat kematian dan dia mengakui bahwa dirinya pewaris pedang Dewa Naga hitam ini. sebetulnya aku tidak ingin bertarung dengan dirinya aku hanya menjalankan amanah untuk selalu menjaga pedang ini"
Satria mengangguk-angguk dia mengerti mengapa berdua bertarung
"lalu sekarang kemana tujuan pendekar?"
"entahlah Satria sebenarnya aku sedang mencari seseorang tapi aku tidak tau dimana manusia terkutuk itu saat ini berada"
di tengah perbincangan Satria dan Mayang suri terdengar erangan Dewi kilat kematian
"rupanya kau sudah sadar Dewi kilat kematian ternyata hiyang Widhi masih menghendaki dirimu untuk hidup. dan aku tidaklah sekeji dirimu, dan sekarang cepat tinggalkan tempat ini carilah seorang tabib dan yang harus kau ketahui di dalam darahmu terdapat racun bisa ular dan racun itu harus segera di keluarkan. aku hanya memberimu penawar sesaat dan kau akan bertahan selama tiga hari ke depan dan sebelum tiga hari kau harus segera menemukan tabib"
__ADS_1
BERSAMBUNG