
"Baiklah coba ku lihat kakimu"
si gadis itu semakin meringis kesakitan saat prajurit menyentuh pergelangan kakinya
"kakimu terluka Nini dan juga terkilir. sepertinya kau butuh bantuan tabib apa kau bersedia kami bawa ke perkemahan? disana ada tabib yang bisa menolong mu, atau mungkin Nini mau kami mengantarkan untuk pulang?"
"tidak-tidak tuan desa ku sangat jauh aku tidak mungkin mampu berjalan jauh sedangkan kakiku dalam keadaan terluka
jadi biar aku ikut kalian dulu semoga tuan tabib mau menolong ku"
"Nini jingga benar kakang tidak mungkin dia berjalan jauh dalam kondisi seperti itu"
prajurit lain menimpali
"baiklah Nini ikut kami"
dua orang prajurit membantu gadis bernama jingga berdiri dan memapahnya dan satu prajurit lainnya membawakan keranjang berisi pakaian kotor. rupanya gadis itu hendak mencuci pakaian ke sungai
tiba di perkemahan beberapa prajurit lain menyongsong nya
"hei kenapa kalian membawa orang asing ke perkemahan ini? jika Gusti Prabu mengetahuinya kalian bisa terkena marah
memangnya siapa gadis itu? hingga kalian membawanya kesini? dalam kondisi seperti ini harusnya kalian bertindak hati-hati"
"maaf kakang tumenggung gadis ini terluka kakinya terkilir dia terjatuh di bukit sana dan dia membutuhkan pertolongan tabib
dan maaf kakang kami tidak bermaksud mengabaikan tugas"
si prajurit berusaha membela diri karna mendapat teguran keras dari ketuanya
mendengar suara ribut-ribut di luar Prabu Hindun Rancasan pun keluar dari kemahnya
"ada apa ini? bukannya berjaga-jaga kalian malah pada ribut disini"
mendengar suara Gusti Prabu nya mereka semua langsung menundukkan kepala seraya memberi hormat
__ADS_1
"ampunkan hamba Gusti Prabu hamba tidak tau kalau anak buah hamba membawa gadis asing ke perkemahan"
Prabu Hindun Rancasan menatap wajah jingga dalam-dalam memperhatikannya dari ujung kaki hingga ujung rambut
"cantik juga gadis ini" bisik Prabu Hindun Rancasan dalam hati
(pembaca Budiman sedikit saya akan uraikan mengenai Prabu Hindun Rancasan seperti yang telah pembaca ketahui bahwa Prabu Hindun Rancasan memiliki kelemahan yaitu seorang perempuan. tetapi mengapa Prabu Hindun Rancasan memiliki seorang putra mahkota bernama Panji Rancasan? dan harus pembaca ketahui Panji Rancasan bukanlah putra kadung nya tetapi melainkan hanyalah seorang putra angkat yang di angkatnya sejak bayi berusia kira-kira 5 bulan. Ok terimakasih)
**
Dengan gagah raja gelang itu melangkah mendekati jingga yang masih di papah oleh dua prajurit nya itu
"siapa gadis ini? dimana kalian menemukan nya? dan alasan apa hingga berani membawanya?"
"ampun Gusti Prabu gadis ini terluka dia membutuhkan bantuan. dan hamba dapat pastikan gadis ini bukanlah seorang mata-mata dia hanya biasa. dan hamba kasian hingga membawanya ke perkemahan ini dan hamba siap menerima hukumannya"
"oh jadi gadis ini terluka dan dia membutuhkan tabib?"
"benar Gusti Prabu"
bawa dia masuk ke ruang kemah ku tidak perlu memanggil tabib aku sendiri yang akan mengobatinya"
mendengar pernyataan Prabu Hindun Rancasan mereka semua merasa lega lalu bergegas memapah jingga dan mengantarnya ke dalam kemah Prabu Hindun Rancasan di dudukkan nya jingga diatas pembaringan Prabu Hindun
"sekarang kalian keluar tinggalkan kami berdua"
perintah Prabu Hindun kepada prajurit nya
setelah prajurit-prajurit nya keluar Prabu Hindun Rancasan mulai menyelidiki jingga
"siapa namamu gadis cantik? darimana asalmu? dan mengapa kau berada di bukit ku?"
"ampunkan hamba Gusti Prabu. nama hamba jingga dan hamba samasekali tidak mengetahui kalau bukit disana itu milik Gusti Prabu, hamba samasekali tidak punya niat jahat sedikitpun hamba hanya mengambil jalan pintas untuk menuju ke sungai" jingga menjawab dengan gemetar wajahnya masih meringis karna menahan sakit
sepertinya Gusti Prabu Hindun Rancasan baru menyadari kalau gadis itu benar-benar butuh pertolongan
__ADS_1
"aku akan mengurut kakimu dan tetap bicara agar tidak terlalu sakit"
Prabu Hindun mulai mengurut kaki jingga yang terluka
"terimakasih Gusti Prabu. saya berasal dari desa Sindang sugih letaknya lumayan jauh dari sini. adapun niat kedatangan saya ke wilayah ini saya hendak ke sungai hilir jati untuk mencuci pakaian. memang tidak tiap hari Gusti Prabu terkadang seminggu sekali biasanya hamba bersama teman-teman hamba tetapi hari ini mereka tidak mencuci dan terpaksa hamba pergi sendirian. sudah hampir lima bulan ini di desa hamba tidak turun hujan sehingga sungai-sungai mengalami kekeringan jadi mau tidak mau hamba harus ke sungai di wilayah ini karna yang hamba tau di wilayah ini tidak pernah kesulitan air bersih begitulah adanya Gusti Prabu yang sedang terjadi di desa hamba saat ini"
begitulah adanya manusia setinggi apapun ilmu dan kesaktiannya adakalanya terperangkap hanya dengan seulas senyum dan kata-kata yang manis memabukkan hingga tidak menyadari akan kodratnya
****
langit senja di atas istana kerajaan lingga buana nampak cerah namun tidak secerah hati dan pikiran sang pendekar pedang Dewa Naga hitam karena sudah sesore ini Laras jingga belum juga kembali bergabung dengan mereka perasaan resah mulai menghantui bayang-bayang buruk menghasut alam pikirannya. Satria dan juga Wisnu Abi Rawa terus memperhatikan gerak-gerik sahabatnya itu
"jangan berpikir terlalu jauh suri kau mengirimkan Laras jingga untuk menjalankan misi ini itu artinya kau mempercayai kemampuan wanita itu. jadi apa yang kau takutkan?"
"kau benar Satria aku percaya padanya tetapi pada hakekatnya dia hanya seorang perempuan seharum apapun gelar yang di sandangnya tetaplah perempuan apalagi seperti yang kita semua ketahui siapa adanya Prabu Hindun Rancasan itu"
"kau mau tau siapa Prabu Hindun Rancasan itu? dalam pandangan sang penciptanya dia hanya sesosok mahluk biasa yang kesakitan nya tidak ada seujung kuku pun melebihi kesaktian sang pemiliknya"
"Satria benar adik Segoro" Wisnu Abi Rawa turut menimpali
"kita serahkan semuanya dan kita kembalikan kepada yang maha kuasa tidak ada yang tidak mungkin baginya dan tidak ada yang sulit untuk di ambil kembali olehnya"
disaat mereka tengah memperbincangkan dan menerka-nerka mengenai keadaan Laras jingga seorang pandega muncul memberitahukan bahwa di depan gerbang istana ada tiga orang pemuda gagah dengan menunggangi kuda dan mereka mengatakan ingin bertemu dengan kakang Wisnu Abi Rawa dan juga Dewi pendekar pedang Dewa Naga hitam
Wisnu dan Wadon Segoro saling berpandangan
"siapa mereka yang datang itu? cepatlah temui mereka kakang barangkali mereka punya keperluan yang sangat penting" Satria langsung memberi saran agar dua pendekar sakti itu segera menemui tamu-tamunya
"apa tidak sebaiknya kau ikut Satria?"
"tidak kakang terimakasih aku masih ada keperluan lain"
"baiklah jika begitu kami tinggal sebentar"
Wisnu Abi Rawa serta Wadon Segoro segera bergegas menuju halaman istana untuk memastikan siapa tamunya itu
__ADS_1
BERSAMBUNG