MANTRA HITAM PEMIKAT

MANTRA HITAM PEMIKAT
CH 92 MENYAMBUT DATANG NYA PERANG


__ADS_3

Satu persatu mereka melepas kain penutup wajah, panglima Nara aji tidak percaya diapun segera bersimpuh


"ampuni saya Gusti Prabu, ampuni saya Gusti Patih dan juga Gusti Putri saya benar-benar tidak mengetahui bahwasanya Gusti Prabu masih dalam keadaan segar bugar


syukurlah Gusti Prabu saya senang melihatnya"


"berdirilah panglima inilah keajaiban yang di turunkan oleh Hiyang Agung untuk kita


malam ini akhir dari segalanya, dan kenalkan ini pendekar muda dia utusan kakang Prabu Nara Wenda dan dia bukan pendekar biasa namanya Panji gara"


"maaf kakang panglima sekarang ini akulah Senopati kepercayaan Hindun Rancasan jadi mau tidak mau panglima berada dibawah pimpinan ku, aku akan segera membuka rantai ikatanmu tetapi dengan satu syarat panglima harus mau mengenakan pakaian prajurit gelang-gelang yang berbau busuk itu karna kita tidak punya pilihan. Putri tolong berikan"


setelah rantai di buka Ken Rara segera memberikan pakaian prajurit dan tanpa membantah panglima segera mengenakan nya


tiba-tiba telinga sang pendekar muda berdengung sangat keras rupanya aji bayu telepati sang ketua Wisnu Abi Rawa sampai juga di telinga Panji gara. pemuda itupun segera duduk bersila dan menutup matanya untuk menerima panggilan selang beberapa menit Panji gara membuka matanya serta menarik nafas dalam-dalam


"gawat Gusti Prabu kakang ketua ku barusaja memberitahukan bahwa Prabu Hindun Rancasan dan ribuan pasukan perang nya telah di persiapkan dan saat ini mereka berkemah di hutan perbatasan dukuh Pakuan timur. Prabu Hindun Rancasan telah mengobarkan bendera peperangan"


"oohhh Hiyang Agung barusaja aku bernafas lega. kini adalagi warta yang menyesakkan dada. lalu apa yang harus kita lakukan pendekar? sementara masih banyak orang-orang ku didalam sana bagaimana cara kita untuk membebaskan mereka?"


semua menundukkan kepala mendengar kabar mengenai peperangan yang akan segera di laksanakan oleh Prabu Hindun Rancasan dengan pasukannya


"tenang Gusti Prabu jangan panik masih ada Panji gara disini percayakan semuanya padaku dan semua akan berjalan dengan lancar. tidak lama lagi kakang ku Singgih narpati akan segera datang untuk menjemput Gusti Prabu, Gusti Patih, dan juga Putri bergabunglah dengan Prabu Nara Wenda sementara aku dan panglima Nara aji akan menyelesaikan masalah di istana dan aku janji besok pagi aku akan segera membawa mereka untuk bergabung dengan pasukan perang kerajaan lingga buana dan kita hadapi pasukan Hindun Rancasan dengan bersama-sama"


sekitar 100 kaki dari mereka terdengar derap langkah kuda Singgih narpati pun muncul di hadapan mereka dengan 2 kuda tanpa penunggang. sang pendekar perkasa pun segera melompat dari kuda, setelah menyematkan tali kekang kuda di cabang pohon Singgih pun segera menghampiri adiknya dan langsung melontarkan pertanyaan

__ADS_1


"adik Panji mengapa kau lama sekali kami sangat mengkhawatirkan dirimu meskipun kami percaya adik Panji dapat menyelesaikan masalah tetapi tetap saja kami merasa takut terjadi hal-hal yang buruk terjadi padamu"


"sudah kakang jangan seperti mulut perempuan nanti saja ceritanya setelah selesai perang itupun jika aku masih ingat


sekarang kakang segera bawa Gusti Prabu, Gusti Patih, dan juga Gusti Putri segera pertemukan mereka dengan Gusti Prabu Nara Wenda. sementara aku dan panglima Nara aji akan menyelesaikan masalah disini setelah itu aku akan bergabung dengan kalian kakang"


"maaf pendekar apa tidak sebaiknya aku bergabung dulu denganmu dan juga panglima Nara aji untuk mengatasi masalah di istana ini? dan kanda Prabu dan juga Ken Rara ikutlah dengan pendekar Singgih narpati"


Braja musti merasa punya tanggung jawab atas kerajaan hilir jati


"tidak Gusti Patih kau sangat di perlukan di lingga buana. biarkan aku dan panglima Nara aji yang menyelesaikan masalah


disini "


"terimakasih atas kepercayaan mu Gusti Prabu dan aku berjanji aku tidak akan mengecewakan. kakang Singgih segeralah bawa mereka dari sini dan sampai berjumpa di Medan perang kakang"


"Paman panglima hati-hati" ada nada khawatir dari suara Ken Rara


setelah berpamitan mereka pun berpisah untuk menjalankan tugas nya masing-masing


suasana di istana kerajaan lingga buana nampak jelas semua orang nampak sibuk mempersiapkan segala sesuatu untuk menyambut datangnya bencana besar


sang pendekar Samber nyawa, Satria Abimanyu, Sidra giri, Singgih narpati, Naga Sura, dan juga pendekar-pendekar lainnya yang dengan suka rela bersedia menjadi senjata perang lingga buana selain sibuk memastikan bahwa pasukannya sudah siap menuju ke Medan perang juga tengah menanti kembalinya pendekar pedang Dewa Naga hitam yang sedang dalam perjalanan untuk menjemput Dewi kilat kematian karna mereka berdua punya andil besar dalam peperangan ini


selang beberapa jam kemudian seorang pandega memberitahukan bahwa pendekar pedang Dewa Naga hitam sudah kembali dengan seorang pendekar wanita yang tidak di kenal, kakang Wisnu Abi Rawa ditemani Satria Abimanyu segera menemuinya

__ADS_1


"maafkan kami kakang kami berdua terlambat datang. apa semuanya sudah di siapkan dengan baik? kakang kenalkan ini sahabatku namanya Laras jingga yang bergelar Dewi kilat kematian"


Nirwana Wadon Segoro atau pendekar pedang Dewa Naga hitam langsung memberi penjelasan begitu berhadapan dengan Wisnu Abi Rawa dan Satria Abimanyu


"kau belum terlambat adik Segoro dan terimakasih Dewi telah memenuhi undangan kami. namaku Wisnu Abi Rawa dan ini Satria Abimanyu. sekarang kita ke dalam agar lebih nyaman kita bicara di dalam"


"salam kakang senang berjumpa dengan kalian" balas Laras jingga ramah


mereka pun masuk ke dalam ruangan yang sengaja di siapkan untuk membicarakan masalah yang sangat penting.


hampir semalaman wilayah timur lingga buana di guyur hujan deras sehingga di pagi itu kabut tipis masih menyelimuti di sekeliling hutan kecil dan bukit. jalan setapak yang biasa di lalui orang-orang desa masih licin karna belum terkena sinar matahari. tiga orang prajurit kerajaan gelang-gelang yang berkemah di hutan perbatasan tengah mencari hewan buruan di balik bukit kecil. mereka mendengar suara seseorang meminta tolong


setelah saling berpandangan mereka bertiga langsung berlari menuju ke arah datangnya suara. di balik bukit di dapatinya seorang gadis cantik yang tengah duduk meringis kesakitan sambil mengurut-urut pergelangan kakinya


salah satu prajurit bertanya dengan suara agak keras


"siapa kau Nini? mengapa sepagi ini kau berada di bukit? lalu apa yang terjadi pada dirimu?"


"tolong aku tuan aku terjatuh dan sepertinya kakiku terkilir rasanya sakit dan ngilu sekali"


"oh jadi kau terjatuh rupanya. memangnya Nini hendak kemana? apa Nini tidak melihat bukit ini licin dan lumayan terjal?"


"maaf tuan namaku Jingga aku dari desa sebrang aku tidak tau kalau di wilayah ini turun hujan tolong bantu aku tuan" gadis itu terus berusaha meminta pertolongan


BERSAMBUNG

__ADS_1


__ADS_2