
Tumenggung Guntara terkesiap wajahnya pucat pasi bibirnya menggumamkan sesuatu "keris pusaka Guntur geni!!!
siapa kau sebenarnya bocah edan? mengapa kau memiliki keris pusaka Guntur geni? bukankah keris itu milik petapa sakti Resi Indra Genaya?"
dengan bibir bergetar tumenggung Guntara ingin memastikan siapa sebenarnya pemuda yang berada di hadapannya ini
"penglihatan mu cukup awas tumenggung, akulah jelmaan Resi Indra Genaya yang telah kau bunuh dengan keji. dan kini sukmaku ruh ku dan jiwaku bersemayam di tubuh pemuda ini untuk menuntut balas,
bersiap-siaplah murid murtad untuk menerima kematian mu"
"tidak aku tidak percaya hal itu!! Resi Indra Genaya sudah mati, tanganku sendiri yang melakukannya dan mataku menyaksikan bagaimana hancurnya tubuh Resi Indra Genaya meleleh mencair karna racunku itu"
"akhirnya kau mengaku juga murid murtad, bukankah keris ini yang kau inginkan hingga kau membunuh ku? sekarang ambillah keris ini dari tanganku"
sebenarnya dalam hati Panji gara merasa geli karna dia tau pasti ucapan tumenggung Guntara hanya untuk menutupi rasa takutnya
"Resi terkutuk tidak semasih hidup, tidak sekarang, sudah matipun masih saja menyusahkan"
"Ha..ha..ha..ha..ha murid murtad terimalah kematian mu" Panji gara menancapkan keris itu di permukaan tanah dengan posisi duduk bersila tubuhnya melayang ke udara tepat di atas keris "duaaaarr" tiba-tiba di langit menggelegar suara bergemuruh seperti akan terjadi badai, permukaan tanah tempat prajurit-prajurit itu berpijak mendadak retak dan perlahan-lahan menjadi terbelah, semakin lama semakin menganga entah kekuatan apa yang menarik tubuh para prajurit gelang-gelang hingga tersedot ke dalam tanah, tumenggung Guntara sekuat tenaga mengeluarkan kesaktiannya agar tidak tersedot oleh pusaran tanah seperti teman-temannya semakin dia mengeluarkan kekuatannya darah segar mengucur dari telinganya, hidung, mulut, dan juga kelopak matanya usahanya sia-sia tenaganya habis terkuras termakan kekuatannya sendiri
akhirnya terkulai ambruk lalu di telan bumi
setelah mereka lenyap perlahan-lahan permukaan tanah rapat kembali seperti tidak pernah terjadi apa-apa, lima prajurit pilihan Prabu Hindun Rancasan terkubur hidup-hidup didalam perut bumi hutan Koja
Panji gara melompat turun berpijak di permukaan tanah di cabutnya kembali keris pusaka itu dengan posisi duduk bersimpuh pemuda itu memohon ampun
"ampuni aku Hiyang Agung, ampuni aku guru, dan ampuni aku eyang aku telah melanggar aturan mu dan aku siap menerima hukumannya"
tiba-tiba langit kembali bergemuruh suara bergema memenuhi sekeliling hutan itu
"bangkitlah cucuku kau sama sekali tidak melanggar aturan, kau telah melakukan tugasmu dengan baik, cucuku lanjutkan perjalanan mu selesaikan tugasmu aku eyang mu akan selalu melindungimu"
__ADS_1
lenyap senyap seketika seiring hilangnya suara itu
"terimakasih eyang aku tau eyang akan selalu melindungiku, terimakasih dan aku berjanji setelah selesai tugasku nanti aku akan mengunjungi mu ke gunung pertapaan mu" disarungkannya kembali keris pusaka itu kedalam sarungnya yang masih terselip di pinggang. di rapihkannya kembali ikatan jubahnya agar keris itu selalu terjaga dengan aman. tubuhnya kembali melayang keatas pohon untuk segera menjemput Ken Rara
situasi diatas pohon itu sangat gelap Ken Rara merasakan cabang pohon bergetar
"kakang Panji apa itu kau?"
"benar muridku ini aku gurumu"
"kakang Panji jangan bercanda aku takut mendengar suaramu"
"he..he..he rupanya kau ketakutan juga Putri
ayo cepat kita turun"
"aku tidak mengerti dengan sikapmu kakang!! dalam suasana seperti inipun kakang masih bisa bergurau"
"aku tidak peduli kakang sekalipun kau berusia 1000 tahun aku tidak perduli hal itu"
"wiiihhhhh rupanya kau bisa marah juga putri!!"
"sudah cukup kakang jangan bercanda terus bukankah kakang Panji harus menemui ayah handaku? Oya kakang kau kemana kan prajurit-prajurit itu?"
rupanya Ken Rara baru menyadari tidak ada satupun prajurit di mulut lorong istana
"misalkan mereka mati dimana jasadnya?"
"aku sudah membuangnya jauh-jauh Putri dan aku pastikan mereka tidak akan pernah kembali, arwahnya akan menjadi penunggu hutan Koja selamanya. dan jangan katakan aku kejam Putri aku melakukan itu karna terpaksa" Panji gara tidak ingin Ken Rara salah paham padanya
"tidak samasekali kakang perbuatan mu benar toh mereka pantas menerimanya, sekarang kita masuk ke dalam lorong ini tetapi lorong ini sangat gelap kakang"
__ADS_1
"iya aku tau Putri sebentar aku buatkan obor dulu" Panji gara lalu mengumpulkan ranting-ranting kering lalu di ikatnya dengan rumput ilalang lalu di nyalakannya dengan api buatan dari batu yang di padukan
suasana di tempat itu menjadi terang mulut lorong pun terlihat dengan jelas
Ken Rara masuk kedalam mulut lorong terlebih dahulu di susul oleh Panji gara
setelah setengah badan Panji gara menarik batu untuk menutup mulut lorong agar mereka aman selama perjalanan ke istana
tinggi lorong itu mungkin sengaja di buat setinggi tubuh manusia hingga mereka tidak kesulitan berada di dalam meskipun berjam-jam, menjelang tengah malam Ken Rara dan Panji gara tiba di ujung lorong karna lorong itu sempit sehingga Panji tetap berada di belakang Putri Ken Rara
tangan gadis itu mengetuk-ngetuk langit-langit lorong lalu menggesernya sedikit demi sedikit dengan sangat hati-hati meskipun dia tau ujung lorong berada di bawah lantai Puri kaputren ayah handanya tetapi dia harus memastikan bahwa tidak ada orang lain di kamar itu selain ayah handanya. setelah langit-langit lorong tergeser Ken Rara menyembulkan kepalanya
Gusti Prabu Gandara seta yang tengah duduk termenung di atas ranjang tidurnya melompat kaget lalu meraih pedang yang tergeletak diatas meja, dinyalakan nya lampu secepat kilat sang Prabu menodongkan ujung pedang tepat di atas kepala putrinya, Gusti Prabu sengaja tidak mengeluarkan suara karna takut orang di luar mendengar nya
"ini aku ayah handa aku Ken Rara Putri mu"
suara Ken Rara terdengar perlahan tetapi Prabu Gandara seta sangat jelas mendengarnya, Prabu duduk bersimpuh di tepi lobang lorong rahasia
"benarkah kau itu Rara? benarkah kau Putri ku?" Prabu Gandara seta ingin memastikan
"benar ayahanda ini aku Ken Rara, cepat bantu aku keluar dari sini masih ada temanku didalam lorong rahasia ini"
kalau saja tidak takut terdengar oleh penjaga-penjaga di luar kamar ingin rasanya Prabu Gandara seta berteriak sekeras-kerasnya karna Putrinya telah kembali, Prabu Gandara mengulurkan tangan membantu putrinya segera naik ke atas. lalu kemudian muncul kepala Panji gara
"ayo cepat naik kakang" putri Ken Rara berbisik
setelah mereka berada di dalam kamar dalam keadaan selamat Ken Rara melepaskan kain pembungkus kepalanya dan jubahnya, Prabu Gandara seta memeluk putrinya
BERSAMBUNG
dukung terus author nya ya
__ADS_1