
"Entahlah lah Giri aku pun belum begitu yakin. namun satu hal yang ku tangkap dari cerita Biung Ratu sebelum terjadi prahara itu Mayang suri sempat diminta untuk menemui Demang karja di tempat kediamannya. menurutku ada kemungkinan jika Mayang suri pada saat itu mengakui kalau dirinya telah punya calon suami
itu bisa saja Giri dan Demang karja tidak menerimanya mungkin dia menyuruh anak buahnya untuk mencari tahu siapa pemuda calon suami yang diakui Mayang suri itu.
bagi Demang karja itu bukan hal yang sulit
Giri aku yakin Demang karja lah dalang dari semua yang terjadi padamu"
Wisnu Abi Rawa mengangguk-angguk sepertinya dia mengerti apa yang dimaksudkan oleh gurunya
"saya juga setuju dengan pendapat guru. dan jika kami bisa menemukan Demang karja serta membuka mulutnya untuk mengakui semua perbuatannya. itulah yang akan membatalkan adik Segoro untuk membalas dendam pada adik Giri apakah seperti itu yang guru maksudkan?"
"benar sekali Wisnu itulah yang ku maksud. salah satu dari kalian harus bisa menemukan Demang karja dan yang lainnya mencari Mayang suri hanya itulah satu-satunya jalan untuk meluruskan masalah antara Mayang suri dan Sidra giri"
suasana hening sejenak sepertinya mereka sama-sama berpikir
"baiklah guru ada baiknya jika kami segera menyelesaikan masalah ini. aku yang akan mencari adik Segoro. dan kau adik Giri carilah Demang karja sampai ketemu sebaiknya besok pagi kita segera pergi.
guru mohon maaf jika kami tidak bisa berlama-lama untuk menemani guru"
ada nada penyesalan dalam suara Wisnu Abi Rawa. sejujurnya sang pendekar Samber nyawa itu masih ingin meluangkan waktu untuk bersama-sama dengan gurunya. namun ada masalah penting yang harus segera di selesaikannya
itulah perjalanan hidup manusia yang selalu manusia yang selalu tidak luput dari kejaran masalah
***
senja di langit nampak cerah dua orang pemuda tengah berjalan di tengah-tengah hamparan sawah. dan kedua pemuda itu Singgih narpati dan Panji gara yang tengah mencari empat pendekar berdarah biru
__ADS_1
"kakang sudah berhari-hari kita mencari putra-putra nya Gusti Prabu Wira Nanta tapi hingga hari ini kita masih belum menemukannya" Panji gara mulai buka suara
"bersabarlah adik Panji mungkin belum saatnya kita menemukan mereka. tapi aku yakin kita akan menemukannya. kau lihat adik Panji di penghujung hamparan sawah ini sepertinya ada perkampungan sebaiknya kita mampir ke sana dulu untuk mencari makan pastinya di perkampungan itu ada kedai makanan"
"kau benar kakang memang dalam segala hal tugas apapun yang paling utama itu mengisi perut " Panji gara menjawab penuh semangat
"Hahahaha" Singgih narpati tertawa karena memang jika sudah menyangkut makanan wajah adiknya itu akan kembali ceria dan penuh semangat
tidak terasa mereka pun sudah tiba di penghujung sawah dan memasuki perkampungan. setelah melewati beberapa rumah penduduk mereka pun menemukan apa yang dicarinya
kedai makanan lumayan lengkap dan ruangan makan pun agak cukup luas beberapa meja tertata rapi lengkap dengan empat kursi berjejer. di dalam ruangan seorang pelayan dengan ramah mempersilahkan kedua pemuda itu untuk duduk serta menawarkan berbagai macam makanan
"silahkan den mau pesan apa? nasi putih lengkap dengan lauk pauknya, nasi liwet, nasi tumpeng, atau mau bubur ayam serta minuman, ada kopi hangat, ada bandrek, bajigur, wedang jahe, atau teh manis"
tawar si pelayan tanpa ragu-ragu
"kau mau pesan apa kakang? tidak disangka di kedai ini cukup lengkap juga makanannya"
Singgih narpati belum menjawab namun Panji gara telah memesan semua makanan yang di tawarkan pelayan itu
"adik Panji kau bertanya padaku hendak memesan apa tapi kau pesan semua makanan yang ada disini apa kita dapat menghabiskan makanan-makanan itu dan juga apakah kau punya cukup uang untuk membayarnya?" Singgih narpati bertanya agak khawatir karena jujur dia tidak punya uang banyak untuk membayar makanan yang di pesan Panji gara
"jangan khawatir kakang" Panji gara berbisik di telinga Singgih narpati seperti takut ada yang mendengarnya
"apa kau tau Gusti Prabu Wira Nanta memberiku banyak uang untuk bekal kita di perjalanan dan dari nilainya itu sangat cukup tapi kakang harus janji jangan beritahukan pada siapapun mengenai hal ini"
Singgih narpati melotot kesal
__ADS_1
"kau ini adik Panji bagaimana kau bisa menerima pemberian Gusti Prabu Wira Nanta. sedangkan kesepakatan kita menolong Gusti Prabu atas dasar kewajiban bukan karena pamrih apapun.
apalagi kau menerimanya dengan diam-diam tanpa sepengetahuan ku dan juga sodara yang lainnya"
"eit tunggu dulu kakang, kakang jangan marah ini bukanlah imbalan dari apa yang telah kita lakukan tetapi ini untuk bekal perjalanan kita mencari putra-putra dan putri nya Gusti Prabu dan ini tidak ada kaitannya dengan yang lain, apa aku salah menerimanya sedangkan kau tau kita butuh makan"
Singgih narpati menghela nafas mungkin ada benarnya juga apa yang di ucapkan adiknya itu. hanya yang membuatnya kesal mengapa Panji gara tidak mengatakan nya kalau dia telah diberinya banyak uang oleh Gusti Prabu Wira Nanta. diapun tidak berani untuk mengatakan apapun lagi karena semuanya sudah terlambat dan tidak mungkin Singgih narpati meminta Panji gara untuk mengembalikan uang-uang itu
pesanan pun segera datang meja nampak penuh dengan makanan yang di pesan
Singgih narpati hanya memilih makanan secukupnya saja. lain halnya dengan Panji gara dia hampir menghabiskan makanan yang di pesannya. di tengah-tengah asiknya mereka makan tiba-tiba datang dua orang dengan di ikuti beberapa begundalnya sepertinya mereka perampok itu terlihat dari pakaian yang mereka kenakan
Panji gara melirik pada mereka yang baru datang lalu berbisik pada Singgih narpati
"kakang sepertinya biang onar datang"
"iya adik Panji berhati-hatilah tetapi selama mereka tidak berbuat keributan jangan bertindak yang aneh-aneh" Singgih narpati mengingatkan adiknya
"tenang kakang perutku masih minta di isi jadi aku akan tetap melanjutkan makan ku"
"brraaakkk" tiba-tiba salah satu dari orang-orang itu memikul meja dengan keras meminta di sediakan makanan serta arak beberapa pelayan di kedai itu tergopoh-gopoh menghampiri mereka dengan ketakutan
"silahkan duduk dulu juragan dan kami akan segera menyiapkan makanan yang juragan pesan"
"tidak perlu aku tidak perlu duduk. keluarkan semua arak dan makanan yang ada di kedai ini" salah satu dari orang-orang itu membentak pelayan suaranya terdengar sangat keras hingga tubuh pelayan itu menggigil ketakutan
Panji gara menggeser tempatnya duduk namun Singgih segera memegang tangannya. memang begitulah sifat Panji gara murid singgaru yang satu ini paling tidak suka melihat kekerasan
__ADS_1
BERSAMBUNG