MANTRA HITAM PEMIKAT

MANTRA HITAM PEMIKAT
CH 23 MELANJUTKAN PERJALANAN


__ADS_3

"baiklah jika memang itu yang kalian inginkan, sekarang begini saja pangeran setelah kondisi kalian benar-benar membaik kalian pergilah mencari tahu dimana ayah handa kalian di sembunyikan,


apakah di kerajaan kalian atau bahkan di tempat lain, jika kalian sudah dapat membuktikan kalian pergilah ke goa gurang-rang temui guruku biyung ratu embok berikan pisau ini agar beliau mempercayai kalian bahwa kalian telah bertemu denganku di perjalanan dan katakan padanya kalian ingin menjumpai saya, saat ini saya punya tugas yang sangat penting jadi saya tidak bisa menemani kalian lebih lama lagi"


Mayang suri memutuskan langkah yang harus mereka ambil untuk selanjutnya lalu dia memberikan sebilah pisau yang di berikan oleh gurunya Resi purba kesa


dengan senang hati ke empat pendekar berdarah biru itu menyetujui usulan Mayang suri, meski ada rasa sedikit kecewa di dalam hati pangeran Wira Geni karena harus secepatnya berpisah dengan gadis bercadar Hitam tanpa bisa melihat dulu wajahnya namun apa hendak dikata mereka punya tugas yang harus dilaksanakan


setelah saling menyepakati mereka pun akhirnya berpisah mengambil jalan masing-masing untuk menjalankan tugas nya masing-masing seperti apa yang di ceritakan oleh biyung ratu embok mengenai kedahsyatan serta nama besar yang di sandang oleh pedang pusaka pemburu iblis ternyata benar-benar nyata di alami oleh Mayang suri yang kini menjadi pemilik pedang itu di setiap langkahnya selalu saja ada hambatan kebanyakan dari pendekar-pendekar golongan hitam yang menginginkan pedang pusaka itu


nampaknya Mayang suri pun sudah merasa kelelahan hampir setiap hari dan setiap waktu dia harus mempertaruhkan nyawanya demi untuk mempertahankan pedang pemburu iblis


siang itu matahari sangat terik menyengat kulit, Mayang suri mencoba melepas lelah di sebuah aliran sungai setelah membasuh wajah dan meminum air sungai secukupnya ia pun duduk di sebuah batu sambil menatap gunung yang berada di seberang sungai,


"untuk mencapai Kademangan mekar jaya aku masih harus melewati hutan dan juga gunung itu


entah apa yang akan terjadi pada diriku


mungkinkah aku masih sanggup untuk menghadapi mereka yang terus memburu ku, bagaimana caranya agar aku bisa terhindar dari mereka untuk segera mencapai tujuanku, mekar jaya kota Kademangan yang telah menghancurkan hidupku" mengingat mekar jaya mengingatkan kembali Mayang suri akan kepahitan hidup yang sempat di telannya


begitupun juga mengingatkan dirinya pada seseorang yang hingga saat ini tidak lagi terdengar kabar beritanya hati Mayang suri pun berbisik lukanya kembali terkuak


"kakang dimana kau sekarang? andai saja dulu kau punya keberanian untuk mengakui hubungan kita di hadapan orang tua mu mungkin nasibku tidak seperti ini kini aku sendirian, kakang aku menjalani hidup ini tanpa siapapun di sisiku kini aku tidak tau lagi haruskah aku tetap mengharapkan mu atau bahkan aku membencimu"

__ADS_1


"Dewi tidak baik seorang gadis cantik merenung sendiri di sungai" sebuah suara tiba-tiba mengejutkan lamunan Mayang suri kepalanya menoleh kearah suara itu,


seekor biawak tengah menatapnya diatas sebuah batu tidak jauh darinya Mayang suri menatap lekat-lekat biawak itu


"apakah kau yang menegurku biawak? suaramu mengejutkan ku, sebaiknya tunjukkan dirimu yang sesungguhnya jika kau berniat baik padaku"


"maafkan aku Dewi jika kehadiranku telah mengejutkanmu, tapi apakah kau sudah lupa ini aku Dewi, Resi baya yang kau temui di dalam goa hantu, sengaja aku menggunakan tubuh biawak ini agar tidak ada orang yang curiga"


mendengar pengakuan biawak itu Mayang suri lantas bersimpuh untuk menghormati Resi baya "maafkan saya Resi jika ucapan saya terlalu kasar dan tidak sopan, saya tidak tahu bahwa Resi lah yang sekarang berada di hadapan saya sekali lagi maafkan saya Resi"


"tidak perlu meminta maaf Dewi sedikitpun kau tidak bersalah, aku sengaja menemuimu disini untuk memberitahukan sesuatu, sesungguhnya aku percaya padamu Dewi kalau kau mampu melindungi pedang itu dari kejaran orang-orang jahat namun tentunya setiap manusia pasti memiliki kelemahan dan ada kalanya kehilangan kekuatan, maka untuk itu aku datang hanya ada satu cara untuk menyembunyikan pedang pusaka itu agar mereka tidak harus memburumu"


Resi baya memberitahukan maksud kedatangannya menemui Mayang suri


Mayang suri meminta penjelasan atau petunjuk kepada Resi baya


"Dewi kau harus membuka ruang di bagian tubuhmu untuk menyembunyikan pedang pusaka itu, dengan cara itu tidak ada satu manusia pun apalagi dari golongan-golongan sesat, yang dapat mengetahui keberadaan pedang pemburu iblis sehingga perjalanan mu akan aman hingga tercapai tujuanmu"


"baiklah Resi aku mengerti Resi baiklah akan aku persiapkan diriku tetapi tentunya dengan bantuan Resi" Mayang suri sangat setuju dengan apa yang akan dilakukan Resi baya


"dekaplah pedang itu di dadamu Dewi pusatkan pikiran mu aku akan membantu mendorong nya" Resi baya memberikan petunjuk


Mayang suri pun melakukannya tidak sulit memang mungkin karena Mayang suri pewaris mutlak atas pedang pusaka itu hingga dengan mudahnya Resi baya menyusupkan pedang pemburu iblis di bagian tubuh Mayang suri

__ADS_1


gadis itu tersenyum senang hatinya merasa lega dengan bantuan Resi baya


apakah dirinya untuk selanjutnya akan terbebas dari kejaran


"terimakasih Resi engkau hadir disaat yang tepat pada saat aku kebingungan kini saya merasa lega, Resi perjalanan saya akan terasa ringan"


"sama-sama Dewi sudah kewajiban ku untuk membantu dirimu, kini aku pun merasa tenang pedang itu akan muncul dengan sendirinya jika dirimu dalam bahaya tanpa harus kau minta, tugas ku sudah selesai Dewi kini aku mohon pamit


jaga dirimu baik-baik" setelah berpamitan Resi baya dalam wujud seekor biawak menghilang entah kemana


Mayang suri menghela nafas panjang beban hatinya kini sedikit berkurang


"sebaiknya aku pun segera meninggalkan tempat ini agar aku tidak kemalaman didalm hutan, perjalanan ku masih cukup lumayan jauh dan juga aku sudah tidak punya bekal makanan" Mayang suri bangkit berdiri lalu menyebrangi sungai tubuhnya menghilang di balik rimbunnya pohon-pohon


di dalam hutan senja merambat malam Mayang suri baru saja keluar dari dalam hutan memasuki sebuah dusun kecil


kakinya terasa gontai selai. karena lelah perutnya juga terasa keroncongan matanya menoleh ke kiri dan ke kanan barangkali ada kedai makanan disekitar itu,


terhalang tiga rumah penduduk terdapat sebuah kedai kecil tetapi nampaknya lengkap menjual makanan alakadarnya dan juga minuman seadanya


Mayang suri tersenyum dia menemukan apa yang di carinya dengan langkah tergesa-gesa gadis itu pun menghampiri kedai seorang wanita setengah baya menyambutnya dengan senyuman dan suara ramah


"silahkan Nini apa Nini mau makan atau hanya mau minuman teh saja tetapi makanan disini hanya makanan biasa nasi dan lauk seadanya hanya ada teh. kopi, dan wedang jahe Nini mau minun?"

__ADS_1


BERSAMBUNG


__ADS_2