MANTRA HITAM PEMIKAT

MANTRA HITAM PEMIKAT
CH 70 SANJAYA DAN TEMAN-TEMAN


__ADS_3

Wadon Segoro menatap punggung gadis itu yang sepertinya mengingatkan pada dirinya 15 tahun yang lalu di desa Tanjung sari


Satria menepuk punggung punggung tangan Wadon Segoro yang di letakkan di atas meja "jangan mengingat-ingat yang sudah lalu dirimu kini seorang pendekar yang punya nama besar meski jati dirimu tetap Mayang suri"


tidak lama kemudian gadis itu kembali dengan baki di tangan nya yang penuh dengan piring-piring makanan dan juga minuman


"mangga juragan di tuang wilujeng ngiring raos"


(silahkan tuan di makan selamat menikmati)


Wadon Segoro menurunkan piring-piring dari baki diletakkan di hadapan Satria dan dirinya. karna sudah lapar tidak lagi basa-basi mereka menyerbu makanan-makanan itu.


hampir setengah piring di habiskan segerombolan pemuda berjumlah lima orang sambil tertawa dan bersenda gurau memasuki halaman warung. di lihat dari penampilannya uragan. sepertinya mereka bukan pemuda baik-baik bahkan salah satu dari mereka menendang bangku serta menggebrak meja suaranya lantang berteriak memanggil pemilik warung


"mang aku minta arak"


gadis itu yang keluar


"maaf akang disini tidak jual arak. kalau akang mau ada kopi sama wedang jahe"


"wiihhh si eneng meni cantik. eneng mau jadi pacar akang? kalau eneng mau jadi pacar akang eneng tidak usah nungguin warung" pemuda itu bukan hanya menggoda tetapi bersikap kurang ajar


wadin Segoro hampir berdiri melihat perlakuan pemuda itu. namun Satria segera mencegahnya dengan isyarat menggelengkan kepala


"aku tidak suka melihat wanita di perlakukan tidak senonoh" bisiknya di telinga Satria


"aku tau tapi bukan seperti ini caranya dan aku punya cara yang ampuh untuk memberi pelajaran. kau lihat saja"


semakin lama perlakuan pemuda itu semakin kurang ajar salah satu dari mereka bernama Sanjaya. sepertinya Sanjaya lah juragan dari pemuda-pemuda yang lainnya


dan dia juga yang bersikap paling kurang ajar


Wadon Segoro semakin kesal di buatnya


Satria segera mematahkan duri ikan yang tersusun rapih lalu mengambil sebuah mentimun yang berukuran tidak terlalu besar juga tidak terlalu kecil

__ADS_1


di usapnya permukaan timun dengan dua jarinya dan setelah itu di tancapkan nya duri ikan pada mentimun itu dan apa yang terjadi


Sanjaya berteriak sambil berjingkrakan dan mengaduh kesakitan tiba-tiba darah mengucur entah dari mana dan bagaimana


karna tidak ada penyebab yang jelas teman-temannya menghampirinya berusaha membantu


"Kamu kenapa Sanjaya?"


"aku tidak tau tanganku terasa sakit dan tiba-tiba berdarah"


"mungkin kau terkena ujung meja" jawab gandi salah satu temannya


"tidak. tidak aku tidak terkena benda apapun". jawab Sanjaya


"Sanjaya mungkin kau terkena santet"


mendengar pernyataan temannya Sanjaya semakin marah


"santet santet kepala mu. mana ada orang yang berani menyantet ku"


menyaksikan kejadian itu Wadon Segoro tertawa diam-diam gadis itu mengagumi kesaktian Satria


serta merta Sanjaya berteriak keras kesaktian. semu teman-temannya kebingungan dan juga pemilik warung


apa yang harus mereka lakukan untuk menolong Sanjaya


melihat semua kebingungan Satria berbisik di telinga Wadon Segoro


"suri aku akan pura-pura membantu si Sanjaya itu tapi tentunya dengan satu syarat. dan kau tetap disini setelah si Sanjaya memenuhi syarat ku aku akan beri isyarat padamu. dan tugasmu memisahkan duri itu dari mentimun tapi jangan ada yang mengetahuinya apa kau paham maksudku suri?"


Wadon Segoro mengangguk tanda mengerti


setelah memberikan mentimun yang di tancapi duri ikan Satria segera bangkit menghampiri pemuda berandalan itu


"apa yang terjadi anak muda? ku perhatikan sejenak tadi kau seperti merasakan kesakitan"

__ADS_1


"aku sendiri tidak tau kakang. tiba-tiba sebelah tanganku di dera rasa sakit serta darah mengucur. sedangkan tanganku tidak terkena benda tajam apapun!! tolong saya kakang dan saya akan memberi imbalan sebanyak yang kakang minta. ayahku seorang hulu balang yang memiliki harta dan uang" meskipun sudah mendapatkan hukuman seperti itu Sanjaya masih saja memperlihatkan kesombongannya


"baiklah anak muda beri tau siapa namamu?"


"namaku Sanjaya kakang"


"baik Sanjaya akan ku coba menolongmu tapi dengan satu syarat. jika aku bisa menyembuhkan. kamu harus berjanji akan menjadi orang baik-baik. ajak serta temanmu tidak sulit menjadi orang baik Sanjaya dan tidak merasa malu apalagi dirimu seorang putra terhormat. tentunya ayahmu di hormati dan di segani banyak orang. saranku jangan mengotori kehormatan dan nama baik ayah mu dengan kelakuan kelakuan mu yang seperti binatang. dan aku tidak minta bayaran berupa harta ataupun uang. cukup itu saja yang ku inginkan darimu dan jika kamu setuju aku akan membantu untuk menyembuhkan penyakit mu. tapi jika tidak jangan harap aku menolongmu terima saja itu sebagai karma mu"


"bagaimana kawan-kawan apa kalian setuju dengan syarat yang di ajukan oleh kakang pendekar ini?" Sanjaya bertanya pada teman-temannya sebelum menjawab pertanyaan Satria


"kalau aku sih terserah kamu saja Sanjaya kan yang merasakan kesakitan pun kamu. kalau kamu turuti ya kami ikut-ikut saja. tapi kamu bisa tahan gak dengan penyakit aneh itu?" jawab gandi mewakili teman-teman yang lain


"baiklah kakang pendekar asalkan kakang pendekar bisa menyembuhkan penyakit sialan ini maka aku berjanji aku akan menjadi orang baik-baik dan jika aku ingkari penyakit ini akan menyerang ku lagi hingga aku mati" Sanjaya bersumpah di hadapan semua orang yang berada di warung itu


"baiklah Sanjaya coba ku lihat tangan mu"


Sanjaya menyodorkan tangan yang bercucuran darah


Satria pura-pura menelitinya matanya melirik ke arah Wadon Segoro yang sejak tadi hanya duduk terdiam mengawasi mereka


melihat Satria memberi isyarat Wadon Segoro mengeluarkan mentimun dari balik pakaian nya di halangi dengan tubuhnya yang mungil agar tidak dilihat orang


namun sebelum duri itu di cabut di tekan nya terlebih dahulu kuat-kuat hingga Sanjaya meraung-raung kesakitan


Satria menyembunyikan senyum nya lucu juga melihat pemuda itu meraung dan berjingkrak-jingkrak kesakitan


Satria meniup dua jari tangannya sekali lagi matanya memberi isyarat pada Wadon Segoro. di usapnya tangan Sanjaya dengan dua jari tangan. disaat yang bersamaan Wadon Segoro mencabut duri ikan yang menancap pada mentimun


terjadilah keajaiban entah ilmu apa yang di gunakan sang pendekar sakti itu hingga tangan Sanjaya sembuh dengan tiba-tiba bahkan darah segar yang tadi terus mengucur mendadak sirna tanpa sisa. penyakit Sanjaya sembuh tanpa meninggalkan bekas!!


tiba-tiba Sanjaya bersimpuh di kaki Satria


"terimakasih kakang pendekar terimakasih saya berjanji akan menepati janji saya. ternyata di dunia ini masih ada pendekar sakti yang mau peduli pada penderitaan orang lain"


Satria tersenyum di raihnya bahu anak remaja itu "berdiri lah Sanjaya tidak seharusnya kau bersimpuh di kaki ku. aku bukan Tuhan yang patut untuk di sembah dan tidak perlu berterimakasih karna sudah kewajiban ku untuk menolong sesama"

__ADS_1


Satria manusia yang memang luar biasa seorang pendekar sakti mandraguna namun tidak pernah ingin jati dirinya di ketahui orang banyak


BERSAMBUNG


__ADS_2