MANTRA HITAM PEMIKAT

MANTRA HITAM PEMIKAT
CH 65 MEMBURU DEMANG KARJA


__ADS_3

"Masih sama seperti lima belas tahun yang lalu belum banyak perubahan disini" pikir Wadon Segoro


di persimpangan jalan mereka berhenti Danda sokana pun bertanya ber basa-basi


"Dewi apakah Dewi mau ikut bersama saya? atau Dewi mau langsung menemui kerabat Dewi itu?"


"benar Paman sepertinya saya belum bisa bertemu keluarga Paman karna saya harus menemui kerabat saya. lain kali saja saya mampir di rumah Paman. rencananya mau berapa lama Paman berada di Kademangan ini?" dengan halus pendekar pedang Dewa Naga hitam menolak ajakan Danda sokana


setelah saling berpamitan mereka pun berpisah di persimpangan jalan. setelah Danda sokana sudah menjauh Wadon Segoro menatap ke sebrang jalan sepertinya mencari seseorang kakinya melangkah menghampiri pedagang minuman karna disitulah dulu orang yang pernah menolongnya berjualan kain


melihat Wadon Segoro menghampirinya pedagang itu segera menawarkan dagangannya "silahkan pendekar mau pesan apa? bandrek, bajigur, wedang jahe, atau lahang gula aren? semuanya tersedia dan masih hangat bisa menyegarkan tubuh pendekar kembali" dengan wajah ramah pedagang itu mempersilahkan Wadon Segoro duduk di bangku yang sudah di sediakan


"terimakasih Ki sanak kebetulan aku juga haus sekali. aku pesan wedang jahe saja.


oh ya Ki sanak dulu disini ada penjual kain apa sekarang dia sudah tidak berjualan atau mungkin pindah tempat? apakah Ki sanak mengetahuinya?"


"maaf pendekar saat saya mengisi tempat ini. tempat ini sudah lama kosong dan saya menyewanya pada juragan besar" sambil menyodorkan gelas wedang jahe pedagang itu menjelaskan.


"oohh begitu ya Ki sanak? baru saja Ki sanak mengatakan menyewa tempat ini pada juragan besar. kalau boleh saya tau siapa juragan besar itu?"


"oh itu sebenarnya saya juga belum pernah bertemu secara langsung dengan juragan besar itu karna yang biasa datang kesini untuk menagih uang sewa hanya anak buahnya. tetapi yang saya dengar namanya juragan karja bekas Demang di Kuta raja ini


sekarang dia tidak tinggal disini melainkan di desa Sindang sugih desa yang berada di sebrang Kuta raja ini. memangnya ada apa pendekar? mengapa pendekar ingin tau siapa yang menyewakan tempat ini? apakah pendekar sedang mencari tempat sewaan?"


"tidak Ki sanak terimakasih untuk penjelasannya. berapa lama perjalanan dari sini ke desa Sindang sugih?"


Wadon Segoro merasa gembira karna dia sudah menemukan kejelasan mengenai orang buruannya itu

__ADS_1


"tidak jauh lagi pendekar. hanya sekitar satu setengah jam dengan berjalan kaki. tapi kalau pendekar mau menyewa kuda atau di antar pedati perjalanan satu jam pun sudah tiba disana" pedagang bejigur itu menjelaskan bahkan menawarkan kuda atau pedati sewaan


"tentu Ki sanak aku sangat membutuhkan kuda atau pedati untuk ku sewa. dimana aku bisa menyewanya? dan berapa harganya?" dengan cepat Wadon Segoro menjawab karna memang dia sangat membutuhkan seekor kuda untuk pergi ke Sindang sugih


"harganya lima ringgit pendekar untuk seekor kuda dalam satu hari. dan untuk pedati tiga ringgit untuk satu jalan. dan enam ringgit jika di tunggu"


"baiklah Ki sanak saya ambil"


pedagang bajigur pun segera mengantar pendekar pedang Dewa Naga hitam ke istal milik sodaranya. setelah memilih kuda yang kekar dan kuat serta membayar sewa untuk seharian pakai. Nirwana Wadon Segoro pun bergegas meninggalkan kuta raja Kademangan mekar jaya menuju ke desa Sindang sugih


benar apa yang dikatakan oleh penjual bajigur tidak sampai satu jam pendekar pedang Dewa Naga hitam tiba di desa Sindang sugih. selain jalannya yang lurus tidak ada sedikitpun bebatuan hingga sang pendekar dapat memacu kudanya dengan cepat


di ujung desa nampak sebuah rumah dengan hanya di terangi lampu lentera karna hari memang sudah gelap. Wadon Segoro turun dari kudanya menghampiri rumah itu serta mengetuk pintu


tidak lama kemudian seseorang membuka pintu dari dalam. melongokan kepala ke luar sambil bertanya


seorang pemuda berdiri di balik pintu


sebetulnya pendekar pedang Dewa Naga hitam kebingungan untuk menjawab pertanyaan pemuda itu tapi dia segera menguasai dirinya


"maaf Ki sanak kalau aku mengganggu aku hanya ingin bertanya apakah disini ada penginapan untuk ku menginap malam ini"


"oh sepertinya kau ini seorang pendekar. sayang disini tidak ada penginapan jadi mohon maaf. tapi jika Nini mau menginap malam ini Nini bisa pergi ke rumah di deretan paling ujung biasanya pemilik rumah itu suka menyewakan kamar untuk orang-orang yang kemalaman di desa ini.


dan kebetulan juga pemilik rumah itu Kuwu di desa ini Nini bisa pergi kesana"


pemuda itu menunjuk rumah paling ujung yang ternyata rumah pak Kuwu desa Sindang sugih

__ADS_1


setelah mengucapkan terimakasih pendekar pedang Dewa Naga hitam menuntun kudanya menuju ke rumah pak kuwu.


***


selang beberapa saat pendekar pemburu nyawa tiba di Kuta raja Kademangan mekar jaya menurut informasi yang dia dapat bahwa Demang karja tinggal di Kuta raja itu jika saja tidak terlambat beberapa jam saja mungkin dia akan bertemu dengan pendekar pedang Dewa Naga hitam


pendekar pemburu nyawa atau Sidra giri tidak lagi merasa asing pada tempat itu meskipun dia di besarkan di desa Tanjung sari tetapi dulu ayah dan ibunya sering membawanya berkunjung ke Kuta raja berbelanja pakaian atau keperluan dapur saat dia masih kecil


sambil melangkah matanya mengamati sekeliling tempat itu suasananya masih tetap sama "aku tidak tau apakah biadab terkutuk itu masih tinggal di pendopo Kademangan atau mungkin sudah pindah


tapi sepertinya rumah itu nampak sepi seperti tidak ada penghuninya. tapi aku harus tetap waspada" Sidra giri mendorong pintu gerbang tidak di kunci tidak ada seorang pun penjaga di dalam


halamannya nampak kotor seperti sudah lama tidak terawat. dengan penuh kewaspadaan Sidra giri terus melangkah memasuki teras rumah lalu mengetuk pintu


cukup lama dia menunggu hatinya terus menduga-duga


"apakah sudah tidak ada yang menghuni rumah ini?" gumamnya dalam hati


hampir dia beranjak meninggalkan rumah itu ketika tiba-tiba terdengar derit pintu terbuka. Sidra giri mundur selangkah untuk menjaga segala kemungkinan selain karna gelap suasana rumah itu pun sangat sepi


seorang wanita setengah baya berdiri di depan pintu menatap lekat-lekat wajah Sidra giri "mau mencari siapa anak muda? di rumah ini hanya ada saya sendiri. jadi siapa yang mau kau cari?"


raut wajah wanita itu sangat dingin tatapan matanya kosong nada suaranya pun terdengar kaku


"maaf Nyai apa benar rumah ini milik juragan karja? apa aku bisa bertemu dengannya?" jawab Sidra giri masih dalam keadaan waspada


dan hati-hati

__ADS_1


BERSAMBUNG


__ADS_2