MANTRA HITAM PEMIKAT

MANTRA HITAM PEMIKAT
CH 82 JATIDIRI SATRIA ABIMANYU DAN MAYANG SURI


__ADS_3

"Walaupun wajah mereka di tutup dengan menggunakan topeng tetapi aku dan Abirawa yakin mereka orang-orang yang berada dalam acara pemilihan, aku tidak menduga hari ini aku bertemu dengan muridnya dan juga murid-murid putranya


bagaimana keadaan Abirawa saat ini? aku ingin sekali berjumpa dengan nya"


pini sepuh sedikit menceritakan mengenai perkenalannya dengan Resi Abirawa beliau pun tidak lupa memperlihatkan batu cincin bermata jingga yang hingga saat ini masih melingkar di jarinya


hati Gusti Prabu Nara Wenda semakin gembira wajahnya yang semula agak kusam kini nampak bersinar setelah mengetahui bahwa pendekar-pendekar muda itu ternyata murid-murid Resi sakti sahabat penasehatnya


"aku sangat gembira pini sepuh ternyata mereka murid-murid sahabatmu Resi Abirawa yang sering kau ceritakan padaku!!


inilah yang disebut keajaiban dan aku percaya hal itu Sanghyang Widhi telah mengirimkan kekuatan tinggi untuk kita menghadapi Hindun Rancasan"


suara Gusti Prabu Nara Wenda terdengar penuh semangat dan semua yang hadir menghela napas lega melihat semangat Gusti Prabu nya telah pulih kembali


tidak terasa hari sudah senja namun di luar langit masih nampak cerah Gusti Prabu memerintahkan hulu balang Diwangkara untuk menyiapkan tempat serta segala keperluan yang akan di butuhkan oleh para pendekar, setelah semuanya sepakat untuk mengadakan pertemuan selanjutnya dan menyusun rencana Gusti Prabu Nara Wenda pun menutup rapat. semua yang hadir meninggalkan pendopo dengan hati yang gembira


***


pada saat yang bersamaan pendekar pemburu nyawa atau Sidra giri menyempatkan waktu melakukan panggilan batin terhadap sang pendekar Samber nyawa dengan menggunakan aji bayu telepati

__ADS_1


begitu juga halnya yang dilakukan oleh Singgih narpati setelah mengantar pangeran Wira Geni ke istana kerajaan Cipamanahan pendekar muda itupun segera meninggalkan putra mahkota tanpa terlebih dulu menemui Gusti Prabu Wira Nanta dia hanya menitipkan salam permintaan maaf karna tidak dapat menemui beliau. ada satu hal yang sangat penting yang ingin di tanyakan nya pada kakang Wisnu Abi Rawa. mereka pun sepakat bertemu di gunung kembar sebelum melanjutkan perjalanan ke lingga buana


dengan menggunakan aji meringankan tubuh yang sangat sempurna baik Singgih narpati ataupun Sidra giri dan juga kakang Wisnu Abi Rawa yang barusaja keluar dari hutan simagong-gong. tidak harus makan waktu lebih lama lagi merekapun tiba secara bersamaan di gunung kembar


"apa yang kau ingin ketahui dariku adik Singgih?" tanya Wisnu Abi Rawa langsung pada intinya


"aku hanya ingin mengetahui apa yang aku lihat kakang" jawab Singgih narpati tegas


"lalu bagaimana denganmu adik Giri"


sama kakang aku ingin mengetahui mengenai jatidiri Satria aku yakin kakang mengetahuinya


"baiklah akan aku jelaskan Satria Abimanyu dia Satria utusan Dewa Langit di turunkan ke bumi untuk mengawasi Mayang suri atau Nirwana Wadon Segoro"


apa alasan Dewa Langit mengutus Satria untuk mengawasi adik Mayang suri? tentunya ada alasan yang sangat khusus"


"benar sekali adik Singgih ini semua berawal dari peristiwa 15 tahun yang lalu saat Biung Ratu, eyang Resi Abirawa dan juga Resi guru Purba kesha memutuskan untuk mengadakan ritual penyembuhan atas diri Mayang suri di dua telaga terlarang telaga hitam dan telaga kematian


ketiga orang-orang sakti itu bukan tidak mengetahui akibat yang akan terjadi kedepannya tetapi mereka tidak punya pilihan lain selain melakukan hal itu"

__ADS_1


"apakah yang akan kakang lakukan mengenai ajian mantra hitam pemikat?"


"kau benar adik Giri, yang harus kalian ketahui bahwa sesungguhnya sebagian jiwa Mayang suri telah mati dan yang kini hidup itulah jiwa Ratu telaga hitam. menurut cerita eyang Resi sebenarnya Ratu telaga hitam itu adalah bidadari kayangan yang menjalani hukuman karna melanggar aturan langit dan itu terjadi akibat satu kisah terlarang yang melanggar kodrat alam Bidadari, Dewa langit murka hingga menghukumnya di dua telaga itu jiwa yang terpisah kini menyatu kembali hidup kembali dan bangkit kembali dalam diri Mayang suri jika saja Resi guru tidak memberikan cadar penutup wajah maka sejak Mayang suri turun gunung pastinya sudah terjadi malapetaka seperti yang kalian lihat di istana nareh tentunya kalian sudah dapat menerka itu bukan seutuhnya Mayang suri melainkan jiwa Ratu telaga hitam, entah untuk berapa lama Satria Abimanyu berada di muka bumi untuk menjalankan tugasnya, sesungguhnya keberadaan Satria pun jika sudah tercium oleh para pendekar dari berbagai golongan maka jagat persilatan akan lebih di gegerkan"


"lalu apa yang harus kita lakukan kakang?" tanya Singgih narpati penuh rasa khawatir


"tidak ada adik Singgih tidak ada yang bisa kita lakukan biarlah Satria yang menjalankan tugasnya dan kita hanya ikut menjaganya tidak lebih dari itu"


"lalu apa rencana selanjutnya kakang untuk masalah Mayang suri?"


"kita tidak punya rencana apapun adik Giri. tetapi untuk membantu Gusti Prabu Nara Wenda dan menyelamatkan kerajaan lingga buana dari ancaman Prabu Hindun Rancasan aku sudah memikirkannya. kalian berdua segeralah menyusul Satria dan yang lainnya ke istana lingga buana aku sudah mendapat kabar dari Satria saat ini mereka menetap di ujung pedukuhan Pakuan timur dan untuk lebih jelasnya kalian bisa bertanya langsung pada Satria ataupun pada adik Segoro. sementara aku masih punya tugas penting eyang Resi Abirawa menyuruhku segera berangkat ke ujung kulon untuk meminta bantuan kepada kiyai Sanca Mukti semoga saja beliau berkenan membantu kita, dan mengenai kelemahan Prabu Hindun Rancasan menurut keterangan dari eyang Resi Abirawa kekuatannya akan dapat dihancurkan jika dia persetubuhan dengan seorang perempuan. tetapi aku belum memikirkan hal itu karna aku sendiri tidak akan pernah mungkin untuk mengorbankan adik Segoro


dan untuk masalah itu kita bisa bicarakan nanti setelah kita semua berkumpul. dan sekarang segeralah kalian berangkat ke lingga buana dan malam ini juga aku akan berangkat ke ujung kulon. aku percaya Satria tidak akan melakukan tindakan gegabah atau melakukan hal-hal di luar dugaan sebelum aku datang, kita berpisah disini adik Giri adik Singgih pergilah tunggu aku di lingga buana"


setelah saling berpamitan mereka pun kembali berpisah di gunung kembar


tidak terlalu banyak yang harus di ceritakan mengenai perjalanan sang pendekar Samber nyawa, saat azan subuh berkumandang pendekar sakti mandraguna itu telah berada di surau yang berada di desa Kalingga pura bangunan padepokan yang sederhana namun berdiri dengan kokohnya jiwa-jiwa penghuni-penghuni padepokan itu


setelah selesai menjalankan ibadah shalat subuh sang pendekar berniat untuk segera menemui kiyai besar Sanca Mukti di pondoknya namun suara batuk-batuk kecil seseorang mbatalkan niatnya entah sejak kapan laki-laki tua dengan wajah yang bercahaya memancarkan sinar aura yang menggetarkan hati setiap orang yang memandangnya

__ADS_1


BERSAMBUNG


dukung terus ya


__ADS_2