MANTRA HITAM PEMIKAT

MANTRA HITAM PEMIKAT
CH 68 kepedihan yang mendalam


__ADS_3

Melihat kedatangan Wisnu Abi Rawa Wadon Segoro menghentikan perbuatannya


tubuhnya bergetar hebat tangannya bertumpu pada gagang pedang yang berlumuran darah


"kakang Wisnu akhirnya kau sampai juga di tempat ini" Sidra giri menyambut kakak seperguruannya


"aku mendapat kabar kalau Demang karja ada di wilayah ini dan aku yakin kalian akan memburunya kesini. maka aku segera menyusul kalian meski kedatanganku terlambat tapi aku mengucapkan terimakasih adik Giri karna kau memenuhi permintaan ku untuk tidak membunuh Demang karja biarkan pengadilan yang menghukumnya"


"maaf kakang untuk saat ini aku memang belum membunuhnya. tapi tetap aku akan menghukumnya dengan tanganku sendiri.


oh ya Rama" Sidra giri menoleh kearah Danda sokana


"perkenalkan ini kakak seperguruan ku namanya Wisnu Abi Rawa gelarnya pendekar Samber nyawa"


Danda sokana mengangguk hormat seraya mengulurkan tangan


"senang berjumpa denganmu pendekar. dan terimakasih banyak pendekar telah menjadi putraku seorang pendekar yang berbudi luhur"


"sama-sama Paman. senang juga berjumpa dengan Paman putramu memang pemuda yang baik jadi tidak sulit untuk mengarahkan nya"


di tengah-tengah tegur sapa mereka Sidra giri sudah tidak lagi melihat Wadon Segoro di tempat nya


"kakang kemana perginya Mayang suri?"


Wisnu Abi Rawa pun menoleh


"sepertinya adik Segoro sudah pergi adik Giri. biarlah tidak perlu di kejar biarkan dia menenangkan pikiran terlebih dahulu" seperti biasanya Wisnu Abi Rawa selalu memberi pengarahan yang terbaik pada adik-adik seperguruannya


Danda sokana mengerutkan kening


"Giri kau sebut nama Mayang suri


apakah pendekar itu?"


"benar sekali Rama" Sidra giri memutus pertanyaan Rama nya


"dialah Mayang suri gadis desa Tanjung sari yang hingga hari ini masih aku cintai"

__ADS_1


ada gurat penyesalan di raut wajah Sidra giri selalu saja tidak ada kesempatan untuk meluruskan persoalan di setiap kali pertemuan.


rupanya Wisnu Abi Rawa dapat menangkap perasaan Sidra giri


"sudahlah adik Giri tidak perlu di sesali mungkin ini bukan saat yang tepat. sebaiknya sekarang kita segera membawa Demang karja dan menyerahkan nya ke pihak kerajaan. dan kalian segeralah minta bantuan pada warga kuburkan mayat-mayat ini dengan layak" sang pendekar Samber nyawa memberi perintah pada dua orang wanita yang duduk ketakutan di sudut ruangan


dan panglima Danda sokana hanya mampu menghela nafas mengingat kejadian di masa lalu. mereka pun segera meninggalkan rumah itu membawa Demang karja yang dalam keadaan terikat


pada saat yang bersamaan pendekar pedang Dewa Naga hitam atau Nirwana Wadon Segoro yang telah berhasil meloloskan diri secara diam-diam berlari menerobos gelapnya malam menuju ke arah bukit teriakannya histeris bagaikan seekor serigala yang meraung kesakitan


"Dewa dimana kau? tampakan dirimu dan jawab pertanyaan ku mengapa kau selalu menyrutkan langkahku dan selalu memojokkan diriku dalam keterpurukan


apa salahku Dewa? apa dosaku padamu hingga kau tidak pernah memberikan aku kesempatan sedikit saja untuk mengecap kebahagiaan. jawab pertanyaan ku Dewa jangan hanya diam saja" gadis itupun bersimpuh menelungkupkan wajahnya yang bersimbah air mata pada sebuah batu


tiba-tiba isaknya tertahan karna mendengar bisikan lembut


"Dewa tidak akan menjawab teriakan mu pendekar. meski sekuat tenaga engkau berteriak. bukan karna Dewa tidak mendengar hanya saja Dewa tidak suka takdirnya di pertanyakan"


perlahan-lahan Wadon Segoro mengangkat wajahnya matanya menatap seorang pemuda tampan yang tengah duduk santai diatas sebuah batu yang sejajar dengannya


meski hanya hanya di terangi cahaya bulan


"Satria bukankah itu dirimu?


sejak kapan kau berada disini?"


di sela-sela Isak nya Wadon Segoro bertanya


"kau benar sekali pendekar. aku masih tetap Satria hingga malam ini masih belum berubah. dan aku berada di tempat ini dari sejak melihat dirimu serta Danda sokana di mekar jaya"


tanpa sedikitpun menoleh pada yang bertanya Satria menjawab dengan tenang


"Satria terkadang aku merasa heran padamu. sebenarnya kau ini siapa? slalu muncul dengan tiba-tiba apakah kau manusia? ataukah utusan Dewa Langit? ataukah sebangsa siluman?"


"ha..ha..ha..hah" Satria tertawa mendengar pertanyaan Wadon Segoro


"jangankan dirimu pendekar aku pun terkadang merasa tidak mengenali diriku.

__ADS_1


tapi itu tidak penting justru yang ku khawatirkan dirimu. kau berlari menangis menjerit histeris. apakah dengan cara seperti itu dapat menyelesaikan masalah? aku rasa tidak pendekar"


"sepertinya kau banyak tau dengan apa yang barusaja ku alami. dan asal kau tau Satria aku tidak suka kau ikut campur dengan masalah ku"


"maafkan aku pendekar aku samasekali tidak berniat untuk mencampuri urusan mu


aku hanya sekedar ingin mengingatkan jangan suka berkumur api karna seluruh tubuhmu akan terbakar"


mendengar penuturan Satria Wadon Segoro mendelik kesal diapun segera bangkit berniat untuk meninggalkan pemuda itu


"jangan marah pendekar sudah ku katakan aku hanya mengingatkan saja agar kau tidak lepas kendali. ada banyak orang mengatakan mencoba lah berbagi cerita dengan orang yang kau percaya dan itu akan sedikit mengurangi beban di dadamu"


pendekar pedang Dewa Naga hitam mengurungkan niatnya serta kembali duduk di atas batu


"Satria apa aku boleh bertanya?"


"oh tentu.. tentu pendekar kau boleh bertanya sebanyak yang kau mau dan aku akan menjawab dengan sebaik-baiknya"


"Satria apa kau pernah mencintai seseorang?"


ditanya seperti itu Satria malah tertawa tapi tetap menjawab nya


"entahlah pendekar karna sejauh yang ku ingat sejak kecil aku hidup sebatang kara tidak punya orang tua. tidak punya keluarga dan tanpa sanak sodara. selain diriku dan pengembaraan ku. aku tidak memiliki seseorang atau sesuatu yang aku cintai dalam hidup ini" jawaban Satria jujur dan polos


"bukan itu maksudku Satria. apakah kau mencintai seseorang gadis?" Wadon Segoro mengulangi pertanyaannya


Satria kembali tertawa


"he..he..he..he.. pendekar selama pengembaraan ku aku sering berjumpa dengan pendekar-pendekar wanita termasuk dirimu dan bahkan gadis-gadis desa. watak dan sifat mereka berbeda-beda entah mungkin karna itu hingga saat ini aku masih belum menemukan wanita yang cocok untuk menjadi pendampingku"


"pantas setiap kali bertemu kau selalu sendirian" Wadon Segoro menggoda


"sebenarnya aku aku hanya ingin menguburkan masalaluku dalam-dalam Satria. tapi entah mengapa disaat aku hampir melupakan nya selalu saja terjadi pertemuan yang tidak di sengaja dan itu membuat luka ku tergores kembali. dan yang lebih parahnya lagi ternyata kami satu perguruan dan kenyataan itu yang tidak ku terima karna mau tidak mau disaat guru memberi tugas hal itu menurutku untuk ada bersamanya. lalu bagaimana menurut mu Satria?" pendekar pedang Dewa Naga hitam mencoba melepaskan beban di hatinya dengan bercerita pada Satria


"kau percaya jodoh pendekar?" tanya Satria pendek


"tidak Satria aku tidak percaya yang namanya jodoh aku juga tidak percaya yang namanya takdir. aku hanya percaya pada kehidupan ku yang selalu penuh dengan kesengsaraan"

__ADS_1


BERSAMBUNG


__ADS_2