
"berhubung penjagaan masih sangat ketat jadi kita harus tetap waspada. pertama jangan pernah membuka suara di hadapan prajurit gelang-gelang, kedua bertindaklah seolah-olah kita ini prajurit gelang-gelang dan untuk sementara kalian berada dibawah pimpinan ku karna mereka semua mengenali diriku sebagai Senopati, bagaimana Gusti Prabu?"
"tentu aku setuju pendekar apapun perintahmu kami akan menurutinya. tetapi satu hal yang aku minta pendekar kita selalu tetap bersama" Gusti Prabu Gandara seta menyetujui peraturan Panji gara
"baik Gusti Prabu aku setuju kita tetap bersama-sama. sekarang kita jemput panglima Nara aji"
.mereka pun berjalan beriringan sebagai Senopati kepercayaan Prabu Hindun Rancasan tentunya Panji gara melangkah paling depan di ikuti tiga prajurit kepercayaannya
hampir tiga pos yang dilewati, bahkan ada beberapa penjaga yang tertidur pulas sifat usil Panji gara pun muncul, di gebraknya bilik bambu dinding pos penjagaan di sertai teriakan keras
"bangun kerja kalian hanya tidur saja bagaimana jika ada penyusup apa kau mau bertanggung jawab? atau kalian mau ku laporkan pada Gusti Prabu Hindun Rancasan?"
"ampun...ampuni kami Senopati, maaf jika kami lalai menjalankan tugas karna kami merasa situasi disini aman terkendali hingga kami pun tertidur. ampun Senopati jangan laporkan kami pada Gusti Prabu"
"baik aku tidak akan melaporkan kelalaian kalian ini terhadap Gusti Prabu Hindun Rancasan, tetapi sebagai Senopati aku harus menjalankan tugasku dengan sebaik-baiknya, prajurit ikat mereka di pohon besar itu satukan tubuh mereka dengan pohon itu, dan kau prajurit satu ambilkan tali yang ada di bawah bale"
Panji gara menunjuk Ken Rara untuk segera mengambil tali tambang yang sudah disiapkan di bawah bale pos penjagaan
yang di perintah mengulum senyum dalam hati gadis itu mengakui betapa cerdiknya akal sang pendekar muda itu
tali diserahkan nya pada Panji gara
prajurit dua cepat kau ikat mereka prajurit tiga tolong bantu, Patih Braja musti dan juga Prabu Gandara seta menyeret dengan kasar prajurit-prajurit penjaga itu. setelah di ikat tangannya ke belakang tubuh ke empat prajurit gelang-gelang itu disatukan dengan pohon serta di ikatnya dengan kuat
"plok..plok..plok" tamparan keras Panji gara mendarat di wajah mereka satu persatu
__ADS_1
"inilah hukuman bagi yang melalaikan tugas. dan ingat siapapun dari kalian yang berani melepaskan mereka akan tau akibatnya" Panji gara mengancam prajurit penjaga dari pos satu dan pos dua mereka berdatangan menghampiri saat mendengar suara gaduh di pos tiga
"kalian semua paham? aku akan melanjutkan patroli dan kalian tetap berjaga disini"
"baik Senopati kami mengerti" salah satu prajurit menjawab dengan ketakutan
bukan hanya Ken Rara tetapi juga Prabu Gandara seta dan Ki Patih Braja musti dalam hati mereka mengakui kepintaran Panji gara "akhirnya Sanghyang Agung mengirimkan Dewa penyelamat untuk kami setelah tiga tahun hidup dalam neraka dan lembah kesengsaraan" itulah bisik hati Prabu Gandara seta hatinya sudah lebih tenang dan merasa lega karna pendekar Panji benar-benar dapat diandalkan tidak salah Prabu Nara Wenda mengirimkan pemuda itu sebagai duta
tidak terasa merekapun tiba di pojok timur istana suasana di tempat itu sangat hening sehubungan di luar benteng terdapat hutan dan sungai sehingga tempat itu sedikit menyeramkan. dua orang penjaga berlari menyambut kedatangan Senopati dengan sikap siaga mereka memberi hormat
"harmat pada Senopati. adakah keperluan hingga Senopati mampir di pos penjagaan ini? atau hanya sekedar patroli saja?"
"terimakasih prajurit hormat kalian ku terima. ada hal yang sangat penting hingga aku datang kesini aku mendapat perintah dari kakang panglima Saradipa untuk menjemput panglima Nara aji agar di hadapkan pada beliau. cepat keluarkan panglima Nara aji kakang panglima Saradipa tidak punya waktu banyak untuk menungguku"
"baik Senopati akan segera kami laksanakan"
dua penjaga lainnya segera membuka pintu seperti halnya Ki Patih Braja musti seperti itu pula panglima Nara aji bahkan mulut sang panglima di sumpalnya dengan kain
mereka melakukan itu karena panglima Nara aji tidak henti-hentinya berteriak dan mengumpat mereka, begitu alasan salah satu prajurit
"baiklah prajurit aku hargai tindakan kalian biarkan saja panglima itu dalam keadaan terikat. berikan kuncinya padaku aku akan melepasnya setelah berhadapan dengan kakang panglima Saradipa"
rupanya pendekar muda itu begitu banyak memiliki akal sehingga penyamarannya sedikitpun tidak mendapat kecurigaan
setelah panglima Nara aji di serahkan pada Senopati lalu diserahkan kepada pengawal yang menemaninya
__ADS_1
"prajurit dua seret panglima ini kita harus segera menyerahkannya pada Gusti panglima, dan kalian tetap berjaga jangan pernah tinggalkan pos ini sebelum aku kembali untuk mengantarkan panglima Nara aji" perintah Panji gara dengan tegas
"baik Senopati kami akan menjalankan tugas dengan baik"
Senopati dan pengawal-pengawal nya segera meninggalkan tempat itu dengan menyeret tubuh panglima Nara aji
Panji gara berbisik di telinga Gusti Prabu Gandara seta "maaf Gusti adakah jalan pintas untuk menuju hutan perbatasan agar kita tidak melewati pos-pos penjagaan yang tadi?"
"ada pendekar bahkan jalan ini lebih aman karna yang aku tau di luar benteng ini tidak terdapat pos penjagaan. hanya saja kita harus melompati benteng ini untuk keluar dari lokasi istana ini karna disini tidak ada pintu ataupun celah dinding yang bisa kita lewati"
"tidak mengapa Gusti Prabu kita lompati saja benteng ini"
Panji gara pun berbisik pada Ki Patih untuk membawa panglima melompati benteng sementara dia sendiri meraih pinggang Gusti Prabu dan juga Putri Ken Rara lalu di bawanya melompati benteng istana
setelah beberapa meter jarak dari benteng istana mereka pun berhenti sepertinya tempat itu cukup aman untuk merencanakan sesuatu
di bukanya kain penyumpal mulut panglima Nara aji benar saja seperti apa yang di katakan prajurit-prajurit tadi panglima itu mengumpat mereka
"biadab kalian orang-orang Hindun Rancasan yang terkutuk lebih baik kalian bunuh aku, aku tidak Sudi jika harus bertemu dengan panglima setan itu. lebih baik aku mati tidak terhormat daripada harus menjadi sekutu iblis"
mendengar makian Nara aji Panji gara bahkan bertepuk tangan sambil tertawa
"Ha..ha..ha..ha. luar biasa ku akui keberanian mu panglima dan ku hargai kesetiaan mu terhadap Gusti Prabu Gandara seta. tapi cobalah berhenti mengumpat dan kau lihat, lihat dengan jelas siapa yang berdiri di samping mu itu"
Panji gara mengangguk memberi isyarat pada Gusti Prabu
__ADS_1
BERSAMBUNG