MANTRA HITAM PEMIKAT

MANTRA HITAM PEMIKAT
CH 29 Empat pendekar berdarah biru


__ADS_3

"Tidak Nyai Ratu tidak sedikitpun terjadi apa-apa pada murid Nyai Ratu, kami datang kesini untuk meminta bantuan dan Nini Mayang suri meminta kami untuk menemui Nyai Ratu dia pun berjanji akan segera menemui kami di tempat ini"


Pangeran Wira Geni menjelaskan


"ohh jadi begitu aku pikir ada apa-apa dengan muridku, mengapa kau tak mengatakan sejak tadi?" Biyung Ratu embok tersenyum nada suaranya pun melunak


"tadi sempat ku dengar kalian ber empat ini dari istana Ci Pamanahan itu artinya kalian bukan orang-orang biasa? sepertinya kalian ini putra-putra mahkota, rupanya hari ini aku kedatangan tamu-tamu terhormat


tidak baik rasanya kita berbincang terus disini sebaiknya kita masuk ke dalam kita teruskan perbincangan ini didalam, silahkan masuk Pangeran aku minta maaf jika sambutanku kurang berkenan di hati Pangeran"


rupanya Biyung Ratu embok baru menyadari bahwa tamunya itu adalah putra-putra mahkota


setelah berada didalam goa Biyung Ratu mempersilahkan tamunya untuk duduk lalu beliau pun pergi ke dapur menyiapkan jamuan untuk tamu-tamu nya


melihat perlakuan tuan rumah Pangeran Wira Geni dan juga adik-adik nya merasa tidak enak hati karena di perlakukan layaknya orang-orang terhormat


m"jangan repot-repot Nyai Ratu, Nyai Ratu menyambut kedatangan kami pun buat kami itu sudah lebih dari cukup"


Pangeran Wira Geni menuturkan rasa sungkan nya


"tidak Pangeran sudah selayaknya aku menyambut dan menjamu kalian,


karena kalian tamu-tamu terhormat ku

__ADS_1


apa lagi kedatangan kalian atas permintaan muridku, tapi sebelumnya aku minta maaf karena hanya ini yang bisa aku suguhkan pada kalian"


"kami tidak tahu apa yang harus kami ucapkan Nyai Ratu selain ucapan beribu terimakasih, oh ya Nyai Ratu hampir saja saya lupa menyampaikan pesan Nini Mayang suri yang di titipkan nya pada kami" Pangeran Wira Geni mengambil sebilah pisau yang di selipkan di pinggangnya serta menyerahkannya kepada Biyung Ratu embok


sejenak Biyung Ratu meneliti pisau itu


"benar sekali Pangeran benda ini milik muridku, sekarang coba ceritakan dimana kalian berjumpa dengan muridku? dan apa sebenarnya yang telah terjadi menimpa kalian sehingga kalian datang kesini?"


Biyung Ratu menanyakan pokok permasalahan yang sesungguhnya


"sekali lagi terimakasih Nyai Ratu, begini cerita yang sebenarnya kerajaan kami istana Ci Pamanahan tengah berada dalam genggaman orang-orang yang haus kekuasaan yang di pimpin oleh Wulung Sabak penguasa istana angin, dan bukan hanya itu kejahatan yang mereka lakukan selain membantai seisi kerajaan mereka juga menyekap Kanjeng Rama Prabu Wira Nanta dan Ibunda Ratu di ruang penyekapan bawah tanah di istana kami,


kekuatan mereka berlipat ganda bukan hanya pendekar-pendekar berilmu tinggi yang bekerja sama dengan Wulung Sabak tetapi juga dari sebangsa jin membantu memberikan kekuatan, dan saya sebagai putra tertua dan ketiga adik saya ini di beri tugas oleh Wulung Sabak untuk mendapatkan sebuah pedang pusaka pemburu iblis dan pedang itu untuk di tukarkan dengan ayah handa dan Ibunda kami, pertemuan kami dengan Nini Mayang suri tidak disengaja saat itu kami berada di gunung hantu tempat dimana pedang itu berada dan pada saat itu kami mendapati gunung hantu telah porak poranda, bertahun-tahun kami menunggu waktu untuk mendapatkan pedang itu demi menyelamatkan kedua orang tua kami


ternyata pedang pusaka itu telah jatuh ke tangan orang lain harapan kami pun pupus seketika karena tidak tahu lagi harus mencari kemana, di tengah kebingungan kami muncullah pendekar Dewi kilat kematian dia menyangka kami lah yang telah MN mengambil pedang itu karena seperti halnya kami Dewi kilat kematian pun menginginkan juga pedang pusaka itu dia samasekali tidak percaya saat saya membantah tuduhannya hingga akhirnya terjadi perang mulut antara Dewi kilat kematian dan adik perempuan saya Lara Kemuning, terjadilah pertarungan saya akui kehebatan Dewi kilat kematian hingga adik kedua saya Wira Jagat dan Lara Kemuning mengalami luka parah akibat pukulan tapak beracun dari Dewi kilat kematian, saat itu saya sendiri pun sudah tidak punya harapan lagi untuk selamat karena ternyata bukan hanya dari cerita orang-orang saja bahwa Dewi kilat kematian salah satu pendekar yang sama sekali tidak punya perasaan


itu Nini Mayang suri murid Nyai Ratu,


dan yang lebih mengejutkan lagi pedang pusaka pemburu iblis telah berada di tangannya, selain dapat mengalahkan Dewi kilat kematian Nini Mayang suri pun telah menyelamatkan nyawa kami"


"setelah mendengar cerita kami Nini Mayang suri berniat untuk menyerahkan pedang pusaka itu namun saya tolak kasaya tidak yakin apakah pedang pusaka itu masih dapat mengembalikan kedua orang tua saya karna saya tau betapa piciknya Wulung Sabak, hingga akhirnya Nini Mayang suri mengambil keputusan meminta kami untuk kembali ke istana Ci Pamanahan dan memastikan apakah Ayah handa dan Ibunda Ratu masih hidup


dan jika kami telah mengetahuinya maka kami di pinta untuk menemui Nyai Ratu untuk meminta bantuan dan menyusun rencana penyerangan, begitulah Nyai Ratu mengenai pertemuan kami dengan Nini Mayang suri serta sepakat akan bertemu disini" Pangeran Wira Geni mengakhiri ceritanya

__ADS_1


ketiga adiknya hanya menundukan kepala sambil mendengarkan


Biyung Ratu embok hanya mengangguk-anggukkan kepala kini beliau mengerti


mengapa muridnya meminta ke empat pendekar berdarah biru ini untuk datang ke goa gurang-rang


"jika begitu ceritanya Pangeran saya turut prihatin, tapi apakah Pangeran benar-benar telah memastikan Kanjeng Prabu Wira Nanta dan juga Ratu permaisuri masih dalam keadaan hidup?"


Pangeran Wira Geni menatap wajah ketiga adiknya sesungguhnya mereka pun belum melihat dengan mata kepala sendiri mengenai Ayah handa dan Ibunda Ratu


mereka hanya mendapatkan informasi dari seorang Telik sandi yang sengaja di bayarnya


melihat Pangeran Wira Geni dan ketiga adiknya nampak kebingungan Biyung Ratu embok dengan mudah dapat mengerti


"Sabarlah Pangeran jangan terlalu kalian pikirkan mengenai masalah kerajaan dan Kanjeng Prabu nanti kita bicarakan saja setelah muridku tiba disini, tentunya kalian sudah lapar aku siapkan makan siang untuk kalian dulu,


kalian beristirahat saja"


Dengan bijak Biyung Ratu embok memutuskan


sambil melirik pada adik perempuannya Pangeran Wira Geni kbali bicara


"entah bagaimana cara kami membalas kebaikan Nyai Ratu, tidak salah jika Nini Mayang suri menjadi seorang pendekar yang berhati mulia karena berkat bimbingan seorang guru yang sangat bijaksana

__ADS_1


"terimakasih Nyai Ratu ijinkan adik saya Lara Kemuning untuk membantu Nyai Ratu menyiapkan makanan" nada ucapan Pangeran Wira Geni selain permintaan ijin juga bentuk perintah pada adik perempuannya


BERSAMBUNG


__ADS_2