
"Hmmm hidungku mencium bau manusia
baunya sangat dekat, sedap menggugah selera kebetulan perutku sangat lapar, jika aku menemukan nya aku akan segera menangkapnya serta memakannya untuk mengganjal perut ku" suara si buto ijo terdengar menggema
bulu kuduk Mayang suri terasa merinding
"iiihhhh, suaranya saja sangat mengerikan tapi menurut cerita dari orang-orang sakti
buto ijo makhluk yang bodoh, mungkin aku tidak bisa mengalahkannya dengan kesaktian ku tapi aku bisa menggunakan akal ku untuk membodohinya "
Mayang suri pun keluar dari balik persembunyian nya serta berteriak lantang
"apakah kau buto ijo sang penunggu goa hantu ini? namaku Mayang suri sebangsa manusia. ku dengar tadi kau sedang kelaparan aku siap menjadi santapanmu tapi dengan satu syarat, kalahkan aku dulu jika kau dapat menangkap ku maka kau boleh memakan diri ku"
"Ha Ha Ha Hah ternyata aku benar ada manusia disini baik sekali kau manusia hingga kau Sudi menjadi pengganjal rasa lapar, ku Ha Ha Ha Hah kemarilah aku akan menangkap mu kau boleh menyerang ku dan aku berjanji tidak akan melawanmu karena tubuhku kebal pada kesaktian apapun Ha Ha Ha Hah" si buto ijo menyombongkan diri
"buto ijo tubuhmu terlalu tinggi bagaimana aku bisa menyerang mu dengan keadaan tubuh ku yang kecil ini?" Mayang suri mulai melancarkan tipu dayanya
"baiklah manusia aku akan berjongkok agar kau dapat menyerang ku" buto ijo pun membungkukkan badannya
"masih terlalu tinggi buto aku masih belum bisa menjangkau mu" jawab Mayang suri dengan menengadahkan kepalanya
"rupanya kau cukup pintar manusia tapi hanya ini yang bisa ku lakukan, aku tidak lagi bisa untuk memperpendek tubuhku"
jawab si buto
"bisa buto masih ada cara lain agar tubuhmu menjadi lebih pendek"
"bagaimana caranya manusia?"
"coba kou baringkan tubuhmu di tanah" Mayang suri memberi komando makhluk berjenis buto ijo memang tidak berakal panjang hanya tubuhnya saja yang tinggi besar sedangkan pikirannya sangat pendek
tanpa menunggu perintah dari Mayang untuk kedua kalinya buto ijo pun membaringkan tubuhnya di tanah
"coba tengkurap buto" perintah Mayang suri lagi
si buto hanya menuruti nya saja sedikitpun tidak menaruh curiga apa yang akan dilakukan gadis itu terhadap dirinya
"sekarang kita sudah sejajar buto aku akan mulai menyerang mu" Mayang suri mengambil ancang-ancang untuk menyerang buto ijo "bummmmm" suara ledakan keras dari Mayang sari
benar saja si buto memang kebal sedikitpun kepalanya tidak bergeming Mayang suri tidak ubahnya menyerang bongkahan batu yang sangat besar
"Ha Ha Ha Hah aku benarkan manusia
daripada kau buang-buang tenaga dengan menyerang ku lebih baik kau menyerah saja"
inilah kesempatan untuk Mayang suri
"kau benar buto aku sudah lelah tenaga ku sudah hampir terkuras sekarang aku menyerah, sekarang bukanlah mulutmu lebar-lebar aku akan masuk kedalam mulutmu"
"Ha Ha Ha Hah akhirnya kau menyerah juga anak manusia" buto ijo pun membuka mulutnya lebar-lebar
__ADS_1
mata Mayang suri menangkap sebuah benda kecil yang berkilauan menancap di permukaan lidah buto ijo, itulah mustika kekuatan buto ijo yang di maksudkan Resi guru "aku harus segera mengambilnya" gumam Mayang suri
"buto ijo coba kau julurkan lidahmu agar lebih panjang keluar karna jika lidahmu di dalam sulit sulit bagiku untuk melaluinya"
buto ijo memang bodoh semudah itu dia dapat di tipu daya lidah nya menjulur keluar panjang dan tebal, Mayang suri dapat melihat dengan jelas mustika keabadian sinarnya berwarna biru muda berkilauan tertimpa cahaya rembulan
tanpa pikir panjang Mayang suri melompat dengan posisi menekap kedua tangan si buto dengan kedua kakinya dengan cekatan pula tangan Mayang suri meraih mustika keabadian buto ijo secepat kilat mustika itu telah berpindah tangan
buto ijo meraung-raung kesakitan tubuhnya kelojotan seperti tengah sekarat semakin lama raungan itu semakin menipis hingga akhirnya sirna tubuh buto ijo terkulai lemas
dengan sangat hati-hati Mayang suri meraba punggung si buto tubuhnya masih bergerak sepertinya dia masih bernafas
"buto ijo ini hanya pingsan" Mayang suri menerka-nerka
"maafkan aku buto aku tidak bermaksud menyakiti mu dan aku juga tidak bermaksud merampas milikmu aku hanya meminjamnya sebentar nanti aku kembalikan kau jangan kemana-mana tetap disini dan tunggu aku"
Mayang suri menyibakkan rumput-rumput yang menjalar menutupi mulut goa di dalam sangat gelap tidak ada sedikit cahaya pun disana namun tekad Mayang suri sudah bulat gadis itu pun melangkah masuk didalam goa ada banyak liku-liku dari sudut ke sudut terdapat batu-batu yang cukup besar dari batu yang satu ke batu yang lain hanya terdapat celah sedikit saja sehingga Mayang suri agak kesulitan untuk melaluinya
"mustika Buto ijo" gadis itu teringat mustika dalam genggamannya "barangkali mustika ini dapat membantuku" belum lagi Mayang suri meminta secara resmi tubuhnya mendadak menjadi licin serta agak sedikit mengkerut seperti seekor ular dia berhasil menyusup ke sela-sela batu
pada ruangan goa yang lebih dalam agak luas dan tidak berbatu gadis itu menoleh kearah barat ruangan goa, sebuah danau lumayan luas "dimana pedang pusaka itu"
mata Mayang suri mencari-cari
suara desisan keras terdengar dari tepi danau Mayang suri sudah dapat menduganya "naga api" bisiknya
"seperti halnya si buto aku yakin naga itupun memiliki mustika keabadian
Mayang suri melompat ke hadapan si naga
perhitungan nya sudah matang naga itu sudah pasti menyerang dengan semburan api, dengan ringan tubuh Mayang suri melompat si naga terus memburunya dengan semburan-semburan api dari mulutnya hingga lama kelamaan si naga pun kewalahan tidak ada satu semburan pun yang mengenai mangsanya jika saja naga itu manusia mungkin tubuhnya sudah basah dengan keringat
Mayang suri tidak menyia-nyiakan kesempatan itu tubuhnya melompat berpijak pada pundak naga api tangannya memegang kuat tanduk naga sekuat tenaga Mayang suri mengendalikan kekuatan naga dengan menggunakan jurus ajian patrem dewa
dari balik tanduk menyembul sebuah benda pipih berbentuk logam namun agak lonjong itulah mustika keabadian naga api warnanya kuning ke emasan
"indah namun menyilaukan mata"
tangan kiri Mayang suri benda itu
setelah berpindah tangan seperti halnya yang terjadi pada buto ijo seperti itu juga yang terjadi pada naga api tubuhnya terkulai lemas Mayang suri menghela nafas tubuhnya terasa lelah
"ternyata tidak mudah melumpuhkan kedua makhluk sakti penjaga goa hantu ini
satu lagi aku masih harus berhadapan dengan satu makhluk lagi buaya hitam penunggu danau"
Mayang suri memandang diding goa di sebrang danau sebilah pedang menancap disana seluruh permukaan pedang itu terdapat nyala api hingga ke gagangnya
gadis itu bergidik "ngeri juga jika harus memegang gagang pedang itu tapi sudah kepalang tanggung aku sudah berada disini hanya satu langkah lagi"
Mayang suri meneguhkan hatinya
__ADS_1
permukaan danau bergolak seperti air mendidih buaya hitam dan besar muncul di permukaan lalu berusaha untuk menepi
matanya merah menyala giginya persis gergaji apapun mangsa yang masuk kedalam mulutnya akan ***** seketika
Mayang suri memutar akal dia sudah tidak ingin lagi bermain-main hanya akal cerdiknya lah yang harus dia gunakan sesempurna mungkin
"aku tau kau penunggu danau ini aku datang kesini dengan tujuan baik-baik aku tidak ingin bermusuhan denganmu sebangsa apapun dirimu aku ingin bersahabat denganmu buaya" dengan sungguh-sungguh Mayang suri mengajukan permintaan
sesungguhnya lah ketulusan hati yang terlahir baik itu dari manusia ataupun dari makhluk lain maka kebenarannya akan diterima oleh alam seperti halnya buaya besar itu yang mendengar pengakuan dari gadis di hadapannya yang semula tatapan buaya itu terasa sangat tajam berubah menjadi lembut
tiba-tiba terdengar suara bergema memenuhi ruangan goa
"Dewi apakah kau utusan dari gunung singgaru?"
Mayang suri pun mengerutkan keningnya hatinya bertanya-tanya "dari mana asal suara itu"
"siapa yang kau cari Dewi? aku berada di hadapanmu dan kau belum menjawab pertanyaan ku, apakah benar kau utusan maha Resi purba kesa?" suara itu terdengar kembali mengulangi perbuatannya
sejenak Mayang suri terpaku serta menatap buaya itu lekat-lekat
"buaya apakah kau yang bicara padaku?" Mayang suri balik bertanya
"jawab dulu pertanyaan ku" nada suara itu agak di tekan "apa yang kau gerakan Dewi tidak ada yang aneh di dunia ini jika yang kuasa sudah berkehendak maka tidak ada yang tidak mungkin" suara itu setengah menceramahi Mayang suri manakala melihat dirinya masih tertegun
"benar" bisik hati Mayang suri
"tidak ada yang aneh di dunia ini, maafkan aku buaya aku bukannya tidak percaya aku hanya sedikit terkejut" Mayang suri berusaha mencairkan suasana
"benar sekali aku utusan dari puncak gunung singgaru namaku Mayang suri tetapi guruku eyang Resi purba kesa telah menggantinya dengan Nirwana wadon Segoro" Mayang suri menjelaskan
"baiklah Dewi aku percaya padamu tapi tolong tunjukkan padaku sebuah bukti yang menguatkan bahwa dirimu lah pewaris pedang pemburu iblis"
Mayang suri seperti kebingungan benda apa yang harus dia perlihatkan sedangkan gurunya tidak memberi dia apapun selain sebilah pisau biasa suasana di tepi telaga hening sejenak
tiba-tiba Mayang suri teringat sesuatu barangkali itu bisa di jadikannya bukti
"buaya lihat ini apakah ini yang kau inginkan?" Mayang suri memperlihatkan sepasang mustika keabadian yang di pinjam nya dari buto ijo dan naga api
kedua mata si buaya tidak berkedip memandang sepasang mustika itu
"benar sekali dirimu lah yang telah lama ku tunggu hingga bertahun-tahun, Dewi namaku Resi baya aku yang di tugaskan untuk menjaga pedang pusaka pemburu iblis hingga pewaris nya datang untuk menjemputnya, sekarang segeralah naik ke punggung ku aku akan segera mengantarmu ke sebrang danau"
Resi baya yang berwujud seekor buaya itu memutar badannya hingga kepalanya mengarah ke arah sebrang
Mayang suri tidak buang-buang waktu dia segera melompat ke punggung buaya
Resi baya pun segera mengantarnya ke sebrang danau setelah beberapa saat mereka tiba di tepi danau,
BERSAMBUNG'
NAAF KEMARIN AGAK TELAT UP
__ADS_1