
Satria membenarkan ucapan Danda sokana
sekaligus mewakili pendekar-pendekar yang lainnya. sejenak Wisnu Abi Rawa merenung
"maaf kakang aku rasa kalau menurutku ada baiknya mencari kelemahan Hindun Rancasan karna aku yakin sesakti apapun yang namanya manusia pasti memiliki kelemahan" Wadon Segoro mengisi keheningan
"kau benar adik Segoro aku setuju denganmu. sekarang begini saja untuk satria, adik Segoro, dan juga adik Sura sudah jelas kalian segera kembali ke desa ci Tamiang. dan bagaimana denganmu adik Singgih dan kau Panji? apalah kalian sudah mendapatkan informasi mengenai keberadaan empat pendekar berdarah biru?"
"itulah kakang yang sejak tadi ku pikirkan. saat kakang memanggil kami aku dan Panji sedang berada di perjalanan karna kabar yang kami dapatkan salah satu dari ke empat putra mahkota itu yang bernama pangeran Wira Geni berada di suatu tempat saat kami hendak menjemputnya kesana kakang memanggil kami meminta bantuan
lalu sekarang bagaimana dua-duanya sama-sama penting. menurut kakang mana yang harus didahulukan?" Singgih narpati menjelaskan sekaligus meminta pendapat
"kalian memang pendekar-pendekar baik dan selalu menjalankan tugas dengan baik pula. sekarang begini saja kau adik Singgih jalankan dulu tugas awal jemput pangeran Wira Geni dan antarkan ke istana Cipamanahan. setelah itu susul Satria ke desa ci Tamiang. dan kau Panji bergabunglah dengan Satria berangkat ke desa ci Tamiang pagi ini juga. dan aku sendiri akan menemui eyang Resi Abirawa di hutan simagong-gong untuk meminta petunjuk mengenai kelemahan Hindun Rancasan karna aku yakin Panji Rancasan bukan satu kelemahan bagi Raja itu. lalu bagaimana denganmu adik Giri dan juga Paman Danda sokana?"
"maaf kakang kalau untuk ku sendiri jelas aku bergabung dengan kalian apapun resikonya. tetapi ayahku!!! maaf sebelumnya kakang aku tidak ingin mengikut sertakan Rama dalam tugas ini. Rama ku sudah tua dan aku ingin beliau menjalankan masa tua nya dengan tenang
dan rencanaku aku mohon ijin kakang aku akan mengantarkan Rama Danda terlebih dulu ke teluk penyu selain disana tempat yang aman dan tenang juga ada Kasman yang menemani Rama sekaligus juga merawatnya" Sidra giri mengutarakan keinginannya
"baiklah adik Giri aku setuju kau antarkan dulu Paman Danda sokana ke teluk penyu dan setelah itu kita bertemu di desa ci Tamiang. Satria kau pastikan dimana kalian menunggu kami?" Wisnu Abi Rawa ingin memastikan tempat mereka bertemu nanti
"entahlah kakang aku belum dapat memastikan nya karna tidak mungkin kami tinggal di rumah hulu balang Diwangkara.
bagaimana Suri apa kau dapat memastikan?" Satria malah bertanya pada Mayang suri atau pendekar pedang Dewa Naga hitam
Mayang suri pun hanya menggeleng
__ADS_1
"jangan tanya aku kakang letak desa ci Tamiang pun aku belum mengetahuinya apalagi menentukan tempat"
Panji gara iseng nyeletuk
"aku tidak akan bertanya padamu Panji.
tidak perlu kau beritahupun aku sudah mengetahuinya"
mendengar jawaban kakang Wisnu yang agak serius Panji gara hanya nyengir saja
"aku juga tidak mungkin mengajak kakang Satria, adik Segoro dan juga adik Panji ke dukuh Pakuan karna dukuh paling rawan hingga mudah sekali tercium jika kita merencanakan sesuatu. begini saja kakang aku akan bicara dulu pada Paman panembahan Senopati agar di sediakan tempat untuk tinggal sementara setelah ada kepastian aku akan memberitahu kakang, kakang Giri, dan juga kakang Singgih agar tujuan kalian jelas"
"begitupun bagus Sura aku setuju dan jangan buang-buang waktu sebaiknya kita segera berangkat karna lebih cepat itu akan lebih baik" Wisnu Abi Rawa memutuskan
"mungkin kau benar adik Panji tetapi setidaknya putra mahkota itu masih ada gunanya buat kita meskipun dia tidak bisa di jadikan kelemahan Hindun Rancasan tetapi bisa di jadikan jaminan pada prajurit gelang-gelang aku yakin mereka tidak akan bertindak gegabah karna mereka semua tau kalau Panji Rancasan itu putra mahkota jadi untuk sementara waktu kita bisa mencegah kesewenang-wenangan mereka dengan adanya putra mahkota di tangan kita" Satria sedikit menjelaskan pendapat nya
"Satria benar Panji jadi jangan suka mengambil keputusan sendiri toh dia masih ada gunanya buat kita" Wisnu Abi Rawa menambahkan
hari menjelang pagi udara di perbukitan terasa sejuk. setelah mereka saling berpamitan dan menyepakati keputusan kakang Wisnu Abi Rawa mereka pun berpisah menjalankan tugas awal sebelum akhirnya berkumpul di desa ci Tamiang
sepanjang perjalanan dari bukit nareh menuju desa ci Tamiang pendekar-pendekar muda itu tidak terlalu banyak bicara. jalan pintas yang di ambilnya mempersingkat waktu hingga menjelang sore hari mereka telah tiba di kaki bukit ci Tamiang meskipun mereka semua merasa lelah tetapi mereka sepakat untuk terus melakukan perjalanan. setelah hampir dua jam perjalanan dari bukit ci Tamiang mereka tiba di halaman rumah besar kediaman hulu balang Diwangkara
seorang penjaga gerbang yang masih mengenali pendekar Satria dan pendekar pedang Dewa Naga hitam segera menyambutnya dengan ramah. di persilahkan nya mereka masuk dan di mintanya menunggu di teras depan
dan penjaga itupun segera masuk ke dalam untuk mberitahukan sang tuan rumah bahwa yang di tunggunya telah tiba
__ADS_1
mendengar kabar menggembirakan itu hulu balang Diwangkara tidak membuang-buang waktu dengan langkah yang tergesa-gesa beliau keluar untuk menyambut para tamu
"selamat datang kembali pendekar saya sangat gembira sekali karna pendekar benar-benar menepati janji silahkan masuk pendekar sambil beristirahat kita bercakap-cakap di dalam"
semua menjawab dan menganggukkan kepala karna memang mereka sudah sangat kelelahan
di ruang tengah hulu balang Diwangkara sempat memanggil putranya agar memberi tahukan bundanya agar menyiapkan makanan dan juga minuman untuk menjamu para tamunya setelah itu masuk ke ruang pendopo. sebuah ruangan besar tempat mengadakan pertemuan
Panji gara yang sudah sangat kelelahan meletakkan pangeran Panji Rancasan yang masih dalam keadaan tidak sadarkan diri di sofa yang letaknya agak berjauhan dengan sofa-sofa yang lain
"silahkan duduk pendekar-pendekar muda entah apa yang harus saya katakan selain ucapan terimakasih" hulu balang Diwangkara rupanya baru menyadari kalau di antara mereka ada pendekar Naga Sura
dahi laki-laki setengah baya itu terlihat mengkerut
"lah-lah apa saya tidak salah lihat? bagaimana bisa pendekar Sura ada bersama-sama dengan pendekar Satria dan juga Dewi pendekar pedang Dewa Naga hitam?"
Naga Sura tersenyum dia sudah menduganya hulu balang Diwangkara pasti merasa keheranan melihat dirinya dengan Satria dan Wadon Segoro
"maafkan saya Paman selama ini saya tidak menceritakan kalau saya punya saudara-saudara seperguruan. saya belum sempat bercerita karna saya yakin dalam kondisi kesulitan mereka pasti akan datang"
BERSAMBUNG
dukung terus author ya
terimakasih
__ADS_1