
"aku percaya padamu muridku dan satu hal lagi setelah kau turun gunung nanti namamu bukan Mayang suri lagi melainkan
Nirwana wadon Segoro, nama itulah yang akan kau gunakan selama pengembaraan mu hingga kau mencapai tujuan mu"
"guru apakah nama itu tidak terlalu indah untuk seorang gadis seperti diri saya?
nama itu sebuah nama yang sangat bagus dan pastinya memiliki arti yang besar"
"tidak Mayang kau jangan merendahkan dirimu nama itu pantas kau sebagai pewaris kitab mantra hitam pemikat"
Resi purba kesa memberi penjelasan agar muridnya tidak merasa terbebani dengan nama itu
"Nirwana wadin Segoro, indah sekali"
Mayang suri menggumamkan nama yang di berikan oleh gurunya
"Mayang sepertinya malam sudah menjelang dini hari sebaiknya kita segera pulang ke pondok" Resi purba kesa mengajak pulang muridnya dan mereka pun segera meninggalkan tebing singgaru
dua hari setelah malam itu Resi purba kesa harus melepaskan muridnya karena sudah saatnya Mayang suri untuk turun gunung dan memulai pengembaraan nya sendirian
"Mayang sudah saatnya dirimu meninggalkan puncak gunung singgaru ini
agar tidak ada orang yang dapat mengenali wajahmu gunakanlah caping dan kain cadar hitam ini jangan pernah membukanya selama kau berada di perjalanan ataupun di tempat keramaian, apa kau mengerti maksud tujuan ku?"
Mayang suri hanya menggeleng
"jika kau tidak menutup wajahmu maka ajian mantra hitam pemikat yang kau miliki akan menimbulkan banyak maka petaka"
"saya mengerti guru, sekali lagi terimakasih dan banyak-banyak terimakasih, guru jaga diri guru baik-baik jaga kesehatan jangan lupa makan dan banyak istirahat. saya pamit guru"
Mayang suri meraih telapak tangan gurunya serta menciumnya dengan penuh hormat
"kau juga hati-hati muridku jaga dirimu baik-baik dan jangan bertindak ceroboh"
"baik guru terimakasih untuk semuanya, selamat tinggal guru" Mayang suri melepaskan genggaman tangannya lalu membalikkan badan dan melangkah meninggalkan gurunya yang masih berdiri mematung melepaskan kepergian nya
__ADS_1
di turunan jalan yang agak curam seseorang menyerang Nirwana wadon Segoro dengan cepat dan tiba-tiba
Untung saja gadis itu selalu waspada dan hati-hati sehingga dengan mudah dia dapat menghindari serangan yang mendadak itu
tubuh Mayang suri melenting ke atas
kakinya berpijak pada sebuah batu
dengan kewaspadaan penuh matanya menatap sebuah pohon tempat serangan tadi. namun dia tidak menemukan apa-apa tiba-tiba terdengar suara gemuruh seperti serangan ribuan tawon
gadis itu mengenali jurus yang di gunakan si penyerang misterius itu namun dia tidak dapat berpikir panjang karena serangan itu sudah tepat di atas kepalanya
Mayang suri menjatuhkan tubuhnya ke tanah untuk menghindari serangan ****** beliung itu serangan pun lolos melewati tubuh Mayang yang bergulingan di tanah
"sialan kurang ajar, siapa dia ada permusuhan apa dengan ku,
serangan nya muncul secara tiba-tiba
tetapi aku tidak dapat melihat orang yang menyerang ku" gumam Mayang suri kesal sambil menepuk-nepuk bajunya yang kotor
beberapa saat dia hanya berdiri memandangi keadaan sekitarnya sunyi tidak ada sedikit suara yang terdengar
Mayang suri pun berniat untuk melanjutkan kembali perjalanan nya namun sekelebat ekor matanya menangkap sebuah benda melesat ke arahnya secepat kilat gadis itu membuka caping nya di jadikan nya tameng menerima serangan benda itu benda itu pun terjatuh ke tanah
tubuh Mayang suri berjongkok untuk melihat benda apakah itu, sebuah pisau matanya meneliti dengan tajam dia mengingat-ingat
"rasanya aku pernah melihat pisau ini tapi dimana?" bisiknya lirih
suara tawa terdengar dari balik sebuah pohon "tawa itu" Mayang suri terpekik
"Resi guru, iya Resi guru aku kenal suara tawa itu Resi guru purba kesa tapi mengapa?" Mayang suri tidak dapat melanjutkan ucapannya
seseorang keluar dari balik pohon dengan suara nya yang khas orang itu bicara
"tidak sia-sia aku mendidik mu selama ini
__ADS_1
kini aku percaya kau dapat menjaga dirimu dan juga mampu mengendalikan serangan meskipun secara mendadak"
Mayang suri menjatuhkan dirinya bersimpuh di hadapan guru yang sangat di hirmatinya "terimakasih guru ternyata guru tidak melepaskan saya begitu saja bahkan guru masih menyempatkan waktu mengantar saya hingga ke kaki gunung, guru saya kembalikan senjata milik mu"
Mayang suri menyodorkan sebilah pisau yang tadi di gunakan untuk menyerang dirinya
"simpan saja Mayang mungkin saja suatu saat nanti kau membutuhkan benda itu,
itu hanya pisau biasa bukan senjata bertuah namun aku yakin kau membutuhkan nya untuk keperluan yang lain" Resi purba menyerahkan pisau itu pada muridnya
"sekali lagi terimakasih guru apapun yang guru berikan pada saya, saya yakin sangat bermanfaat untuk diri saya"
"pergilah muridku aku hanya dapat mengantar mu sampai disini, jika suatu saat nanti kau bertemu dengan kakak-kakak seperguruan mu sampaikan salam ku pada mereka"
Resi purba kesa melepaskan kepergian Mayang suri dengan seutuhnya dengan hati yang ringan tanpa beban apapun Mayang suri pergi meninggalkan gurunya
tempat yang di tuju nya terlebih dahulu ialah gunung hantu tempat disimpan nya pedang pusaka pemburu iblis yang harus dia ambil sebelum melaksanakan tugasnya yang lain, matahari mulai menyusup di balik gunung suasana alam pun sudah temaram pertanda malam akan segera tiba nmun Mayang suri samasekali tidak berniat mencari tempat untuk beristirahat dia terus melanjutkan perjalanan dia harus segera tiba di gunung hantu malam ini juga
kurang lebih pukul sebelas malam Mayang suri tiba di kaki gunung hantu, dalam keadaan gelap suasana nampak mengerikan suara burung hantu terdengar bersahutan diselingi suara lolongan anjing hutan terdengar dari kejauhan sayup-sayup memilukan
langkah Mayang suri tidak terhenti hanya karena suara-suara mengerikan itu
gadis itu terus menaiki gunung hingga hampir di puncak terlihat mulut sebuah goa meski keadaan gelap gulita mata gadis itu cukup tajam untuk melihat sesuatu
dengan berpegangan pada akar pohon yang di tumbuhi rumput-rumput liar, Mayang suri merambat maju menuju ke arah goa matanya melirik ke kiri dan ke kanan tidak ada siapapun di tempat itu
"dimana si Buto ijo sang penjaga mulut goa yang di katakan resi guru?" bisik Mayang dalam hati
tiba-tiba tanah yang di pihaknya terasa bergetar seolah-olah sedang terjadi gempa bumi, Mayang suri menyelinap ke balik sebuah batu, sesosok tubuh tinggi besar muncul dari sebelah Utara mulut goa
karena tubh Mayang yang kecil hingga dia tidak dapat melihat wajah si buto ijo dengan jelas "rupanya dia mengetahui kehadiran ku" gumam Mayang suri
"tubuhnya sangat tinggi dan besar Resi guru berperan aku hanya boleh melumpuhkan makhluk itu, tapi bagaimana caranya tubuhku hanya setinggi ini sedangkan makhluk itu sangat tinggi"
Mayang suri berpikir dengan keras mencari akal bagaimana caranya untuk melumpuhkan si buto ijo
__ADS_1
BERSAMBUNG