MANTRA HITAM PEMIKAT

MANTRA HITAM PEMIKAT
CH 72 HULU BALANG DIWANGKARA


__ADS_3

Sanjaya sebagai tuan rumah mengajak tamu-tamunya agar segera masuk di teras rumah terdapat bunga-bunga hiasan sebagian di gantung sebagian berjejer rapih sepertinya bunga-bunga itu terawat karna terlihat subur dan bunga-bunga nya pun indah bermekaran


Wadon Segoro membuang muka berusaha menepis rasa pahit yang hadir di pikiran nya


Satria hanya tersenyum sepertinya dia tau betul apa yang sedang mengisi alam pikiran gadis itu. keheningan pun di pecah oleh suara Sanjaya


"kakang Satria. Dewi. tunggu sebentar disini saya akan memberitahukan Rama silahkan duduk sebentar saya akan segera kembali"


Sanjaya mempersilahkan tamu kehormatan nya duduk di kursi yang sengaja di sediakan di teras lalu kemudian pemuda itu meninggalkan dan masuk ke dalam


di dalam rumah Sanjaya berteriak memanggil Rama nya. ibunya menghadang di tengah ruangan


"jangan berteriak Sanjaya Rama mu sedang kedatangan tamu. tamu kehormatan dari kerajaan. memangnya ada apa kau mencari Rama mu? apa uang mu sudah habis untuk berfoya-foya dengan teman mu?"


"bunda jangan berprasangka buruk dulu saya mencari Rama karna saya membawa tamu. dan tamu ini juga tamu kehormatan sekarang Rama berada dimana?"


ibu Sanjaya melengos membuang muka karna tidak percaya dengan apa yang dikatakan anaknya karna anak itu selalu membuatnya jengkel tidak pernah menuruti nasehat orang tuanya. susah di atur selalu semaunya sendiri namun tidak urung wanita itu menjawab


"Rama mu di pendopo jangan bersikap kurang ajar di dalam ada panembahan Senopati" ibunya pun pergi menuju ke dapur


Sanjaya bergegas menuju pendopo di dapatinya hulu balang Diwangkara tengah mengobrol serius dengan panembahan Senopati Arda Winangun


"salam Paman Senopati senang melihat Paman"


hulu balang dan senopati menoleh ke arah datangnya suara


"salam juga Sanjaya bagaimana kabarmu? sudah lama tidak bertemu. sekarang kau sudah lebih dewasa" jawab Senopati Arda ramah


"darimana saja kau Sanjaya?" tegur Rama nya dingin


"maaf Rama jika kehadiran saya telah mengganggu. tapi ada satu hal yang saya harus sampaikan"


"nanti saja Sanjaya apa kau tidak melihat aku sedang ada tamu bersikaplah sopan"

__ADS_1


hulu balang Diwangkara aga merasa malu oleh Senopati Arda karna sikap anaknya


melihat suasana seperti itu Senopati Arda segera meluruskan nya


"tidak usah terlalu riskan padaku adik hulu balang biarkan anakmu bicara. mungkin ada hal penting yang harus di sampaikan pada mu"


"terimakasih Paman Senopati"


Sanjaya merasa punya pembelaan


"bicara lah Sanjaya katakan ada apa?"


suara hulu balang Diwangkara terdengar parau tergambar di raut wajahnya rasa khawatir yang mendalam


"Rama di luar ada tamu dan mereka tamu yang sangat penting dan saya yakin Rama tidak akan menduganya"


hulu balang Diwangkara mengerutkan kening seperti halnya istrinya terkadang beliau pun sulit mempercayai ucapan putranya


"bukan Rama bukan. mereka pendekar yang tidak akan di duga samasekali. mungkin Rama tidak percaya tapi Rama boleh melihatnya mereka ada di teras depan"


terkadang Sanjaya suka merasa risi karna Rama nya seakan tidak pernah percaya pada dirinya mungkin karna memang dia susah di atur hingga dia merasa percuma untuk menjelaskan panjang lebar. mungkin dengan melihatnya sendiri Rama nya baru percaya pada apa yang di ucapkan nya


hulu balang Diwangkara hendak menolak nya namun Senopati Arda Winangun segera buka suara


"pergilah hulu balang buktikan dulu apa yang di katakan anak mu. aku bisa menunggu disini"


"benar kakang Senopati tidak apa-apa jika saya tinggal sebentar?"


"tidak hulu balang pergilah"


"baiklah kakang Senopati saya pergi dulu"


hulu balang dan Sanjaya segera meninggalkan ruangan pendopo menuju teras depan

__ADS_1


Satria dan Wadon Segoro segera berdiri saat melihat tuan rumah muncul di depan pintu "salam tuan maafkan kami jika kedatangan kami mengganggu istirahat tuan. kami datang kesini untuk memenuhi permintaan anakmu karna menurutnya tuan sangat ingin bertemu dengan pendekar pedang Dewa Naga hitam dan inilah orang nya. dan saya Satria teman dari pendekar ini". dengan sopan Satria memperkenalkan pendekar pedang Dewa Naga hitam dan juga dirinya dan juga dirinya


seakan tidak percaya dengan apa yang di dengarnya hulu balang Diwangkara menatapnya tidak berkedip. Sanjaya segera menimpali


"Rama mereka lah dua pendekar sakti dan itu Kaka Dewi yang punya julukan pendekar pedang Dewa Naga hitam. bukankah selama ini Rama sangat ingin bertemu dengan Kaka Dewi? dan hari ini saya telah berhasil membawanya kehadapan Rama"


suara Sanjaya berapi-api merasa bangga karna telah berhasil mewujudkan impian Rama nya


"maafkan saya pendekar saya hampir tidak percaya dengan penglihatan ini benarkah kau pendekar pedang Dewa Naga hitam yang sedang mengguncangkan dunia persilatan?"


"maaf Gusti semua itu tidak benar. aku memang pendekar pedang Dewa Naga hitam. tetapi sedikitpun aku tidak pernah merasa bahwa aku telah mengguncangkan dunia persilatan. mungkin mereka terlalu berlebihan". Wadon Segoro merasa tidak enak hati karna sanjungan hulu balang


"tidak.. tidak pendekar saya begitu banyak mendengar mengenai pendekar. dan maafkan saya jika sambutan saya kurang berkenan di hati pendekar. saya sangat gembira saya bisa bertemu dengan pendekar dan juga pendekar Satria. mari silahkan masuk pendekar sebaiknya kita ngobrol di dalam dan kebetulan saya juga sedang ada tamu dari kerajaan". raut wajah hulu balang Diwangkara menjadi berubah 180° yang tadinya nampak muram kini terlihat raut kegembiraan


tentunya Sanjaya yang paling senang karna telah membuat ayah nya sangat gembira


"Sanjaya cepat minta bunda mu segera menyiapkan makanan dan minuman untuk menjamu tamu kita ini dan segera bawakan ke pendopo. mari masuk pendekar ayo silahkan"


melihat kegembiraan laki-laki setengah baya itu pendekar Satria dan juga pendekar pedang Dewa Naga hitam tidak kuasa untuk menolaknya kedua pendekar itu saling mengangguk lalu masuk mengikuti hulu balang dan Sanjaya


di ruang pendopo panembahan Senopati Arda Winangun masih duduk menunggu


jujur beliau pun merasa penasaran siapa tamu yang di bawa oleh Sanjaya


tiba di ruang pendopo suara hulu balang terdengar riang kakang Senopati Arda berdiri dari duduknya menatap dua pendekar yang berdiri di samping hulu balang. Senopati Arda Winangun mengerutkan kening sepertinya beliau mengenali ciri-ciri dari pendekar pedang Dewa Naga hitam meskipun Senopati itu belum pernah bertemu secara langsung. beliau sudah dapat menebak walaupun kurang pasti


"maaf pendekar apakah yang ku lihat ini benar adanya pendekar pedang Dewa Naga hitam?"


"benar sekali kakang. yang kakang Senopati lihat ini sangat benar inilah pendekar pedang Dewa Naga hitam dan ini temannya namanya pendekar Satria"


hulu balang Diwangkara dengan cepat menjawab memastikan apa yang di lihat Senopati itu benar adanya


BERSAMBUNG

__ADS_1


__ADS_2