
Jeritan-jeritan prajurit terdengar menggema memenuhi ruangan hingga menyusup ke telinga Prabu Ganda lawean yang masih berada di dalam Puri kaputren karna Ratu permaisuri sejak tadi melarang sang Prabu untuk tidak keluar. pintu Puri kaputren terdengar di ketuk dari luar suara Patih Abi yaksa memanggil Raja
"kanda keluarlah ini aku Abi yaksa. prajurit-prajurit kita sudah banyak yang gugur. pendekar-pendekar itu sangat kuat lalu apa yang harus aku lakukan kanda?"
"tunggu sebentar Rayi aku ganti pakaian dulu" Prabu Ganda lawean menjawab dari dalam. beberapa saat kemudian Prabu Ganda lawean pun keluar lengkap dengan pakaian dan senjata perang
seorang pengawal lari tergopoh-gopoh memberi laporan kalau ada dua pendekar lagi yang barusaja tiba
"pengawal segera siapkan kuda ku dan juga kuda Gusti Prabu" perintah Patih Abi yaksa pada kepada pengawal itu. suasana di istana kerajaan nareh menjadi sangat ricuh karna memang tidak ada prajurit khusus yang di siapkan untuk berperang. sehingga para pandega penjaga-penjaga gerbang di ikut sertakan meski Prabu tau mereka bukanlah prajurit untuk di terjunkan ke medan perang
Prabu Ganda lawean memacu kudanya memasuki area pertempuran di dampingi oleh Patih Abi yaksa. dari atas kuda sang Prabu berteriak memberi perintah
"semua mundur ini perintahku. Danda sokana aku tidak ingin mengorbankan prajurit-prajurit ku. dengarlah baik-baik serahkan dirimu Danda sokana dan aku sebagai raja agung akan meringankan hukumanmu"
mendengar ucapan Prabu Ganda lawean Sidra giri sang pendekar pemburu nyawa menjadi tambah naik pitam belum lagi bara amarah di hatinya karna melihat gadis pujaannya datang bersama pemuda tampan
"Prabu Ganda lawean tentunya kau masih ingat aku!! Sidra giri putra Danda sokana
dan sebagai putranya aku tidak akan pernah membiarkan siapapun menyentuh ayah ku meskipun itu dirimu"
"Ha..ha..ha..ha..ha. Sidra giri rupanya kau sudah dewasa. apakah kau lupa? kau bisa seperti ini itu karna kebaikan Gusti Prabu
jangan lupakan itu anak muda" Patih Abi yaksa merasa tersinggung karna ucapan Sidra giri
"aku tidak pernah melupakan hal itu Abi yaksa. berapa banyak yang Raja mu telah berikan padaku aku akan mengembalikan nya dengan meluluh lantakkan istana nareh ini hingga rata menjadi tanah. dengarkan itu baik-baik Abi yaksa"
wajah Patih Abi yaksa menjadi merah padam karna merasa dihina oleh anak baru kemarin sore
"berani sekali kau menghina ku Sidra giri. rupanya sekarang ini kau sudah punya mulut besar. aku Patih Abi yaksa tidak punya pilihan jangan anggap aku kejam karna membunuhmu bocah ingusan
jika kau memang ksatria hadapi aku"
__ADS_1
Patih Abi yaksa dengan sombongnya menyebut namanya dia melompat dari kuda seraya menghunus pedang
Sidra giri tersenyum sinis
"dulu mungkin aku merasa takut padamu terapi tidak sekarang Abi yaksa karna nyawa mu telah berada di ujung pedang ku"
mendengar ucapan Sidra giri Abi yaksa semakin murka karna merasa semakin di rendahkan oleh Sidra giri padahal dia mengenal Sidra giri bukan baru hari ini. bahkan dulu Sidra giri sempat di latihnya di istana itu untuk menjadi seorang prajurit yang handal. hari ini pemuda itu mengancam nyawanya Patih Abi yaksa sudah tidak bisa lagi menahan amarahnya
dengan serangan membabi buta dan penuh amarah sang Patih memburu pendekar pemburu nyawa
Sidra giri sudah memperhitungkannya dengan matang hal itu pasti akan terjadi
sang pendekar terus berusaha memancing emosi Abi yaksa sambil menghindari serangan-serangan
"rasanya tanggung Abi yaksa kalau hanya dirimu sendiri suruh turun Raja mu dari kuda"
"jaga sikap mu Sidra giri jangan kurang ajar"
di tengah pertarungan Abi yaksa dan Sidra giri Prabu Ganda lawean memerintah salah satu prajurit untuk meminta di kirim bantuan kepada Prabu Hindun Rancasan
melihat hal itu Wadon Segoro atau Mayang suri tidak ingin tinggal diam tetapi Satria dan Wisnu Abi Rawa berusaha menahannya
"biarkan saja adik Segoro aku ingin melihat seperti apa kekuatan bantuan yang di minta Prabu Ganda lawean"
"tapi kakang aku sudah mendengar mengenai Prabu Hindun Rancasan dan kami sudah punya rencana untuk menyerang kerajaan gelang-gelang"
"justru itu adik Segoro kakang sudah mendengarnya dari kakang Satria akan rencana kalian itu. masalah ini bisa kita jadikan umpan. jadi biarkan pengawal itu pergi meminta bantuan"
"jadi kakang sudah mendengar semuanya mengenai hal itu?"
"benar adik Segoro. di tengah peperangan tadi kakang Satria mencari kesempatan untuk mengenalkan dirinya dan juga menceritakan perjalanan kalian. dan kakang pribadi sangat berterimakasih padanya karna kakang Satria telah menyelamatkan mu dari bara amarah"
__ADS_1
"kakang Wisnu aku sarankan kakang jangan terlalu termakan ucapannya. aku baik-baik saja tidak usah kakang khawatirkan"
Wadon Segoro cemberut kesal. Satria dan Wisnu Abi Rawa hanya tersenyum
pertarungan satu lawan satu Sidra giri dan Patih Abi yaksa semakin seru mereka sama-sama mengeluarkan kesaktian tingkat tinggi dan di setiap kesempatan Sidra giri berusaha menghindari serangan Abi yaksa hingga serangan itu menerjang benteng atau bangunan-bangunan penting yang berada di sekitar istana hingga hancur berantakan
"sudah ku katakan Abi yaksa aku akan menghancurkan kerajaan ini"
melihat kejadian itu Prabu Ganda lawean dengan di dampingi oleh Senopati Rangga Pati melompat dari kudanya sambil berteriak lantang "kurang ajar kau Sidra giri bocah ingusan yang tidak tau balas budi kau telah menghancurkan sebagian istana ku dan aku tidak bisa tinggal diam"
melihat Prabu Ganda lawean turun tangan dengan di dampingi seorang Senopati Wisnu Abi Rawa berniat untuk menghadang
tetapi Satria dan Wadon Segoro melompat terlebih dulu menghadang sang Raja nareh
"aku lawanmu Ganda lawean bukankah selama ini kau mencari ku? akulah Wadon Segoro pendekar pedang Dewa Naga hitam yang selama ini kau cari-cari"
Prabu Ganda lawean mundur beberapa langkah dia sering mendengar akan kesakitan pendekar itu dan kini dia sendiri yang berhadapan
mungkin kerajaan gelang-gelang memang tidak terlalu jauh dari wilayah nareh hingga tidak terlalu lama satu pasukan berkuda kurang lebih dua puluh orang dan langsung di pimpin oleh putra mahkota Pangeran Panji Rancasan
melihat kedatangan mereka Wisnu Abi Rawa dan juga Danda sokana langsung menyambutnya peperangan pun terjadi kembali. setelah hampir tiga jam berlangsungnya peperangan entah darimana datangnya tiga sosok bayangan masuk ke Medan peperangan dengan menghunus senjata masing-masing
"selamat datang adik-adik ku kalian memang bisa di andalkan setiap kali aku mbutuhkan kalian selalu datang tepat waktu"
Panji gara nyengir kuda
"kakang Wisnu si kecil mungil itu biar bagian ku. tetapi sebagai pendekar utusan langit aku tidak bisa berperang berpijak di tanah"
BERSAMBUNG
mohon dukungannya kakak semua
__ADS_1