MANTRA HITAM PEMIKAT

MANTRA HITAM PEMIKAT
CH 48 RENCANA PENYERANGAN II DAN BERANGKAT MENYERANG


__ADS_3

"Biar aku saja yang mengejarnya kakang" tidak menunggu jawaban sang pendekar pemburu nyawa pun melompat keluar pekarangan pondok lalu mengejar bayangan hitam itu, hanya sekitar 15 menit bayangan itu pun telah terkejar


"tunggu aku tau siapa dirimu, mengapa kau harus bersembunyi? mengapa tidak langsung bertemu kami?"


diam-diam yang ternyata pendekar pedang Dewa Naga hitam lah yang bersembunyi di balik semak-semak itu, mengakui akan ketajaman rasa yang di miliki laki-laki yang berdiri di belakang dirinya itu


"maaf Ki sanak jika kehadiranku telah mengganggu kalian, aku hanya kebetulan lewat dan aku juga belum lama berada disana. aku samasekali tidak punya niat buruk sedikitpun jadi ijinkan aku pergi maaf jika kalian terganggu" jawab pendekar pedang Dewa Naga hitam


"aku tau siapa dirimu mengapa kau selalu menghindar dari diriku Mayang? jika memang ada kesalahan ku tolong maafkan aku dan kita bisa membicarakan nya dengan baik-baik, bertahun-tahun aku mencarimu dan setelah aku menemuimu kau terus menghindariku seolah-olah kau tidak mengenalku"


"maaf Ki sanak aku bukanlah orang yang Ki sanak cari namaku Nirwana Wadon Segoro mungkin Ki sanak salah orang"


"kau boleh mengatakannya pada dunia bahwa namamu Nirwana Wadon Segoro tapi tidak padaku, seribu kali kau mengatakan itu seribu kali pula hatiku menyangkalnya" pendekar pemburu nyawa atau Sidra giri tetap menolak pengakuan pendekar pedang Dewa Naga hitam


"lalu apa yang kau inginkan setelah bertahun-tahun kau meninggalkan aku hingga aku hidup dalam neraka, bahkan kematian hampir menjemput ku jika saja seseorang tidak menyelamatkan ku mungkin saat ini aku telah menjadi arwah gentayangan yang hendak membalas dendam"


"siapa yang telah menghancurkan kehidupan mu yang menjerumuskan mu ke neraka itu katakan padaku dan aku akan menghancurkan mereka itu" hati Sidra giri terasa sakit mendengar pengakuan Mayang suri wanita yang sangat dicintainya yang selama bertahun-tahun dicarinya


"terlambat kakang aku bukan lagi Mayang suri mu, yang ada di hadapanmu sekarang hanya sebongkah dendam yang hendak menuntut tanggung jawab pada manusia-manusia biadab yang telah menghancurkan ku" Mayang suri berusaha menahan air matanya

__ADS_1


"aku tidak peduli siapapun dirimu saat ini


yang jelas bagiku kau tetaplah Mayang suri gadis lugu yang hidup sebatang kara di desa Tanjung sari"


"cukup kakang jangan sebut nama desa itu lagi, aku sudah menguburnya dan aku tidak ingin mengingat nya lagi, pergilah kakang kembali pada mereka biarkan aku pergi"


"tunggu Mayang aku ingin mendengar dari mulutmu langsung bahwa kau benar-benar Mayang suri"


"sudah ku katakan kakang Mayang suri telah lama mati, dan aku hanyalah sebongkah dendam bernama Nirwana Wadon Segoro nama itu yang Resi guru Purba kesha berikan padaku dan itu amanah dari guruku jadi aku harus menggunakannya dengan baik"


"aku mengerti Mayang dari dulu hingga kini yang tidak bisa kau hapus dari dirimu kebaikan dan ketulusan hatimu, kau boleh mengatakannya pada orang-orang yang tidak kau kenal tetapi tidak padaku, jujurlah (sayang Eh salah๐Ÿ˜Š๐Ÿ˜Š)


jujurlah Mayang bahwa kau masih sangat mencintai ku? seperti halnya diriku yang selalu mencintaimu dulu, hari ini, besok, lusa, dan seterusnya aku akan terus mencintaimu apapun yang terjadi meski keadaan telah berubah namun hatiku tidak akan pernah berubah"


Sidra giri hendak mengejarnya namun suara seseorang dari belakang telah menahannya


"tidak perlu di kejar adik giri biarkan dia pergi mungkin dia masih butuh waktu untuk memperbaiki hubungan kalian lagi"


wajah Sidra giri terkesiap kaget mendengar ucapan yang ternyata Wisnu Abi Rawa

__ADS_1


"kakang darimana kakang tau mengenai masa lalu ku dengan pendekar pedang Dewa Naga hitam" tanya Sidra giri penuh selidik


"sejak pertemuan kalian di gunung kapur saat itu aku sudah menangkap ada kejanggalan dari sikap kalian yang kaku dan aku dapat melihat dari sorot mata kalian, kalian berdua saling merindukan itu tidak dapat di pungkiri aku bukan anak kecil adik giri aku sudah cukup makan asam garam kehidupan Sebelum aku berguru di gunung singgaru, aku mengasuh banyak anak-anak baik laki-laki ataupun perempuan dan aku juga pernah mengalami bagaimana rasanya mencintai seseorang dan aku tahu kau sangat mencintai gadis itu bukan?"


Sidra giri mengangguk lesu mendengar pertanyaan dari kakang seperguruannya itu


"benar kakang tapi aku tidak tau lagi apa yang harus aku lakukan untuk mendapatkan nya kembali seperti yang kakang lihat dua kali pertemuan kami seperti itulah sikapnya padaku dan aku tau kakang mengapa tadi Mayang suri bersembunyi di balik semak, itu karena aku kakang dia tidak bertemu dengan ku jika saja tadi aku tidak berada bersama kalian aku yakin Mayang suri akan bergabung"


nada ucapan Sidra giri merasa dirinya menjadi penghalang untuk Mayang suri


"tidak adik Giri jangan pernah punya pikiran sepicik itu aku yakin adik Segoro tidak serendah itu, kita ini satu perguruan dari perguruan yang sama dan di didik oleh guru yang sama, sudah aku katakan dia hanya butuh waktu dan aku yakin suatu saat nanti takdir akan mempersatukan kalian kembali


kau hanya perlu sedikit bersabar anggaplah ini ujian untuk kalian" Wisnu Abi Rawa menepuk bahu Sidra giri mengajaknya kembali ke pondok


setelah menyusun rencana untuk pelaksanaan penyerangan ke istana Cipamanahan untuk membebaskan Baginda prabu Wira Nanta beserta permaisuri nya, sang ketua Wisnu Abi Rawa menetapkan untuk sementara waktu tinggal terlebih dahulu di gunung kembar hingga waktu yang telah di tentukan untuk melaksanakan tugas mereka tiba


selama dua hari Wisnu Abi Rawa melaksanakan tapa brata untuk memastikan bahwa di jari itu hari yang tepat, sementara yang lainnya sibuk mematangkan rencana agar tidak meleset dari perkiraan, setelah semuanya benar-benar di persiapkan dengan matang hari yang di nantikan pun tiba sebelum matahari terbit pasukan pun berangkat meninggalkan gunung kembar dengan di pimpin Wisnu Abi Rawa atau pendekar samber nyawa


sepanjang perjalanan mereka bersenda gurau bergelak tawa untuk menghilangkan rasa lelah, menjelang senja mereka pun tiba di tempat tujuan

__ADS_1


sambil menunggu malam mereka beristirahat di sebuah kedai makan di pinggir Kuta raja Cipamanahan sambil mencuri-curi dengar mengenai informasi namun hingga malam tiba tidak satu orang pun dari pengunjung kedai itu yang membicarakan mengenai istana Cipamanahan


BERSAMBUNG


__ADS_2