MANTRA HITAM PEMIKAT

MANTRA HITAM PEMIKAT
CH 79 KEDIAMAN HULU BALANG DIWANGKARA


__ADS_3

"oohhh jadi pendekar-pendekar sakti mandraguna ini sodara seperguruan?


pendekar Sura tidak saya sangka pendekar Sura yang saya kenal pendiam ternyata pendekar sakti tingkat tinggi, dan saya memang tidak salah memilih pendekar Sura melindungi dukuh Pakuan timur"


pintu pendopo di ketuk dari luar


istri hulu balang Diwangkara bersama dua orang pelayan perempuan masuk dengan membawa nampan besar dengan berbagai macam makanan serta minuman hangat


"maaf kakang tadi Sanjaya menitipkan pesan. apakah dia boleh menemui Dewi pendekar?" dengan suara yang sangat halus dan sikap yang lembut istri hulu balang menyampaikan pesan anaknya


"tentu nyai tapi katakan pada Sanjaya nanti saja biarkan pendekar-pendekar ini beristirahat dulu"


"baik kakang terimakasih dan saya mohon diri" begitulah kebiasaan istri hulu balang Diwangkara tidak pernah mencampuri urusan suaminya apalagi urusan itu menyangkut masalah kerajaan


setelah istri dan dua pelayan nya keluar pintu di tutupnya kembali. hulu balang Diwangkara mempersilahkan mereka makan "silahkan di makan pendekar!!


lalu bagaimana urusan pendekar di nareh


apakah berjalan lancar? lalu dimana kalian berjumpa dengan pendekar Sura dan yang ini tentunya pendekar sakti juga?"


mendengar pujian hulu balang wjah Panji gara yang tadi agak kusut kini terlihat cerah


"terimakasih Gusti ternyata Gusti hulu balang ini orang yang sangat bijaksana baik dan juga ramah! perkenalkan nama saya Panji gara julukan saya pendekar malaikat Dewa kayangan. oh ya Gusti apa saya boleh memakan semua makanan ini? sudah satu hari satu malam perut saya belum di isi apapun"


mendengar pengakuan dan melihat tingkah Panji gara mata Naga Sura mendelik kesal


sementara Satria dan Wadon Segoro berusaha menahan tawa hampir saja minuman yang di teguk nya muncrat dari mulut mereka. sedangkan hulu balang Diwangkara begitu terkagum-kagum

__ADS_1


"oh Gusti apakah ini yang di namakan mu'zijat? hingga engkau mengirimkan pendekar dari kayangan"


Wadon Segoro menahan perutnya yang terasa sakit iya ingin melepaskan tawa nya tapi tidak mungkin. Naga Sura yang di buatnya semakin kesal menginjak kaki adiknya di bawah meja. Panji gara tertawa merasa puas karna telah berhasil membalas kakaknya. namun sepertinya Naga Sura tidak kehabisan akal


begitulah keberadaan kakak beradik murid Resi Purba kesha di manapun mereka berada kapanpun mereka bertemu selalu saja beradu mulut pertengkaran kecil yang sudah tidak aneh lagi


"maaf Paman tidak usah dengarkan dia ucapannya selalu asal tidak peduli dia sedang berhadapan dengan siapa. lagipula Paman mana ada Malaikat Dewa kayangan yang berkeliaran di muka bumi. saya mengenalnya dari dia kecil dan kami satu perguruan di puncak gunung singgaru guru kami eyang Resi purba kesha tidak pernah memberikan gelar itu kepadanya"


"tunggu Gusti biarkan saya memberikan penjelasan pada kakang saya ini"


sebenarnya Panji gara hendak berkelah untuk membalas kecurangan kakaknya


tapi Wadon Segoro segera menengahinya


"cukup kakang hentikan kalian tidak ubahnya bocah-bocah kecil tidak ada henti-hentinya beradu debat selalu tidak ingin ada yang mengalah. disini tidak ada kakang Wisnu tetapi ada aku meskipun aku paling kecil tapi aku punya hak untuk melerai kalian dan jika kakang Panji dan kakang Sura masih terus bertengkar ini ambil pedangku sana bertarung di luar"


"adik Segoro benar Panji. adik Sura bukan saatnya kita bercanda kita disini di undang secara resmi oleh Gusti hulu balang untuk membicarakan masalah yang sangat penting. jadi aku mohon kalian berdua bisa mengerti"


"sebetulnya tidak apa-apa pendekar saya malah senang karna dari situ saya dapat melihat keakraban kalian dan juga ikatan kalian yang sangat kokoh. dan satu hal saya minta pendekar jangan panggil saya Gusti seperti halnya pendekar Naga Sura panggil saya Paman karna pada hakekatnya derajat kita sama hanya kebetulan saya di pilih menjadi seorang petinggi kerajaan. panggilan Paman lebih enak di dengar dan juga ikatan kita terasa dekat" hulu balang Diwangkara merasa keberatan akan panggilan Gusti yang selalu di lontarkan oleh pendekar-pendekar muda itu


"wiiihhhhh luar biasa ternyata aku benar-benar tidak salah lihat Gusti eh... Paman hulu balang ternyata orang yang sangat bijaksana. tidak salah jika Gusti Prabu lingga buana menjadikan Paman seorang yang terhormat" Panji gara berdecak kagum. Naga Sura mulai terpancing


tetapi melihat tatapan Wadon Segoro dia tidak bisa berkutik


"kau terlalu berlebihan pendekar Panji aku hanya seorang biasa-biasa saja ku harap kalian jangan sungkan katakan saja apa yang kalian butuhkan karna sudah kewajiban kami untuk menyediakan semua yang kalian perlukan"


"terimakasih Paman. lalu apa rencana Paman selanjutnya?" Satria mulai memasuki pembicaraan penting

__ADS_1


"Paman dan juga panembahan Senopati Arda Winangun menemui Gusti Prabu Nara Wenda sehari setelah kepergian pendekar


dan kami telah membicarakannya dan Gusti Prabu ingin sekali berjumpa secara langsung dengan pendekar-pendekar muda ini. apakah pendekar Satria dan yang lainnya bersedia memenuhi undangan resmi Gusti Prabu?" hulu balang Diwangkara balik bertanya pada Satria


sebelum menjawab Satria bertanya terlebih dulu pada kawan-kawannya


"bagaimana menurutmu adik Segoro adik Sura dan adik Panji? apakah kalian bersedia?"


"kalau aku terserah kakang Satria saja dan juga adik Segoro kemanapun kalian melangkah aku pasti ikut" lagi-lagi Naga Sura di buatnya jengkel Wadon Segoro dan Satria yang mengetahui hal itu hanya dapat tersenyum


"bagaimana adik Sura? aku belum mendengar jawaban mu" Satria berusaha untuk berlaku adil


"aku juga terserah kakang dan juga adik Segoro! tetapi Paman sebelumnya saya minta maaf karna saya punya satu permintaan" Naga Sura berpaling pada hulu balang Diwangkara


"tentu pendekar apapun permintaan mu saya akan memenuhinya. jangan sungkan-sungkan katakan apa permintaanmu?"


"begini Paman. masih ada tiga orang sodara seperguruan kami tetapi untuk saat ini mereka sedang menjalankan tugasnya terlebih dulu. tetapi kami sudah sepakat sewaktu di nareh kami semua akan membantu Gusti Prabu Nara Wenda tetapi untuk itu sodara-sodara ku ini membutuhkan tempat tinggal dan yang saya inginkan tempat tinggal mereka tidak jauh dari dukuh Pakuan timur tempat dimana saya bertugas karna kami harus sering bertemu untuk menyusun rencana dan juga kakang Wisnu, kakang Giri, dan kakang Singgih tidak sulit mencari kami jika mereka sudah memasuki desa ci Tamiang"


Naga Sura mengutarakan keinginannya seperti mana yang telah mereka sepakati Tempo hari


BERSAMBUNG


MINAL AIDIN WAL FAIZIN


MOHON MAAF LAHIR DAN BATIN


mohon dukungan nya ya

__ADS_1


__ADS_2