
"Seberapa jauh dari sini Putri?"
"mungkin sekitar tiga jam perjalanan kakang aku pun tidak tau pasti"
"baiklah apapun resikonya malam ini juga aku harus bertemu dengan ayah handamu.
apakah Putri mau menemaniku atau melanjutkan perjalanan mu?"
"aku akan menemanimu kakang untuk menemui ayah handaku"
jawab Ken Rara penuh semangat entah apa yang membuat gadis cantik itu memiliki semangat kembali
Panji gara tersenyum, tangannya mengeluarkan jubah dan juga kain ikat kepala dari dalam kantong kainnya meski sudah nampak lusuh tetapi jubah itu masih tebal, Ken Rara terus mengamati tidak mengerti apa yang akan dilakukan pemuda itu
"Putri gulung rambutmu ke atas"
meski tidak mengerti tetapi Ken Rara tidak mbantah, digulungnya rambut yang terurai keatas kepalanya, dengan sigap Panji gara membungkus kepala Ken Rara dengan kain yang biasa digunakan untuk mengikat kepalanya pemuda itu tertawa kecil
"kau seperti dalang dengan ikat kepala ku"
Ken Rara ikut tersenyum
lalu di bukanya ikatan jubah di kebut-kebut beberapa kali untuk menghilangkan bau apek "masukkan tanganmu Putri meski jubah ini agak bau apek tetapi mampu untuk melindungi mu dari hawa dingin"
di ikatkannya tali jubah itu di pinggang Ken Rara
"coba berputar kau, lumayan tampan juga Putri dengan jubah ku ini"
Ken Rara tertawa entah mengapa gadis itu menuruti saja apa yang dikatakan Panji
"sudah cukup!! Putri apa kau sudah siap untuk berperang?"
"aku siap kakang" jawab Ken Rara tegas
"bagus kau memang pantas menjadi murid pilihanku" Panji gara mengacungkan dua ibu jarinya
Ken Rara di buatnya tertawa hingga matanya berair, sejak prahara itu Putri istana tidak pernah lagi tertawa ataupun tersenyum. tetapi hari ini Panji gara telah mbuatnya mengembalikan keceriaan Putri semata wayang Prabu Gandara seta
itulah Panji gara selalu dapat menyenangkan hati orang lain atah bahkan memancing kemarahan musuh-musuhnya dengan mudah!!
__ADS_1
"sungguh kau sudah siap muridku?"
tanya Panji meyakinkan
"sungguh aku sudah siap guru"
"baiklah sekarang kita berangkat, berapa pohon kira-kira dari sini hingga ke mulut lorong?"
"entahlah guru aku tidak dapat memastikannya karna di sepanjang hutan ini ada banyak pohon tumbuh" Ken Rara tidak dapat menahan tawanya, diam-diam dalam hati gadis itu mengagumi bukan hanya berilmu tinggi tetapi juga menyenangkan
Panji gara menengadah melihat keatas pohon. "sudah siap terbang?" tanya nya tegas, tanpa menunggu jawaban di raihnya pinggang gadis itu di bawanya tubuh mungil itu melayang ke atas pohon
melompat dari pohon satu ke pohon lain bagaikan induk kera membopong anaknya mengajarinya melompat di atas pohon
meski agak merasa ngeri Ken Rara percaya pemuda itu pemuda baik-baik yang akan selalu melindungi dirinya. peluh bercucuran dari kening Ken Rara entah berapa pohon yang telah di lintasi mereka akhirnya hanya sekitar tiga pohon di depan yang tepat berada di mulut lorong Panji gara berhenti di pohon ke empat dari depan tangannya menggoyang-goyangkan dahan yang agak besar dan aman untuk menyembunyikan Ken Rara
"dengar Putri kau tetap disini apapun yang terjadi jangan pernah mengeluarkan suara apalagi sampai berteriak, setelah urusan ku selesai aku akan kembali menjemput mu
dan berpegangan yang kuat agar kau tidak terjatuh. aku akan segera turun"
"hati-hati kakang" Ken Rara mengingatkan
"pasti Putri tugasku belum selesai jadi aku akan selalu berhati-hati"
seperti yang di katakan Ken Rara lima orang laki-laki berwajah sangar berpakaian seragam prajurit kerajaan lengkap dengan senjata tengah duduk di atas lempengan batu. sesekali salah satu dari mereka menoleh ke kanan dan kiri ke atas ke belakang untuk memastikan tidak ada orang lain di tempat itu selain mereka.
Panji gara yang berada di atas pohon mematahkan ranting kecil lalu menyihirnya menjadi seekor ular daun di lemparnya ular itu tepat diatas pangkuan salah satu prajurit diapun tersentak kaget melompat dari atas batu menepiskan ular dari pangkuannya
"ular kurang ajar mengapa jatuh di pangkuan ku?" yang lain ikut terkejut menatap ketuanya dengan penuh keheranan
"ada apa kakang tumenggung? mengapa kakang seperti sangat terkejut?"
"apa matamu buta? kau tidak melihat ular itu jatuh di pangkuan ku bagaimana aku tidak terkejut?"
jawab tumenggung Guntara marah
"ular?!! ular yang mana kakang? aku benar-benar tidak melihatnya"
"bodoh itu ular apa yang seperti itu akan kau sebut nyamuk?"
__ADS_1
prajurit itu semakin keheranan begitupun dengan yang lainnya
"maaf kakang tumenggung inikah yang kakang maksudkan ular?"
salah satu prajurit mengambil ranting yang tergeletak di bawah batu
"coba kakang perhatikan dengan baik. ini ranting kakang tumenggung"
Guntara mengerutkan kening tidak mengerti jelas-jelas yang terjatuh di pangkuannya tadi itu seekor ular daun mengapa berubah menjadi ranting?
"setan alas rupanya ada tamu tak di undang
bersiap-siaplah kalian kita sambut makhluk jadi-jadian ini"
Panji gara tertawa karna telah disangka makhluk jadi-jadian atau hantu gentayangan, dengan ringan tubuh tinggi kecil itu melayang turun dari atas pohon,
prajurit itu mundur selangkah
tumenggung Guntara yang bertindak sebagai ketua mereka tidak sedikitpun memperlihatkan rasa takut
"setan alas apa tujuanmu memata-matai kami? siapa yang menyuruhmu katakan agar aku tidak segan-segan membunuhmu"
"Ha..ha..ha..ha.. kau ingin tau siapa yang mengutusku? akulah yang bergelar pendekar malaikat Dewa khayangan dan perlu kalian tau akulah Satria utusan langit untuk memenjarakan kalian di penjara istana para Dewa"
"cihh siapa yang percaya pada ucapan mu pemuda tidak waras!! cepat katakan siapa namamu dan apa tujuanmu?"
"aku sudah mengatakan yang sebenarnya dan sekarang bersiap-siaplah untuk menjemput Kematian kalian"
"setan alas kurang ajar berani sekali kau merendahkan ku. apa kau tidak tau akulah tumenggung Guntara orang kepercayaan Gusti Prabu Hindun Rancasan"
"ya..ya..ya..ya.. aku cukup jelas mendengarnya kalian semua begundal-begundalnya iblis keji gelang-gelang"
"bocah edan berani sekali kau menghina Raja ku" salah satu lainnya mulai terpancing
"si tua bangka Raja mu memang pantas di hina"
"setan kau tidak bisa lagi di ampuni kurang ajar" tumenggung Guntara tidak bisa lagi menahan emosinya
Panji gara sudah dapat menduga itu. dia memang selalu punya perhitungan yang matang untuk menghadapi lawan-lawannya
__ADS_1
kali ini Panji gara tidak lagi main-main di hunusnya keris pusaka yang selama ini selalu terselip di ikat pinggangnya yang jarang sekali di gunakan untuk menghadapi musuh-musuhnya, cahaya keris itu berkilauan tertimpa sinar rembulan
BERSAMBUNG