
Itulah penyebab rasa gembira di hati Mayang suri. dan kedua kakak seperguruannya Singgih narpati dan Panji gara melanjutkan perjalanan nya untuk mencari empat pendekar berdarah biru
pendekar pedang Dewa Naga hitam sendiri melanjutkan tujuannya untuk mencari Demang karja. meskipun mereka punya perasaan yang sama ingin berjalan beriringan namun apa hendak di kata tujuan mereka berada. langkah kaki Mayang suri terasa ringan menyusuri jalan setapak menuju ke arah hutan lindung yang akan di lintasinya tujuan hatinya sudah mantap dia akan menuju ke Kademangan mekar jaya
kemungkinan besar di sanalah dia akan menemukan Demang karja atau setidaknya mendapat informasi yang jelas mengenai keberadaan manusia itu
belum mencapai tengah hutan jarak sekitar seribu kaki pendengaran tajam gadis itu menangkap suara ribut-ribut sepertinya tengah terjadi pertarungan. pendekar pedang Dewa Naga hitam mengendap-endap di balik pohon dia tidak ingin kehadirannya di ketahui oleh mereka sekitar sepuluh langkah lagi Mayang suri menghentikan langkahnya di bawah pohon yang lebih besar
dari situ terlihat jelas seorang pemuda berada dalam keroyokan kurang lebih sepuluh orang laki-laki bertampang beringasan sepertinya mereka-mereka itu perampok liar. pemuda itu nampak kewalahan menghadapi serangan dari berbagai arah. pendekar pedang Dewa Naga hitam tidak ingin berlama-lama hanya menonton saja dia merasa yakin kalau pemuda itu tengah di rampoknya
dengan gerakan yang sangat lincah tangannya pun sangat lihai memainkan pedang hingga dalam beberapa gerakan saja kelompok perampok itu roboh berjatuhan
"ternyata hanya segitu kemampuan kalian bandit-bandit kampungan beraninya hanya keroyokan. aku ingatkan kalian jika kalian ingin menjadi perampok tuntutlah ilmu kesaktian tingkat tinggi agar kalian tidak mudah di robohkan. jika hanya itu kemampuan yang kalian miliki ku sarankan kalian sebaiknya menjadi petani saja"
Mayang suri menceramahi komplotan perampok yang berusaha bangkit untuk segera kabur dari tempat itu
melihat mereka yang lari tunggang langgang Mayang suri tertawa sambil menyarungkan kembali pedang pusaka nya
pemuda yang barusaja terlepas dari bahaya menghampirinya seraya berbicara
"terimakasih pendekar atas bantuannya andai saja pendekar tidak segera muncul entah seperti apa nasib saya ini. sekali lagi terimakasih banyak pendekar"
__ADS_1
"sama-sama Ki sanak sudah kewajiban ku untuk membantu sesama yang sedang kesusahan. oh iya siapa adanya Ki sanak ini? darimana dan hendak kemana?"
"nama saya Sidik Maulana pendekar. saya hendak menuju gunung rahayu saya mendapat petunjuk kalau disana ada seorang pertapa sakti bernama eyang Sanca Mukti dan saya hendak berguru pada beliau. apakah pendekar tau masih seberapa lama perjalanan yang harus saya tempuh?"
Mayang suri mengerutkan kening bibirnya bergumam sepertinya mengingat-ingat
"gunung rahayu rasanya aku pernah mendengar gunung itu kalau aku tidak salah gunung itu terletak di sebelah barat. tetapi aku tidak pernah dengar nama yang barusaja Ki sanak sebutkan. dari sini Ki sanak harus menempuh perjalanan sekitar satu hari. dan perkiraan ku sebelum menjelang tengah malam Ki sanak akan tiba disana" pendekar pedang Dewa Naga hitam menjelaskan meski hanya mengira-ngira karna memang sejujurnya dia pun tidak pernah datang kesana
"terimakasih atas petunjuknya pendekar. terimakasih juga untuk pertolongannya
semoga Gusti Allah membalas kebaikanmu
"tentu Ki sanak sejauh kita berjalan di jalan yang sama aku yakin suatu saat nanti kita akan bertemu kembali. namaku Nirwana Wadon Segoro orang-orang dunia persilatan menjuluki diriku pendekar pedang Dewa Naga hitam. selamat jalan Ki sanak hati-hati dan semoga selamat sampai tujuan"
pendekar pedang Dewa Naga hitam berlalu meninggalkan Sidik Maulana yang segera juga meninggalkan tempat itu mereka saling melambaikan tangan
***
pada saat yang bersamaan di ujung hutan yang sedang dilalui pendekar pedang Dewa Naga hitam seorang laki-laki setengah baya tengah duduk melonjorkan kakinya sambil memijit-mijit lutut untuk menghilangkan rasa pegal. Ki Pardi atau panglima Danda sokana yang sama-sama meninggalkan kedai setelah berakhirnya pertarungan. beliau tengah beristirahat untuk melepas lelah sebelum kembali melanjutkan perjalanan menuju ke tempat yang sama yaitu Kademangan mekar jaya bibirnya bergumam perlahan
"andai saja tidak terjadi prahara yang menimpa keluarga ku mungkin aku tidak akan terlunta-lunta seperti sekarang ini
__ADS_1
meskipun aku sudah menemukan titik terang mengenai putraku yang ternyata masih hidup. tetapi tetap saja hatiku masih terasa was-was karna aku belum dapat menjumpai nya. semoga saja setelah aku menemukan si Demang karja untuk meminta pertanggung jawaban nya aku dapat kembali bertemu dengan keluarga ku
apakah Giri sudah mengetahuinya mengenai hal ini? kalau sesungguhnya dalang dari peristiwa itu ternyata si Demang karja. tidak pernah ku sangka ternyata manusia picik itu telah tega melakukan hal itu padaku apa sebenarnya yang dia inginkan dariku karna seingat ku aku tidak pernah punya masalah dengannya"
di tengah-tengah lamunannya gumaman panglima Danda sokana di hentikan oleh suara derap langkah kuda sepertinya bukan hanya satu ekor kuda melainkan ada beberapa ekor kuda yang sedang menuju kearah tempatnya beristirahat untuk menghindari hal-hal yang tidak di inginkan panglima Danda sokana segera menyelinap ke balik batu serta mengintai siapa orang-orang berkuda yang hendak lewat itu
benar dugaan Danda sokana lima ekor kuda di tunggangi oleh masing-masing peria berpakaian prajurit kerajaan. panglima Danda sokana menelan ludah terasa ketir melihat kuda yang paling depan. dulu kuda gagah berwarna coklat itu pernah menjadi miliknya. kemungkinan yang saat ini menunggangi si coklat panglima yang menggantikan kedudukannya. ingin rasanya Danda sokana mencegat kuda itu tapi bagaimana mungkin mereka tidak mengenali dirinya. disaat Danda sokana berpikir keras tiba-tiba kaki kuda yang berada paling belakang kakinya terantuk batu kuda itu meringkik kesakitan suaranya sangat keras dia juga tidak mau jalan hingga penunggang nya terpaksa harus turun di pukulnya pinggang kuda dengan keras sambil berbicara menggerutu memarahi kudanya
kawan-kawan nya yang berada di depan ikut berhenti pula. yang satu berteriak bertanya "ada apa dengan kudamu? coba kau lihat lebih teliti sepertinya kudamu merasakan kesakitan" laki-laki itupun turun dari kuda di ikuti oleh teman-temannya lalu ikut serta memeriksa kaki kuda
Danda sokana yang sejak tadi mengintai dari balik batu perlahan-lahan mundur untuk meninggalkan tempat itu karena dia tidak ingin mencari perkara karna dia tau mereka prajurit-prajurit kerajaan nareh
namun naas tumitnya menghantam ranting kayu yang tergeletak di belakangnya
Danda sokana mengasuh kesakitan dan parahnya lagi suaranya di dengar oleh mereka
laki-laki yang menunggangi kuda milik Danda sokana dulu berdiri sambil berteriak
"siapa disana? jangan bersembunyi keluarlah jika memang tidak punya niat buruk"
BERSAMBUNG
__ADS_1