MANTRA HITAM PEMIKAT

MANTRA HITAM PEMIKAT
CH 96 PERANG BERLANGSUNG


__ADS_3

"Sudahlah jingga mungkin karena gurumu dan juga Trenggana sangat mengkhawatirkan dirimu jangan terlalu di pikirkan, bagaimana kakang apa kita akan segera menemui Gusti Prabu Nara Wenda?"


"iya adik Segoro, Satria apa kau ikut ke istana untuk menghadap Gusti Prabu serta memperkenalkan pangeran Wira Geni dan juga Trenggana?"


"sebaiknya kau saja kakang dan adik Segoro, aku dan yang lainnya harus memastikan bahwa pasukan perang kita telah benar-benar siap"


"baiklah Satria kau pastikan semuanya siap dan juga kondisi mereka dalam keadaan baik untuk menuju ke medan pertempuran"


tanpa di duga-duga satu demi satu pendekar-pendekar yang berpihak terhadap Prabu Nara Wenda mereka berdatangan tanpa harus di undang menyatakan siap membantu untuk berperang, hingga Gusti Prabu Nara Wenda merasa sangat gembira karna ternyata dia tidaklah sendirian dan kini terbukti begitu banyak ukuran tangan yang siap membantunya baik itu dari kalangan kerajaan, dari kalangan pendekar, bahkan dari kalangan para pemuda seperti halnya hampir 1000 orang pemuda yang di ketuai oleh Sanjaya putra tunggal hulu balang Diwangkara dengan senang hati mereka rela mempertaruhkan jiwa raganya


apalagi hampir 3 bulan lamanya Sanjaya di gembleng ilmu Kanuragan langsung oleh pendekar pedang Dewa Naga hitam dan juga Satria Abimanyu hingga pemuda itu merasa punya kebanggaan untuk membawa teman-temannya ke medan perang


semuanya sudah siap dengan pertimbangan yang sangat matang kerajaan lingga buana mengibarkan bendera peperangan sebagai jawaban untuk bendera peperangan kerajaan gelang-gelang yang di pimpin langsung oleh Prabu Hindun Rancasan yang telah terlebih dulu di kibarkan tidak dapat di hindari lagi peperangan 2 kerajaan pun telah berlangsung tetapi meskipun itu perang besar Prabu Nara Wenda tetap menerapkan aturan dan jika malam tiba peperangan di hentikan itulah yang terjadi


hari ke 3 di Medan perang pendekar pedang Dewa Naga hitam serta Dewi kilat kematian dengan gagahnya menunggangi kuda berada paling depan memimpin pasukan


gadis-gadis itu tau dari kabar yang di dengarnya bahwa di hari ke 3 itu Prabu Hindun Rancasan akan turun langsung ke medan perang hingga ke 2 pendekar wanita itu telah mengatur siasat dengan sebaik-baiknya dengan tujuan untuk meruntuhkan keangkuhan Prabu yang hau kekuasaan itu


pendekar pedang Dewa Naga hitam tidak lagi mengenakan cadarnya dengan kecantikan dan keanggunan nya gadis itu dengan sengaja menebarkan pesona kematian melalui ajian mantra hitam pemikat

__ADS_1


yang mereka tunggu-tunggu akhirnya muncul menunggangi se ekor kuda berwarna hitam lengkap dengan pakaian perang dan juga senjata-senjata pasukannya sebagai andalan kekuatannya


Laras jingga menyambutnya dengan senyuman sini suaranya terdengar lantang


"apa kabar Gusti Prabu akhirnya kita bertemu lagi apakah Gusti Prabu masih mengingat wajahku yang cantik ini?"


melihat Laras jingga wajah Prabu Hindun Rancasan terkesiap tidak dapat di pungkiri betapa terkejutnya. sepertinya Prabu Hindun Rancasan baru menyadari bahwa kejadian beberapa hari yang lalu ternyata perangkap yang sudah di rencanakan


"bedebah perempuan laknat ternyata kau sekutu nya Nara Wenda kurang ajar kau harus menerima akibatnya karna telah memperdaya diriku" wajah Angkara Prabu Hindun Rancasan pun mulai nampak terlihat dengan jelas


tetapi baik itu Laras jingga ataupun Nirwana Wadon Segoro tidak sedikitpun merasa gentar karna mereka yakin bahwa sesungguhnya wajah merah padam itu hanya untuk menutupi rasa takutnya karna telah kehilangan kekuatannya


Dengan nada suara mengejek pendekar pedang Dewa Naga hitam meminta agar Prabu Hindun Rancasan menyerah dan menarik mundur pasukannya


"cuiihhh bedebah terkutuk kalian dengar perempuan-perempuan laknat aku Hindun Rancasan sang Raja penguasa di muka bumi pantang untuk menyerah, Braja Gonta, Sara dipa, Salaka dompa kalian hadapi perempuan terkutuk itu dan aku akan menghadapi perempuan yang sombong yang satu ini akan ku hancurkan wajahnya yang cantik itu dengan senjata pusaka ku"


Prabu Hindun Rancasan memerintahkan 3 orang andalan nya untuk menghadapi Dewi kilat kematian dan dia sendiri akan menghadapi pendekar pedang Dewa Naga hitam


di hari ke 3 peperangan itu telah banyak korban berjatuhan yang lebih parah lagi korban dari kerajaan gelang-gelang entah apa yang telah terjadi padahal di waktu-waktu sebelumnya pasukan perang gelang-gelang di akui oleh semua kalangan pasukan yang sangat tangguh dan sulit di kalahkan. entah mungkin karna pasukan perang lingga buana di pimpin oleh para pendekar sakti dari banyak perguruan atau mungkin karna adanya satria-satria utusan Dewa Langit yang berada di tengah-tengah para pendekar, atau ada penyebab lainnya

__ADS_1


tiba-tiba suara lantang menyeruak masuk untuk menghentikan peperangan


"hentikan peperangan hentikan peperangan. tarik mundur pasukanmu Nara Wenda kalian lihat ini aku tidak akan segan-segan memenggal gadis ini jika tidak menarik pasukan mu Nara Wenda"


Senopati Sangkara Geni dengan tegaknya duduk di atas punggung kuda dengan seorang gadis sebagai Sandra yang ternyata Putri Ken Rara Putri Prabu Gandara seta dari kerajaan hilir jati


hampir saja Prabu Nara Wenda narik mundur pasukannya karna apa yang di lihatnya jika saja tidak ada suara lantang lainnya berteriak dari arah barat


Panji gara yang baru saja muncul dengan prajurit-prajurit hilir jati dan juga panglima Nara aji


"bohong jangan dengarkan Senopati edan itu asal kalian semua tau dia itu seorang penyihir dan apa yang kalian lihat itu hanya tipu daya sihirnya dan kalian lihatlah Putri Ken Rara ada bersama kami. lanjutkan peperangan selangkah lagi kita akan meraih kemenangan"


suara Panji gara telah mengembalikan semangat seluruh pasukan lingga buana karna memang benar adanya Senopati Sangkara Geni selain Senopati andalan kerajaan gelang-gelang tetapi juga seorang penyihir ulung


"kekuatan sihir mu tidak berlaku disini Sangkara Geni" terdengar suara seruan seseorang yang membuat Senopati Sangkara Geni hatinya merasa ciut


"rupanya dirimu Trenggana aku merasa tidak lagi mempunyai urusan denganmu lalu apa yang membuat kau berada di permukaan bumi ini? jangan katakan untuk mengejar diriku?"


"jangan khawatir Sangkara Geni hanya satu yang kau harus tau dimana dirimu menyebarkan kejahatan dan menggunakan sihir mu untuk menghancurkan kebaikan maka aku tidak akan pernah diam dan telah ku saksikan dengan mata kepala ku sendiri kau telah melanggar perjanjian maka dari itu ikutlah denganku untuk menghadap Dewa Langit dan mempertanggung jawabkan perbuatanmu" suara Trenggana lirih namun tegas

__ADS_1


BERSAMBUNG


__ADS_2