
"ada sosok makhluk yang menunggunya sebangsa jin kesaktian nya sanggup meruntuhkan gunung, yang bernama kala murka. kau harus siap menghadapi mahluk itu tetapi sebelumnya kita harus menyempurnakan terlebih dahulu ajian mantra hitam pemikat
untuk menyempurnakan nya kau akan ku antar ke puncak gunung singgaru tetapi untuk seisi kitab pusaka mantra hitam pemikat kau harus berendam di dalam telaga hitam. waktunya saat malam purnama penuh tepatnya malam Jum'at Kliwon untuk menunggu malam itu kita hanya tinggal menghitung hari"
"sekarang sudah sore" biyung ratu embok melihat ke atas langit "kita pulang saja ke goa"
biyung ratu embok dan Mayang bangkit dari duduknya lalu mereka meninggalkan tempat latihan
"seperti biasanya Mayang menyiapkan makanan untuk makan malam mereka
sambil bercengkerama penuh kegembiraan
mereka pun menyantap makanan"
"pagi-pagi sekali Mayang sudah bangun dari tidurnya lalu keluar goa untuk menyambut mentari pagi. biasanya Mayang suka berjemur untuk menyegarkan tubuhnya"
"tiba-tiba entah dari mana datangnya se ekor ular sanca kembang ber ukuran besar dan panjang hampir mendekati kaki Mayang suri"
"Mayang pun terkejut sambil melompat dia menjerit kecil tangan nya meraih sebatang kayu kecil yang tergeletak untuk mengusir ular itu"
"tetapi ular itu bukannya pergi melainkan menatap wajah Mayang"
"sssssssssssss" ular itu mendesis sambil menjulurkan lidahnya seperti ada yang ingin di katakan binatang itu pada Mayang
Mayang masih tetap memegang kayu untuk berjaga-jaga kalau-kalau ular itu menyerang dirinya di tengah Mayang ketakutan biyung ratu embok muncul sambil menghampiri ular sanca itu
"ada apa cipo apa ada pesan dari tuan mu sehingga kau datang ke goa ku?" tanya biyung ratu
seakan mengerti pada ucapan biyung ratu embok "cipo membuka mulutnya lebar-lebar lidahnya menjulur keluar"
ada sesuatu dalam mulut cipo yang hendak di berikan terhadap biyung ratu embok
"tanpa sedikitpun rasa takut ratu embok menjulurkan tangannya ke mulut cipo"
gulungan kulit menjangan sebesar ibu jari sudah berada di tangan ratu embok
"ratu embok pun membukanya serta membaca tulisan pada kulit menjangan itu"
Mayang menyaksikan kejadian itu dengan rasa takjub
biung ratu embok menoleh ke arah Mayang lalu berkata
"ada yang ingin bertemu kita Mayang
ular besar ini suruhannya.
oiya apa kalian sudah berkenalan?"
tanya ratu embok
seperti ada komando Mayang dan cipo menggelengkan kepala secara bersamaan
"Kik Kik kik" biyung ratu embok tertawa cekikikan merasa lucu melihat kejadian itu
biyung ratu embok membungkukkan badan tepat di samping cipo sambil mengelus kepala ular itu. "cipo kenalkan ini muridku namanya Mayang suri kau lihat cipo betapa cantiknya dia" ular besar itu mendongakkan kepalanya tanda mengerti
ratu embok meraih tangan Mayang lalu di letakkan di atas kepala cipo
"Mayang ini cipo bintang ini tidak buas bahkan dia sangat baik namanya cipo dia memiliki tuan
__ADS_1
setelah mengenalnya kau akan menyukai nya"
Mayang mendekatkan wajahnya ke wajah cipo
kedua tangannya memegang cipo sambil tersenyum manis Mayang berkata
"aku minta maaf cipo aku ketakutan saat melihat mu. hampir saja aku memukul mu tadi
salah mu sendiri mengapa mengejutkan ku
sekali lagi aku minta maaf"
"cipo pun mengedipkan mata pada Mayang tanda dia memaafkan nya"
"he he he" Mayang tertawa senang
"baiklah cipo mulai saat ini kita berteman"
Mayang pun memeluk cipo
"baiklah anak-anak" biyung ratu embok bicara
setelah Mayang dan cipo saling memaafkan
"cipo kami hendak siap-siap dulu kau mau menunggu disini atau mau ikut ke dalam?"
"cipo menelungkupkan wajahnya ke tanah itu artinya dia hendak menunggu di luar saja"
"kik kik kik" Mayang tertawa cekikikan
senang sekali melihat tingkah binatang itu
tidak lama kemudian guru dan muridnya sudah berada di luar goa kembali
tanpa menunggu perintah "dari punggung cipo keluar sayap"
biyung ratu embok meraih tangan Mayang lalu menariknya untuk menaiki punggung ular besar itu. setelah keduanya duduk tenang
"cipo pun membawa mereka terbang"
"seumur hidup baru kali ini Mayang berada di atas awan dibawa terbang oleh se ekor ular
Mayang memegang erat tubuh cipo sepertinya dia takut terjatuh"
"cipo seakan mengerti ketakutan Mayang cipo menggodanya dengan memiringkan tubuhnya yang sedang melayang di udara"
"Mayang menjerit pelukan nya semakin erat"
biung ratu embok hanya tertawa saja melihat hal seperti itu
tetapi meski begitu Mayang sangat menikmati pemandangan di bawah sana
"sungguh mengagumkan. hamparan sawah yang hijau. bukit-bukit kecil. sungai-sungai
mengalirkan air nya dengan tenang
sesekali burung-burung menyambar tangan Mayang. sungguh indah ciptaan mu oh
hiyang Widhi" bisik hati Mayang
__ADS_1
menjelang siang hari merekapun tidak di tempat tujuan "tubuh cipo menukik ke bawah untuk mendarat"
Mayang tersentak kaget dia tidak menduga kalau cipo akan menukik dengan tiba-tiba
biyung ratu embok melompat terlebih dahulu
sedangkan Mayang masih terduduk di punggung cipo dengan napas terengah-engah
biyung ratu embok berteriak
"Mayang cepatlah kau turun"
"Mayang menoleh sambil mengangguk
saat Mayang menarik sebelah kakinya berniat untuk turun tanpa diduga cipo memiringkan tubuhnya sehingga Mayang jatuh tersungkur guling-guling di tanah"
"cipo pun cepat-cepat pergi sepertinya dia takut di buru Mayang"
sambil bangkit berdiri Mayang pun menggerutu
"awas kau kan ku balas nanti"
biyung ratu embok menepuk bahu Mayang
bibirnya mengulung senyum
"ayo Mayang kita kesana" ratu embok menunjuk sebuah gubuk tidak jauh dari mereka berdiri
tiba-tiba pintu pondok terbuka
"kalian sudah datang? silahkan masuk"
sebuah suara mempersilahkan mereka masuk
"sosok peria tua berambut putih. berjanggut putih. serta mengenakan pakaian serba putih tengah duduk bersila di atas bale"
"tanpa menunggu perintah ratu embok
biyung ratu embok dan Mayang pun duduk di bale yang lain"
"Abi rawa penguasa gunung simagong-gong bergelar pendekar jubah putih beliau lah yang ada di hadapan mereka saat ini
"sengaja aku undang kalian" resi Abi rawa buka suara "aku ingin memastikan betapa ganasnya racun itu" resi Abi rawa menatap Mayang
hati nya bergetar ada rasa iba yang sangat dalam "kemarilah Nini aku ingin melihat nya lebih dekat"
Mayang menoleh ke arah guru nya biyung ratu mengangguk tanda memberi ijin
"Mayang suri maju kehadapan Resi Abi Rawa
di pedangnya pergelangan tangan Mayang
nadi nya cukup normal tegas Resi
lalu mengangkat dagu Mayang di tatapnya wajah yang sudah hancur itu dengan tatapan mata prihatin"
setengah memohon biyung ratu embok bertanya "apakah wajah muridku masih bisa di pulihkan? apapun resikonya akan aku hadapi sesulit apapun caranya akan aku lakukan"
nada suara biyung ratu embok penuh harap
__ADS_1
BERSAMBUNG