
tanpa menunggu perintah Mayang suri secepat kilat melompat ke tepi dinding goa tempat dimana pedang pusaka pemburu iblis menancap, tangan Mayang suri meraih gagang pedang yang ternyata berbentuk kepala rajawali perlahan-lahan di tariknya pedang itu memang tidak sulit tetapi saat pedang tercabut dinding goa bergetar hebat
"Dewi cepat kembali ke punggung ku kau harus meninggalkan goa ini sebelum goa ini runtuh" Resi baya berteriak agar Mayang suri segera meninggalkan goa itu
"cepat lah pergi Dewi tinggalkan goa ini"
setibanya di tepi danau Resi baya kembali mengingatkan,
Mayang suri menatap buaya itu sorot matanya menyimpan rasa khawatir,
sepertinya Resi baya mengerti akan ke khawatiran gadis itu pada dirinya
"jangan hiraukan aku Dewi tidak akan terjadi apa-apa pada diriku, cepat keluar karna goa ini akan segera runtuh"
Resi baya memberi perintah keras
memang benar getaran getaran di dalam goa itu semakin hebat setelah sekilas memandang Resi baya Mayang suri pun segera berlari keluar goa
"bummmmm bummmmm" suara gemuruh di iringi dentuman-dentuman keras menggelegar memekakkan telinga
Mayang suri menghela napas keringatnya bercucuran matanya menatap percikan-percikan api yang keluar dari letupan gunung hantu
dari kejauhan terdengar suara orang yang tengah berbincang-bincang semakin lama suara orang-orang itu semakin dekat ke arahnya, Mayang suri mencari-cari tempat untuk bersembunyi dia tidak ingin keberadaanya di tempat itu diketahui oleh mereka. karena tidak ada pilihan Mayang suri melompat keatas sebuah pohon yang daunnya cukup rindang dan juga gelap karena memang saat itu masih malam,
Mayang suri mengintip dari sela helai-helai daun
siapa orang-orang yang baru tiba itu
__ADS_1
tiga orang laki-laki bertubuh kekar dan satu perempuan berwajah cantik bertubuh tinggi semampai mereka semua menggunakan pakaian serba hitam dan ikat kepala hitam pula sebilah pedang bergantung di bahunya masing-masing
"coba kalian lihat" seorang yang paling tua buka suara "gunung hantu ini telah meletus dan hancur itu artinya seseorang telah mengambil pedang pusaka pemburu iblis yang dikenal diluar pedang dewa rajawali"
"bertahun-tahun kita menunggunya, keparat rupanya ada yang mendahului kita kakang" satunya lagi buka suara
"menurut kakang siapa orang yang telah berani mengambil pedang pusaka incaran kita?" kini si pendekar wanita angkat bicara
"entahlah aku belum bisa memastikan"
yang mereka panggil kakang kembali buka suara "sebaiknya kita tetap disini sampai letupan gunung itu reda barangkali saja orang itu masih di dalam goa dan tertimbun reruntuhan"
Mayang suri yang berada di atas pohon tersenyum geli mendengar percakapan mereka "rupanya mereka memburu pedang pusaka ini, kalau aku tidak salah dengar mereka menyebut pedang pusaka ini pedang dewa rajawali, tapi siapa keempat pendekar itu aku tidak pernah bertemu mereka sebelumnya" Mayang suri bergumam sendiri
tiba-tiba mata gadis itu menangkap sesosok bayangan dari balik semak yang juga menuju ke tempat itu suaranya terdengar lantang dari nada suaranya rupanya dia seorang perempuan
Mayang suri terus mendengarkan percakapan mereka
"oh rupanya mereka ke empat pendekar sakti berdarah biru yang pernah diceritakan oleh Resi guru purba kesa, lalu siapa pendekar wanita itu?" Mayang suri terus memperhatikan mereka
"rupanya kau Dewi kilat kematian, ternyata kau menginginkan pedagang pusaka itu namun terlambat seseorang telah mendahuluinya" pendekar tertua berdarah biru membantah tuduhan Dewi kilat kematian
"jangan pernah berbohong padaku pangeran aku tau kalian sangat menginginkan pedang pusaka dewa rajawali untuk mengambil alih kembali kerajaan kalian yang kini berada di tangan orang lain dan juga untuk membebaskan prabu wirananta dari tawanan mereka, aku tau betul masalah yang terjadi pada kalian"
"cukup perempuan liar" kali ini lara kemuning tidak dapat lagi menahan amarahnya "jangan bawa-bawa ayah handa kami juga kerajaan kami, oh aku jadi curiga dari pengetahuan mu aku dapat menyimak jangan-jangan dirimu punya peran dalam peristiwa malam itu? jika memang benar malam ini aku lara kemuning Putri bungsu dari istana Pamanahan tidak akan membiarkan mu berkeliaran di muka jagat ini"
"hi hi hi hi hih, bocah ingusan yang masih bau kencur berani unjuk Gigi menantangku Dewi kilat kematian"
__ADS_1
"kakang tunggu apalagi perempuan liar ini sudah berada di hadapan kita, sudah jelas-jelas dia mengakui kalau perempuan ini bagian dari mereka"
"tunggu dulu Dinda jangan terbawa emosi jangan-jangan hanya memancing kita saja" kali ini pangeran Wira Pati yang angkat bicara
Mayang suri yang sejak tadi mengamati dengan teliti serta mencerna pembicaraan mereka kepalanya mengangguk-angguk gadis ini mengerti prahara yang sedang dialami oleh empat pendekar berdarah biru itu "jangan-jangan yang di katakan putri lara kemuning itu benar kalau si pendekar wanita yang bergelar Dewi kilat kematian itu punya andil dalam peristiwa kerajaan Pamanahan" Mayang suri bergumam sendiri "tapi biarkan saja dulu mereka aku ingin tau bagaimana kelanjutannya"
sementara di bawah pohon pendekar-pendekar itu masih terus bersitegang
"keparat jangan mengalihkan pembicaraan aku datang kesini untuk mengambil pedang pemburu iblis yang sekarang sudah berada di tangan kalian, serahkan secara baik-baik dan nyawa kalian selamat dari ancaman aji kilat kematian ku"
pangeran Wira Geni merasa tidak terima
"Dewi kilat kematian aku sering mendengar nama besarmu tapi dengarkan baik-baik aku Wira Geni pantang berbohong pada siapapun sekalipun itu untuk kebenaran"
"cukup kakang untuk apa kita menjelaskan pada perempuan liar itu dia tidak pantas kita hargai dia tidak pantas mendapat julukan pendekar, julukan yang pantas untuk dirinya boneka mainan juragan-juragan besar"
"keparat, biadab. bocah ingusan berani sekali kau menghina ku" perang adu mulut pun antara Putri lara kemuning dan Dewi kilat kematian tidak dapat di hindari lagi
bukan hanya itu Dewi kilat kematian mulai melancarkan jurus-jurus nya menyerang putri lara kemuning"
melihat kejadian itu ketika pendekar berdarah biru tidak tinggal diam mereka pun turun ke arena pertarungan dilihat dari gerakan-gerakan mereka nampak jelas mereka bukanlah tandingan Dewi kilat kematian Semakin lama mereka semakin kewalahan bahkan pukulan Dewi kilat kematian berkali-kali bersarang di dada Putri lara kemuning dan juga pangeran Wira jagat
"bummm" satu pukulan keras bersarang kembali di dada Putri lara kemuning sehingga tubuhnya terpental lumayan jauh
pangeran Wira Geni dan juga pangeran Wira Pati terus berusaha melindungi adiknya yang sudah terluka parah meski sangat tipis kemungkinan untuk mengalahkan Dewi kilat kematian mereka tetap saling bahu membahu untuk saling melindungi satu sama lain
malam hampir menjelang pagi Mayang suri yang sejak tadi terus memperhatikan merasa tidak tega membiarkan keempat pendekar itu harus hancur di tangan Dewi kilat kematian
__ADS_1
BERSAMBUNG