
Mendengar pembicaraan mereka apalagi menyebut-nyebut kerajaan nareh Senopati Arda merasa penasaran
"maafkan saya pendekar jika saya lancang
tetapi barusaja saya mendengar Dewi pendekar hendak ke nareh!! jika boleh saya tau ada urusan apa pendekar dengan nareh? karna sesungguhnya kami semua tau nareh itu salah satu kerajaan yang bekerja sama dengan gelang-gelang. apakah kerajaan nareh ingin menyewa Dewi pendekar?"
nada suara Senopati Arda terdengar penuh keraguan
dan Satria dapat menangkap nya diapun segera meluruskan nya agar tidak terjadi kesalah pahaman
"maaf Gusti Senopati bukan itu maksud teman saya ini. bukan punya urusan atau ikatan apapun dengan kerajaan nareh
tetapi melainkan ada seorang penghianat yang telah menghancurkan dan memfitnah keluarga sahabatnya. dan beberapa hari yang lalu penghianat itu tertangkap lalu di serahkan ke istana nareh untuk di mintai keadilannya. Gusti Senopati dan juga Gusti hulu balang tidak usah merasa khawatir
dan maksud kami untuk menyusul kesana takut terjadi sesuatu hal yang tidak di inginkan yang menimpa sahabat kami itu"
Satria menjelaskan dengan seksama agar kedua petinggi kerajaan lingga buana itu dapat mengerti
"ooohhhh begitu rupanya!! maafkan kami karna kami telah sedikit salah sangka pada pendekar-pendekar ini" hulu balang Diwangkara merasa lega
"sekarang begini saja pendekar" Senopati Arda Winangun ingin memberi keputusan
"pendekar silahkan selesaikan dulu urusan pendekar. tetapi saya atas nama Gusti Prabu Nara Wenda besar harapan. pendekar-pendekar muda ini Sudi membantu kesulitan kami yang sedang kami hadapi. kira-kira berapa lama pendekar-pendekar berada di nareh?"
Senopati Arda meminta kepastian
"maaf Gusti Senopati untuk membantu kesulitan yang terjadi di lingga buana kami bersedia tetapi mengenai keberadaan kami di nareh saya tidak bisa memastikan. entah dua atau tiga hari. namun saya berjanji saya dan pendekar pedang Dewa Naga hitam akan segera kembali ke dusun ci Tamiang ini begitu urusan kami selesai. mohon doa nya dari Gusti Senopati dan juga Gusti hulu balang agar tidak terjadi hal-hal yang tidak di inginkan"
Satria mewakili Wadon Segoro memberi kepastian kepada kedua petinggi kerajaan lingga buana
"baiklah pendekar saya pegang janji pendekar. dan saya juga punya kepastian untuk menyampaikan hal ini kepada Gusti Prabu. jadi kapan rencana pendekar untuk berangkat ke nareh? dan satu hal saya ingatkan pendekar harus berhati-hati menghadapi orang-orang nareh. sudah saya katakan bahwa Prabu Ganda lawean bekerja sama dengan kerajaan gelang-gelang jadi jangan bertindak gegabah
pendekar selalu berhati-hati dan waspada"
__ADS_1
Senopati Arda Winangun memperingatkan Satria dan Wadon Segoro
"lebih cepat lebih baik Gusti Senopati dan kami akan berangkat sore ini juga. terimakasih Gusti Senopati telah mengingatkan kami"
pendekar pedang Dewa Naga hitam turut bicara
"baiklah jika itu sudah keputusan pendekar tetapi sebelum berangkat bagaimana kalau kita makan bersama dulu karna istri saya sudah sejak tadi telah menyiapkan makanan untuk menjamu tamu-tamu kehormatan saya"
hulu balang Diwangkara mengajak tamu-tamunya meninggalkan ruangan pendopo menuju ke ruangan makan
sebagai jamuan kehormatan dari hulu balang sebagai tuan rumah di meja makan mereka tidak membicarakan hal-hal yang penting yang menyangkut kerajaan. mereka hanya membicarakan hal-hal biasa yang menyangkut pengalaman selama pengembaraan pendekar-pendekar muda sakti mandraguna.
setelah selesai makan Satria dan pendekar pedang Dewa Naga hitam berpamitan lebih dulu lalu kemudian di susul oleh panembahan Senopati suasana di rumah megah itupun menjadi sepi kembali
dalam perjalanan menuju ke nareh sekali lagi Satria memastikan Wadon Segoro
"Suri apa kau benar-benar yakin ingin ke nareh?"
"kau tidak usah khawatir Satria aku sungguh tidak apa-apa lagipula kita tidak harus menyaksikannya dari dekat. kita cukup melihatnya dari jauh saja aku hanya ingin melihat manusia durhana itu di penggal kepalanya" Wadon Segoro menegaskan
hari sudah menjelang sore panas matahari pun sudah mulai teduh sepanjang perjalanan mereka hanya bungkam tidak ada satupun yang mengeluarkan suara hanya sekitar empat jam perjalanan dari kaki bukit ci Tamiang ke wilayah kerajaan nareh mereka pun tiba selepas magrib
memasuki halaman istana terdengar suara keributan di barengi suara dentingan pedang beradu
"Satria apa yang sedang terjadi? mengapa seperti sedang terjadi pertempuran"
Wadon Segoro berbisik
"kau benar Suri aku pun mendengarnya. kau tunggu dulu disini biar aku memastikannya ke dalam" Satria meminta agar Wadon Segoro menunggu di luar
"tidak Satria aku harus tetap bersamamu aku harus memastikan apa yang terjadi pada mereka"
Satria menatap wajah Wadon Segoro di kegelapan. ada garis ke khawatiran diraut wajah wanita itu
__ADS_1
"baiklah jika itu yang kau inginkan. tetapi kita harus berhati-hati"
Satria dan pendekar pedang Dewa Naga hitam saling berpegangan tangan dengan langkah mengendap-endap menyelinap ke balik benteng istana Satria mengintip dari celah gerbang
benar Wisnu Abi Rawa, Sidra giri, dan juga Danda sokana tengah berada dalam keroyokan prajurit perang kerajaan nareh
"apa yang terjadi Suri? mengapa prajurit-prajurit itu mengepung kakak-kakak seperguruan mu?" suara Satria pelan
"entahlah Satria sejak kemarin aku bersamamu. aku tidak ingin terjadi apa-apa pada mereka ayo cepat Satria kita bantu mereka" Wadon Segoro menarik tangan Satria
belum sempat menjawab Wadon Segoro telah melompat melalui benteng menerobos masuk ke dalam kepungan prajurit untuk bergabung dengan Wisnu Abi Rawa
meski hanya penerangan cahaya obor yang berjejer diatas benteng sepasang mata sang pendekar Samber nyawa dapat menangkap bayangan Wadon Segoro dan pemuda yang tidak di kenalnya Wisnu Abi Rawa berteriak
"adik Segoro akhirnya kau datang juga" senyum Wisnu Abi Rawa mengembang karna ada bantuan
"kakang apa yang terjadi? mengapa kalian di kepung prajurit-prajurit ini? lalu dimana manusia terkutuk itu?"
"nanti saja aku jelaskan. minta pada temanmu untuk segera membantu Paman Danda sokana" Wisnu Abi Rawa tidak peduli siapa adanya pemuda yang bersama adik seperguruannya itu karna posisi Danda sokana berada dalam bahaya hingga dia meminta untuk segera membantunya
begitupun juga dengan Satria dia tidak peduli bahkan dia tidak mengenal mereka yang penting baginya segera menyelamatkan orang tua itu. pertempuran terjadi dengan sengitnya pendekar pedang Dewa Naga hitam mengamuk membabi buta di tengah kepungan prajurit
Danda sokana merasa lega karna bertambah kekuatan
puluhan prajurit telah menjadi korban dengan kepala terpisah dari tempatnya di mangsa sepasang pedang Nirwana Wadon Segoro pedang Dewa Naga hitam dan pedang pemburu iblis. begitu juga pedang samber nyawa dan pedang pemburu nyawa mau tidak mau harus memakan korban pula
sedangkan sang pendekar tampan gagah berani Satria Abimanyu hanya menggunakan tangan kosong. tetapi setiap kali pendekar muda itu mengibaskan tangannya belasan prajurit terjungkal muntah darah
BERSAMBUNG
mohon dukungan nya ya kakak
dengan cara like dan komen
__ADS_1
ga susah ko😆😆
terimakasih