
pedang pusaka pemburu iblis di sembunyikan nya pada dahan pohon yang lebih tinggi serta daunya lebih lebat setelah itu diapun melompat ke bawah serta berlari menghampiri mereka dengan suara lantang Mayang suri menghentikan serangan Dewi kilat kematian
"cukup Dewi kilat kematian pendekar macam apa dirimu itu? kau sudah tau mungkin mereka bukan tandingan mu
tapi kau terus saja menyerang mereka dengan serangan-serangan yang mematikan hingga mereka terluka parah, apa sedikitpun hatimu tidak merasa iba?
atau memang kau tidak memiliki hati dan perasaan?" Mayang suri menyerang dengan kata-kata yang tajam dan menusuk hingga amarah Dewi kilat kematian beralih padanya
"biadab siapa kau pendekar dari perguruan mana hingga kau berani mencela diriku"
"maaf Dewi kilat kematian aku bukanlah pendekar seperti dirimu aku hanyalah pengembara yang kebetulan lewat disini"
"dusta aku tidak percaya dengan ucapan mu aku yakin kau juga salah satu pendekar yang sedang memburu pedang pusaka itu"
"nista sekali tuduhanmu, itu benar tetapi aku tak sehina dirimu hendak menghabisi lawan yang sudah tidak berdaya"
"oohhh rupanya kau pendekar yang baru turun gunung hingga kau tidak tahu peraturan jagat persilatan, siapa yang kuat dialah pemenangnya" Dewi kilat kematian berkilah untuk membenarkan dirinya
"ucapan mu ada benarnya, mungkin aku masih mentah tidak mengetahui peraturan jagat persilatan tapi aku tahu rasa hormat
dan aku sangat menghormatimu" ucapan Mayang suri bagaikan pedang yang menusuk jantung Dewi kilat kematian hingga dia tidak lagi dapat menahan amarahnya
Mayang suri sudah menduga hal itu pasti akan terjadi dengan tenangnya kadis bercadar hitam itu menerima serangan murka lawannya "duaarrrr" suara ledakan dari serangan Dewi kilat kematian
namun Mayang suri samasekali tidak bergeming dia hanya menahan serangan demi serangan yang di berikan oleh Dewi kilat kematian
matahari sudah terbit di ufuk timur sehingga tempat itu menjadi agak terang nampak jelas Dewi kilat kematian sudah mulai kewalahan hingga diapun mulai memasang posisi untuk mengeluarkan aji pamungkasnya "Aji petir kematian"
__ADS_1
sebelah tangan kirinya lurus ke atas tangan kanan menyilang di dada dengan posisi kaki setengah kuda-kuda bibirnya mulai merapalkan mantra-mantra
tiba-tiba langit bergemuruh
"zzzzzttt zzzzzttt zder zderr"
kilat bersambaran petir menggelegar
Mayang suri tahu itu diapun tidak tinggal diam saja badannya tgak berdiri kedua tangannya menyilang di dada, kedua matanya terpejam tidak lama kemudian dari tubuh Mayang suri keluar gumpalan asap hitam membungkus sekujur tubuhnya bergulung di ubun-ubun lalu membumbung ke atas bagaikan seekor naga
asap hitam itu terus menghadang kilat-kilat yang menyambar suara ledakan terdengar dimana-mana
kurang lebih tiga puluh menit gumpalan asap hitam itu menyapu ajian petir kematian, hingga akhirnya
"buummmmms" suara ledakan keras terdengar hingga membentuk sebuah kawah di tanah Dewi kilat kematian terpental beberapa ratus meter hingga duduk bersimpuh dari mulut dan hidungnya mengeluarkan darah segar
Mayang suri membuka matanya serta menghela napas dengan lirih dia buka suara "maafkan aku pendekar aku tidak bermaksud menyakiti mu aku hanya tidak bisa membiarkan mu berbuat semena-mena, sekarang pergilah kau masih punya kesempatan untuk hidup dan jangan sia-siakan hidupmu" Mayang suri setengah berpesan pada lawannya yang sudah tidak berdaya
kesalahan besar yang kau lakukan kau tidak membunuhku" setelah mengakhiri kalimatnya Dewi kilat kematian pergi meninggalkan gunung hantu dengan tubuh terhuyung-huyung
mendengar ucapan itu Mayang suri hanya tersenyum "oh iya" dia teringat pada ke empat pendekar yang tengah terluka dan dia wajib menolongnya, dihampirinya ke empat pendekar itu, Mayang suri agak terkejut melihat wajah Putri lara kemuning yang sudah mulai membiru
"maaf pangeran izinkan saya untuk memeriksa luka Putri" dengan sangat hormat Mayang suri meminta izin kepada pangeran Wira Geni yang sedang memeluk adiknya "silahkan Dewi tolong selamatkan adik kami dan terimakasih atas bantuan Dewi"
Mayang suri tidak membuang-buang waktu dia lantas menyibakkan pakaian Putri lara kemuning di bagian atas
"pangeran rupanya Putri lara kemuning terkena racun bisa kelabang hitam dari pukulan Dewi kilat kematian"
__ADS_1
wajah pangeran Wira Pati terkesiap dia sangat ketakutan kalau-kalau adik perempuannya tidak bisa di selamatkan hingga dia bersimpuh di hadapan Mayang suri untuk memohon bantuannya
"Dewi tolong selamatkan adik kami sepertinya Dewi banyak mengenal berbagai jenis racun"
"baiklah pangeran saya akan mencoba berusaha untuk menolongnya, coba tolong ambilkan tujuh helai daun kuping domba dan tolong Carikan air"
"kakang biar aku yang mengambilkan air"
pangeran Wira jagat bangkit meskipun juga dia terluka tetapi tetap berusaha untuk menyelamatkan adik perempuannya
"tidak Rai kau pun terluka, kau tetap disini biar yang pergi mengambilkan air"
pangeran Wira Geni Sebagi kakak tertua dia punya tanggung jawab yang besar pada adik-adiknya, setelah mengangguk pada Mayang suri dia pergi untuk mencari air
tidak lama kemudian pangeran Wira Pati muncul dengan membawa pohon kuping domba segera diserahkannya pada Mayang suri, tidak lama juga pangeran Wira Geni pun muncul membawa air dalam tempurung kelapa
Mayang suri meremas daun kuping domba di kedua tangannya hingga layu di tetesinya dengan air "maafkan saya Putri obat ini sebagai penawar dari luar agar tidak menjalar ke seluruh kulit, memang agak perih tapi tidak lama" sambil menempelkan daun-daun kuping domba yang sudah layu di dada bekas pukulan-pukulan Dewi kilat kematian tadi Mayang suri terus bicara menjaga agar Putri lara kemuning tidak tertidur
"tetesan air tadi akan menyerap ke dalam hingga menghambat menjalarnya racun, sekarang saya butuh sehelai kain untuk mengikatnya agar daun-daun ini tidak lepas" Mayang suri menjelaskan bagaimana cepatnya racun itu menjalar ke seluruh pembuluh darah
pangeran Wira Geni menyerahkan kain hitam pengikat kepalanya dia pun bertanya
"apa racun ini cukup berbahaya?
Dewi siapa sebenarnya Dewi ini? sepertinya Dewi mengenal banyak jenis-jenis racu. apakah adik saya masih bisa di selamatkan Dewi?" dengan lirih pangeran Wira Geni bertutur
"tentu pangeran selama kita punya keyakinan akan adanya keajaiban saya yakin adik pangeran masih bisa di selamatkan" tangan Mayang suri merogoh ke balik pakaian nya mengeluarkan sebuah guci kecil, "kebetulan saya menyimpan penawar racun dari dalam, Putri telanlah pil ini tapi sebelumnya kau harus minum dulu agar tenggorokan mu tidak kering"
__ADS_1
dengan cekatan pangeran Wira Pati meminumkan air dalam tempurung kelapa lalu Mayang suri memasukkan pil penawar ke dalam mulut putri lara kemuning
BERSAMBUNG