
"sudah jangan cemberut begitu, sekarang kau temani aku ke bukit sana untuk mencari rumput ramuan obat. lagipula sudah lama kita tidak kesana, mungkin sekarang rumput-rumput itu sudah banyak yang tumbuh" biyung ratu embok mengajak Mayang suri ke atas bukit sekaligus menghiburnya
"baiklah guru" Mayang suri menjawab pendek
"mereka berdua pun melangkah menuju ke bukti-bukti kecil di tepian jurang, tempat dimana dulu Mayang suri di buang"
tidak harus makan waktu lama mereka pun tiba disana "guru lihat itu" tangan Mayang menunjuk ke arah bebatuan yang pada celah-celah nya banyak di tumbuhi jamur-jamur batu
biyung ratu embok menoleh ke arah yang di tunjukkan muridnya "benar dugaan ku tidak sulit mencari bahan untuk ramuan obat, karena sekarang musimnya tumbuh. tapi nanti saja kau petik jamur-jamur itu, kemarilah dulu ada yang ingin aku tunjukkan"
Mayang suri menghampiri gurunya yang sudah ada di bibir tebing
"kau lihat jurang itu Mayang, dalam dan curam. lalu kau lihat bukit yang disana itu"
biyung ratu embok menunjuk sebuah bukit yang cukup tinggi yang berada di seberang jurang
"kau masih ingat Mayang? dari atas sanalah tubuhmu di lemparkan oleh manusia-manusia yang tidak punya hati dan perasaan. jika saja saat itu aku tidak berada disini mungkin tubuhmu sudah hancur di dalam perut bintang buas"
biyung ratu embok seperti mengingatkan Mayang pada kejadian beberapa tahun yang lalu
bagaikan tersulut api amarah Mayang bergolak memenuhi dada nya
"saya tidak akan pernah melupakan kejadian itu guru, bahkan seumur hidup saya tidak akan merasa tenang jika saya belum bisa menghancurkan biadab-biadab itu. katakan guru kapan waktunya saya untuk saya menyerap seluruh ajian kitab mantra hitam pemikat, serta menyempurnakannya di puncak gunung singgaru? saya ingin secepatnya guru agar saya segera turun gunung untuk mencapai tujuan saya"
Dengan mata berapi-api Mayang menuturkan keinginan nya
biyung ratu embok tersenyum tangannya membelai lembut kepala Mayang
"sabar muridku ini belum waktunya. kau masih harus melewati beberapa tantangan lagi, setelah kau menyempurnakan
ajian mantra hitam pemikat. kau masih harus mengambil sebuah pusaka pedang pemburu iblis yang berada di puncak gunung hantu yang di jaga oleh makhluk-makhluk sebangsa jin" biyung ratu embok menjelaskan
"masih berapa lama lagi guru saya harus melewati masa-masa itu?"
Mayang suri tidak sabar
hari pun sudah mulai siang mereka mengakhiri pembicaraan nya karena harus segera mengambil rumput-rumput untuk ramuan obat, setelah keranjangnya penuh
hampir menjelang sore mereka pun kembali pulang ke goa
__ADS_1
waktu yang ditunggu pun tiba esok pagi menjelang purnama penuh
biyung ratu embok menyiapkan keperluan untuk ritual Mayang suri di telaga hitam
"sekitar pukul sembilan malam setelah semua di persiapkan biyung ratu embok dan Mayang suri berangkat dengan melalui bukit-bukit yang curam serta menyebrangi aliran sungai dengan hanya di terangi cahaya bulan mereka pun tiba di telaga hitam"
Mayang suri menghapus keringat serta mengipas-ngipas badannya dengan sehelai daun timbul kering. Mayang duduk di atas sebuah batu mati
setengah menegur biyung ratu embok bicara pada muridnya
"kita disini untuk ritual Mayang, baru berjalan segitu saja kau nampak kelelahan
cepat jangan buang-buang waktu sebentar lagi purnama tepat di atas kepala, segera persipkan dirimu lepaskan semua pakaian dan kenakan kain ini"
biyung ratu embok melemparkan sehelai kain hitam, dan dengan cekatan menangkapnya lalu melakukan apa yang di perintahkan gurunya
"saya sudah siap guru, sekarang apa lagi yang saya harus lakukan?"
sebetulnya Mayang suri merasa risi dengan keadaan tubuhnya yang hanya terbalut sehelai kain hitam tipis, jika saja situasi nya bukan tengah malam mungkin dia akan malu sendiri
"dengar baik-baik Mayang dalam ritual nanti kau tidak boleh membuka suara dan jangan mengajukan pertanyaan apapun, maka dari itu kau dengarkan baik-baik perintah ku setelah kau berada di tengah telaga hitam itu jangan hiraukan apapun yang kau rasakan, jangan beranjak dari posisi mu sebelum aku memberi perhatian,
Mayang suri melangkah kakinya menapaki air telaga, jika saja tubuh Mayang normal seperti yang lain mungkin saja tubuhnya sudah membeku karna hawa dingin dari telaga itu
selain itu juga air telaga berwarna hitam pekat entah apa penyebabnya sehingga air itu berwarna hitam
"mungkin karena namanya" pikir Mayang suri
"apa kau sudah siap Mayang?" biyung ratu berteriak dari atas sebongkah batu yang terletak di pinggir telaga
"saya sudah siap guru" jawab Mayang singkat
"pejamkan matamu, fokuskan pikiranmu jangan hiraukan suasana telaga ini dan kau hanya mendengar perintah ku"
biyung ratu embok duduk bersila kedua tangannya melintang di dada dia pun mulai bersemedi
tiba-tiba langit bergemuruh
"zzzzztt zzzzzttt, zder zderr"
__ADS_1
petir-petir menyambar bergantian seperti akan turun hujan suasana di telaga menjadi ramai dengan suara-suara yang tidak jelas
satu jam kemudian tiba-tiba dari tubuh biyung ratu embok keluar gumpalan asap hitam membumbung ke udara lalu menukik ke permukaan telaga
"suasana menjadi gelap gulita beberapa kali gumpalan asap hitam itu memutari tubuh Mayang, tubuh Mayang pun bergetar hebat
seakan-akan ada satu kekuatan yang menyedot gumpalan asap hitam itu hingga menyusup ke tubuh Mayang, dan bukan hanya itu saja mendadak air telaga hitam pun terserap masuk ke tubuh Mayang sehingga telaga itu menjadi kering"
"tubuh Mayang perlahan berhenti bergetar
gemuruh di langit mulai reda kilatan petir pun sudah sirna, suasana di telaga kembali ke semula sang purnama pun memperlihatkan dirinya seakan tengah menyaksikan dan merestui ritual Mayang suri"
perlahan biyung ratu embok tersenyum puas ritualnya telah berhasil. biyung ratu embok lalu berteriak
"ritualnya sudah selesai Mayang segeralah naik kita harus segera pulang"
Mayang suri membuka mata bibirnya bergumam "keajaiban apa lagi ini kemana air telaga bukanya saat aku turun tadi air telaga masih penuh?. makhluk apa yang telah meminum air telaga sebanyak ini"
Mayang suri tidak habis pikir menyaksikan keajaiban itu
"Mayang cepatlah naik apa yang kau lihat
sudah ku katakan jangan hiraukan apapun"
biyung ratu kembali berteriak
"Mayang suri terperanjak mendengar teriakan gurunya padahal dia masih penasaran dengan kering nya air telaga tetapi tidak urung juga dia menuruti perintah gurunya"
Mayang suri pun lalu naik keatas tepian telaga serta mengenakan pakaian nya kembali dan mereka pun kembali pulang ke goa hampir jam 3 dini hari mereka tiba disana
dalam hati Mayang masih penasaran dia ingin segera bertanya kepada gurunya
namun niat nya di urungkan karena melihat gurunya sudah nampak kelelahan
BERSAMBUNG
oiya jangan lupa like nya ya biar semangat gituh update nya
dan jangan lupa juga mampir di karya author yang ke 3
__ADS_1
takdir perjanjian