
Kiyai Sa'id Basri menghela nafas beliau sudah mengira putra sulungnya akan mempertanyakan hal itu
"entahlah Umar Rama sendiri belum dapat memastikan apakah mayat bangkit itu Abi baka atau ada orang lain yang sengaja memanfaatkan situasi, hanya ada satu orang yang dapat memastikan nya dialah teman terdekatnya Abi baka namanya Gura Waka tapi Rama sudah meminta bantuan dan menyebarkan orang-orang kepercayaan Rama untuk mencari tahu keberadaan Gura Waka, sebaiknya kita tunggu saja kabar dari mereka" dari nada suaranya kiyai Sa'id Basri berusaha menahan putranya agar tidak melakukan hal-hal yang tidak diinginkan nya cukup putra keduanya saja yang mencoreng nama baiknya
"tidak Rama saya tidak bisa terus tinggal diam saya sudah kehilangan istri saya Rama, dan Sekar Kemala belum tentu dapat di sembuhkan kembali dengan kondisi yang seperti ini apakah saya harus tetap diam berpangku tangan serta meratapi nasib? saya tidak perduli siapapun adanya mayat bangkit itu sesakti apapun dia saya harus menemukannya dan saya harus menuntut balas" betapa tegasnya nada suara Syaid Umar bagaikan petir yang menggelegar di telinga kiyai Sa'id Basri
"maafkan saya Rama dengan atau tanpa restu Rama saya akan berangkat hari ini juga padepokan ini dan juga santri-santrinya sudah saya percayakan pada Fajar dan Amir, mengenai Sekar Kemala saya sudah meminta Kholiq untuk mengantarkan nya ke perguruan kerangka jingga dan besok lusa Kholiq akan membawanya kesana, tolong pamitkan saya pada Biung Rama saya tidak akan kuasa jika harus menemuinya terlebih dulu
saya titipkan juga santri-santri saya pada Rama saya mohon diri Rama"
Syaid Umar meraih tangan Rama nya setelah mencium nya diapun pergi meninggalkan padepokan yang telah bertahun-tahun di rawatnya dengan baik kini dia harus meninggalkan nya dengan hati yang teriris tanpa menoleh kebelakang tekadnya sudah bulat apapun yang terjadi dia harus menemukan biadab-biadab itu yang telah menghancurkan kebahagiaan nya dan kiyai Sa'id Basri hanya dapat memandangi kepergian putra sulungnya dengan hati pedih
(begitulah sedikit telah kami ceritakan mengenai latar belakang Wisnu Abi Rawa atau pendekar samber nyawa yang semula bernama Syaid Umar Al Hasid sang ketua padepokan tapak suci)
flashback done
Mayang suri yang tengah berada di sebuah dusun kecil yang tergeletak di kaki gunung kapur keberadaannya disana memenuhi permintaan dari ketua dusun kecil itu untuk mengatasi perihal perampokan yang kerap terjadi belakangan ini, pertemuan yang tidak disengaja dengan pendekar pemburu nyawa siang tadi yang ternyata laki-laki yang selama ini dicintai dan di tindakannya sehingga membuat pikiran Mayang suri atau pendekar pedang Dewa Naga hitam menjadi tidak karuan bahkan di setiap sudut kamar tempat dirinya beristirahat yang ada hanya bayangan laki-laki itu, yang menjadikan dirinya tidak mengerti pertemuan itu hampir saja mengorbankan nyawanya
"apa yang telah membuat dirimu berubah kakang? kau bukan kakang Sidra giri yang ku kenal dulu kini dirimu telah menjadi milik orang-orang yang berjiwa kerdil dan serakah, kenapa kau lakukan itu? apa karena uang semata atau karena yang lainnya? oohhh Hiyang Agung mengapa takdir selalu bersikap tidak adil bagiku
__ADS_1
apakah aku tidak pantas menerima keadilan takdir MU Hiyang Agung dan yang lebih menyakitkan lagi takdir MU telah menjadikan kami satu perguruan, tak lama lagi kami sama-sama harus menjalankan tugas dari guru dan itu artinya untuk beberapa waktu lamanya aku harus berada didekatnya hingga tugas itu selesai, haruskah aku mengundurkan diri mengingkari janjiku pada guru da ke empat pendekar berdarah biru? oohhh Hiyang Agung apa yang harus saya lakukan mengapa kehidupanku yang kedua kalinya ini justru malah semakin membuatku terpuruk?"
ditengah rintihan dan keluh kesah pendekar pedang Dewa Naga hitam dari luar terdengar teriakan seseorang
"ketua dusun keluarlah aku datang untuk menagih janjimu untuk memberikan upeti padaku dan sekarang aku datang untuk mengambil upeti yang kau janjikan itu
jangan bersembunyi kau kepala dusun aku hitung sampai sepuluh dan jika dalam hitungan yang ke sepuluh kau tidak keluar juga maka rumahmu dan juga rumah penduduk-penduduk lain akan aku kebumi hanguskan"
teriakan ancaman dari luar membuat kepala dusun dan istrinya menjadi panik dan ketakutan dengan tubuh yang menggigil kepala dusun menghampiri kamar pendekar pedang Dewa Naga hitam dengan suara yang perlahan dia memanggil Mayang suri sambil mengetuk pintu
"pendekar... pendekar..apa kau masih terjaga?"
Mayang suri turun dari ranjangnya serta membuka pintu kamar dengan posisi yang sudah siap siaga "aku mendengarnya kisanak kalian tetap disini biarkan aku yang menghadapi mereka" tanpa menunggu jawaban Mayang suri langsung keluar
"HA...ha..ha..hah akhirnya kau keluar juga kepala dusun mana upeti itu segera berikan padaku"
"akulah upetimu bedebah, tapi sebelumnya katakan dulu siapa kalian dan dari kalangan mana kalian? agar aku mudah mengantar mayat-mayat kalian"
"pucuk dicinta ulam pun tiba" seseorang keluar dari balik pohon yang tidak jauh dari pekarangan rumah, kalimat itu, wajah menjijikkan itu, Mayang suri memicingkan mata memastikan apakah dia yang telah menjadikan alasan untuk Mayang suri bertahan hidup
__ADS_1
"rupanya dusun sekecil ini memiliki harta yang berlimpah sehingga dapat menyewa pendekar bayaran yang namanya tengah mengumandang pula, pendekar pedang Dewa Naga hitam sulit ku percaya ternyata keberuntungan selalu berada di tangan ku
sekali tepuk dua lalat, aku tidak harus lagi bersusah payah untuk mencari"
hampir saja Mayang suri tidak dapat menahan emosinya
"bedebah, biadab jangan banyak bicara yang aku tau kalian hanyalah perampok murahan yang bermulut besar dan biasanya hanya menindas penduduk disana sini
tetapi bagiku kalian bukanlah apa-apa dan kebetulan tanganku sudah gatal untuk mendapatkan mangsa, dan mangsa-mangsa itu telah berada dihadapan mataku"
"jumawa aku sering mendengar namamu pendekar pedang Dewa Naga hitam tetapi baru kali ini aku berjumpa denganmu dan aku ingin tau sejauh apa kehebatan dan kesakitan nama besarmu itu?"
(Ayo penasaran ya siapa kepala perampok itu hehe maaf author lupa)
Mayang suri semakin geram ingin rasanya dia segera mematahkan leher orang yang tengah berada dihadapannya bertahun-tahun dia menyimpan rasa dendam karena dialah orang yang telah menghancurkan hidupnya Demang karja dari Kuta raja Kademangan mekar jaya
tubuh Mayang suri bergetar hebat namun tiba-tiba suara bisikan lembut disusupkan angin ke telinga
"sabar Mayang jangan bertindak gegabah dia bukanlah Demang karja yang dulu, yang kau hadapi kini Demang karja kepala dari kelompok besar perampok yang disebar luaskan di berbagai tempat jelas dia memiliki kekuatan yang melipat ganda, satu hal lagi dia memiliki Aji Malih raga
__ADS_1
wujudnya monster mengerikan yang harus kau lakukan cari kelemahannya pancing terus emosinya"
BERSAMBUNG